Ketaatan Berbasis Ketaqwaan - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, May 29, 2020

Ketaatan Berbasis Ketaqwaan


Hadi Sasongko (Direktur POROS)

Sejak awal, Nabi Muhammad saw. menanamkan ajaran Islam ke dalam diri para Sahabat. Mereka disatukan pemikiran dan perasaannya dengan akidah Islam. Pemikiran (afkar), pendapat (ara) dan hukum (ahkam) yang mengikat mereka sama. Upaya Rasulullah saw. menyatukan semua itu di antaranya disebutkan dalam al-Quran:

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الأمِّيِّينَ رَسُولا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ

Dialah Yng mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rsul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menycikan mereka dan mengajari mereka Al-Kitab dan Hikmah (as-Sunnah). Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata (QS al-Jumu'ah [62]:2).

Beliau memerintahkan Sahabat dan umat Islam sesudahnya untuk berpegang pada al-Quran dan sunnahnya jika tidak ingin tersesat (HR at-Tirmidzi).

Bukan hanya itu, Rasulullah dalam geraknya menyatukan kepemimpinan. Secara nyata, Beliaulah yang langsung memimpin pergerakan bersama para Sahabat. Dalam banyak hadis, seperti telah disinggung di atas, Beliau mewajibkan untuk menaati pimpinan (amir). Ketidaktaatan bawahan pada komando pimpinan akan merugikan dan memporak-porandakan keseluruhan. Sebagai contoh sederhana adalah peristiwa Perang Uhud. Karena merasa perang sudah selesai dan menang, pasukan pemanah segera turun. Padahal Rasulullah saw. telah mewanti-wanti agar mereka tetap di tempat, tidak boleh turun hingga ada komando berikutnya. Akibatnya, pasukan Quraisy dapat memukul balik pasukan kaum Muslim ketika itu. Keporakporandaan terjadi hanya karena 'kesalahan yang disangka kecil' namun ternyata vital: mengabaikan ketaatan kepada pimpinan.

Merujuk pada hal tadi, siapapun yang mengamati sirah Rasulullah saw. akan menyimpulkan bahwa setidaknya ada dua kesatuan yang dibangun dan dicontohkan oleh Beliau: kesatuan pemikiran (afkar), pendapat (ara) dan hukum (ahkam); kesatuan kepemimpinan.

Kesatuan jenis pertama meniscayakan adanya ide-ide yang diadopsi dan dikembangkan oleh kelompok dakwah (afkar mutabannat).

Ketaatan dan keterikatan terhadap afkar mutabannat akan menyatukan pemikiran dan perasaan. Adapun ketaatan kepada amir dalam kesatuan kepemimpinan akan menjadikan satunya langkah dan gerak dakwah. Oleh sebab itu, riak-riak penyimpangan dari afkar mutabannat tidak boleh ditoleransi. Begitu juga penampakan ketidaktaatan atau bahkan upaya merobohkan kepercayaan (dharb tsiqah) kepada pimpinan; harus segera diselesaikan. Jika tidak, kerugian akan menimpa gerakan dakwah secara keseluruhan. Sebaliknya, kepercayaan dan ketaatan kepada amir merupakan energi tersendiri untuk makin mensolidkan internal dan memofuskan upaya melawan musuh-musuh Islam dan memenangkan perjuangannya.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here