Khilafah Itu Urgen? - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, May 29, 2020

Khilafah Itu Urgen?


M. Ismail (Direktur ELSAD)

Saat ini umat Islam tengah menghadapi berbagai masalah. Secara politik, umat Islam di seluruh dunia yang berjumlah lebih dari 1,6 miliar, yang mestinya bersatu, tercerai-berai, sehingga membuat umat  tidak memiliki kekuatan untuk melindungi diri dari berbagai makar yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam. Apa yang saat ini tengah terjadi di Palestina, Suriah, Afganistan, Rohingnya- Myanmar dan tempat lain, termasuk di negeri ini, membuktikan hal itu.

Secara ekonomi pun, meski sebagian negeri Muslim cukup kaya, tak sedikit umat Islam yang tinggal di negara-negara lain hidup dalam kemiskinan. Akibat miskin, muncul berbagai persoalan sosial seperti kriminalitas, pemurtadan, kualitas SDM yang rendah sehingga mudah dijadikan bulan-bulanan pihak lain, persis seperti yang digambarkan oleh Nabi saw., bahwa umat Islam bagaikan makanan yang diperebutkan oleh orang-orang lapar dari berbagai arah. Semua itu tak lain berpangkal dari penerapan sekularisme dan negeri-negeri Muslim dalam cengkeraman neoimperialisme sejak syariah dan Khilafah tidak lagi ditegakkan.

Syariah yang kita perjuangkan ini diperlukan untuk menggantikan sistem sekularisme sehingga Islam rahmatan lil alamin bisa terwujud. Adapun Khilafah diperlukan untuk menyatukan Dunia Islam. Dengan persatuan itu kekuatan umat akan terbentuk. Dengan kekuatan itu juga kita bisa melindungi harta, jiwa dan kehormatan umat Islam di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Khilafah adalah ajaran Islam Secara syar'i, dalil kewajiban Khilafah ada 4 (empat) yaitu: al-Quran, as-Sunnah, Ijmak Sahabat dan Qiyas Syar'iyyah. Dalil al-Quran, antara lain firman Allah SWT dalam QS an-Nisa’ ayat 59: Yaa ayyuhalladzîna aamanuu athi'u AlLaha wa athi' ar-Rasul wa uli al-amri minkum. Artinya, "Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya serta ulil amri di antara kalian."

Wajh al-istidlal atau cara penarikan kesimpulan dari dalil dari ayat ini adalah, bahwa ayat ini telah memerintahkan kaum Muslim untuk mentaati ulil amri di antara mereka. Perintah untuk mentaati ulil amri ini sekaligus menjadi dalil tentang kewajiban mengangkat ulil amri. Pasalnya, tak mungkin Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk mentaati sesuatu yang tidak ada. Jadi ayat ini menunjukkan bahwa mengangkat seorang imam (khalifah) sebagai ulil amri bagi umat Islam adalah wajib.

Dalil al-Quran lainnya adalah firman Alllah SWT dalam QS al-Maidah ayat 48:  Fahkum baynahum bimâ anzala AlLâhu wa la tattabi' ahwa'ahum 'ama jaa'aka min al-haqq. Artinya, "Putuskanlah perkara mereka menurut apa yang telah Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu."

Wajh al-istidlal dari ayat ini adalah, bahwa Allah telah memerintahkan Rasulullah saw. untuk memberikan keputusan hukum di antara kaum Muslimin dengan wahyu yang telah Allah turunkan, yakni syariah Islam. Kaidah ushul fikih menetapkan bahwa perintah kepada Rasulullah saw. hakikatnya adalah perintah kepada umatnya selama tidak dalil yang mengkhususkan perintah itu hanya kepada Rasulullah saw. saja. Faktanya, tak ada dalil yang mengkhususkan perintah ini hanya kepada Rasulullah saw. Artinya apa? Artinya, perintah tersebut berlaku juga untuk kaum Muslim seluruhnya hingga Hari Kiamat nanti. Perintah untuk menegakkan syariah Islam ini tidak akan bias dilaksanakan secara sempurna kecuali dengan adanya seorang imam (khalifah). Dengan demikian ayat di atas, juga seluruh ayat yang memerintahkan berhukum dengan wahyu yang telah Allah turunkan hakikatnya adalah dalil atas kewajiban mengangkat seorang imam (khalifah) yang akan menegakkan syariah Islam itu.

Adapun dalil dari as-Sunnah banyak, antara lain, Rasul saw. bersabda sebagaimana diriyatkan oleh Imam Muslim, "Man maata wa laysa fii 'unuqihi bay'at[un] maata miitat[an] jâhiliyyat[an]." Artinya, "Siapa saja yang mati, sedangkan di lehernya tidak ada baiat (kepada seorang imam/khalifah), maka matinya adalah mati jahiliah."

Dalalah (penunjukkan makna) dari hadis di atas jelas, yakni bahwa jika seorang Muslim disebut mati jahiliah (mati dalam keadaan berdosa) karena tidak berbaiat, berarti baiat itu wajib hukumnya. Padahal baiat itu tidak diberikan kecuali kepada seorang imam (khalifah). Jelas, hadis ini menunjukkan bahwa mengangkat seorang imam (khalifah) itu wajib hukumnya.

Sebetulnya masih banyak dalil lain dari as-Sunnah yang tentu tidak bia disebutkan semuanya di sini. Adapun dalil Ijmak Sahabat telah disebutkan oleh para ulama. Imam Ibnu Hajar al-Haitami, misalnya, dalam Ash-Shawa'iq al-Muhriqah,  menyatakan, para sahabat—semoga Allah meridhai mereka—telah bersepakat bahwa mengangkat seorang imam (khalifah) setelah berakhirnya zaman kenabian adalah wajib; bahkan mereka menjadikannya sebagai kewajiban paling penting ketika mereka menyibukkan diri dengan kewajiban itu dengan menunda kewajiban menguburkan jenazah Rasulullah saw.

Selanjutnya dari Qa'idah Syar'iyyah, ada kaidah yang berbunyi: Ma la yatim al-wajib illa bihi fa huwa wajib[un]. Artinya, "Jika suatu kewajiban tidak terlaksana kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu wajib pula hukumnya."

Sudah diketahui bahwa terdapat kewajiban-kewajiban syariah yang tidak dapat dilaksanakan secara sempurna oleh individu, seperti kewajiban melaksanakan hudûd bagi pelaku zina; kewajiban jihad untuk menyebarkan Islam; dsb. Karena kewajiban-kewajiban ini membutuhkan kekuasaan (sulthah), yang tiada lain adalah Khilafah. Karena itu sesuai kaidah syariah di atas, Khilafah wajib hukumnya.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here