Mentaati Seorang Amir Yang Adil - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, May 29, 2020

Mentaati Seorang Amir Yang Adil


Hadi Sasongko (Direktur POROS)

Tidak mungkin ada kejamaahan tanpa ada kepemimpinan. Karenanya, adalah wajar belaka ketika Allah Swt. saat memerintahkan berjuang dalam kejamaahan sekaligus mewajibkan ketaatan kepada pimpinan (amir). Rasulullah saw. bersabda:

وَلاَ يَحِلُّ لِثَلاَثَةِ نَفَرٍ يَكُونُونَ بِأَرْضِ فَلاَةٍ إِلاَّ أَمَّرُوا عَلَيْهِمْ أَحَدَهُمْ

Tidak halal bagi tiga orang yang berada di manapun di bumi ini, tanpa mengambil salah seorang di antara mereka sebagai amir (pimpinan) (HR Ahmad).

Hadis ini menunjukkan kewajiban adanya pimpinan dalam kelompok, apalagi kelompok yang memperjuangkan tegaknya Islam.

Inti dari suatu kepemimpinan dalam kejamaahan adalah wajib memberikan ketaatan kepada pimpinan. Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ

Siapa saja yang membenci suatu perintah dari amirnya hendaklah ia bersabar (HR al-Bukhari).

Nabi Muhammad saw. dalam hadis sahih tersebut menegaskan kewajiban menaati pimpinan. Namun, ketaatan kepada amir harus disertai dengan sikap kritis. Ketaatan tersebut tidak boleh dalam kemaksiatan kepada Allah Swt. Namun, tidak boleh terjadi dengan dalih kekritisan justru ketaatan itu sendiri yang dihilangkan. Ingat, salah satu daya kritis itu adalah terikat dengan kebijakan/keputusan pimpinan/amir sebagai pemilik kewenangan yang sah secara syar'i.

Kewajiban menaati perintah amir berulang kali ditegaskan oleh Nabi Muhammad saw. Diceritakan dari Irbadl bin Sariyah, suatu hari, seusai mengimami shalat subuh Rasulullah saw. mengarahkan pandangannya kepada para Sahabat. Beliau menasihati mereka dengan suatu nasihat yang begitu membekas di hati para Sahabat hingga membuat mereka berlinang air mata dan jiwa mereka berguncang. Di antara Sahabat bahkan ada yang berkomentar, "Wahai Rasulullah, nasihat ini seakan-akan merupakan nasihat perpisahan. Lalu apa yang engkau pesankan kepada kami?" Nasihat itu adalah:

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ

Aku mewasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, mendengar dan menaati pemimpin sekalipun ia dulunya adalah seorang budak dari Habsyah (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi).

Penyatuan takwa kepada Allah dan ketaatan kepada pemimpin dalam sebuah wasiat Nabi saw. di atas menggambarkan betapa pentingnya ketaatan tersebut.

Perintah pemimpin harus dilaksanakan baik secara lahiriah (zhahir[an]) maupun dalam kepasrahan hati penuh sukarela (bathin[an]). Satu-satunya keadaan yang menghilangkan hak ditaati dalam diri seorang amir adalah jika perintah/larangannya bertentangan dengan aturan Allah Swt. Rasulullah saw. bersabda:

السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ

Mendengar dan taat adalah wajib atas seorang Muslim, baik ia suka maupun benci, terhadap suatu perintah pimpinannya selama perintah itu bukan perintah untuk melakukan kemaksiatan. Jika ia diperintah melakukan kemaksiatan maka ia tidak boleh mendengar dan taat (HR al-Bukhari).

Begitu juga kata Nabi saw.: La tha'ata li makhluq[in] fi ma'shiyati al-Khaliq (Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah Sang Pencipta). Itu pun harus jelas betul bahwa memang benar amirnya itu keluar dari al-Quran dan as-Sunnah. Misal: perintah untuk menjauhi umat dan memusuhi organisasi-organisasi Islam jelas bertentangan dengan ayat-ayat dan hadis terkait persatuan dan ukhuwah. Andai saja hal ini terjadi, sikap yang harus diambil adalah menasihati amir. Berbeda dengan hal tersebut, keputusan amir berupa pengaturan pola komunikasi dan tata hubungan dengan berbagai komponen umat dengan tetap menjalin hubungan dengan organisasi-organisasi Islam tersebut merupakan perintah yang sesuai dengan ajaran Islam. Sikap satu-satunya yang diajarkan Nabi Muhammad saw. adalah menaatinya.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here