PERAN KHILAFAH PADA ISLAMISASI KERAJAAN DI SULAWESI SELATAN, BARAT, DAN BIMA - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Thursday, May 21, 2020

PERAN KHILAFAH PADA ISLAMISASI KERAJAAN DI SULAWESI SELATAN, BARAT, DAN BIMA




Oleh: Mu’adz Al Hafidz
(Analis Politik Sekolah Peradaban)

Jika kita ingin berbicara latar belakang munculnya kesultanan di Pulau Sulawesi khususnya Sulawesi Selatan, maka kita akan banyak berbicara mengenai Islamisasi Kerajaan Gowa-Tallo. Kerajaan ini diperkirakan berdiri pada tahun 1320 M, hal ini bisa dilihat dari hari ulang tahun Kab. Gowa yang ke 699 tahun. Raja yang paling terkenal yang pernah dimiliki oleh kerajaan Gowa-Tallo adalah Raja I Mallombassi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape Sultan Hasanuddin Tuminanga ri Balla'pangkana. Sultan Hasanuddin berada di garda terdepan dalam mengusir dan berperang melawan Belanda. Harum nama Sultan Hasanuddin hingga hari ini yang juga digelari pahlawan pra kemerdekaan. Setelah kerajaan Gowa-Tallo memeluk Islam barulah proses Islamisasi di kerajaan-kerajaan lain berlangsung dengan cepat yang mencakup Kerajaan Bone, Soppeng, Wajo, Sidenreng, Balanipa dan Bima.
Kerajaan Gowa-Tallo, kerajaan kembar yang saling berbatasan, biasa juga disebut Kerajaan Makassar. Kerajaan ini terletak di Semenanjung Barat Daya pulau Sulawesi, yang merupakan transit aktifitas perekonomian saat itu. Mengingat transportasi laut menjadi transportasi utama perdagangan. Sejak Gowa-Tallo tampil sebagai pusat perdagangan laut, kerajaan ini menjalin hubungan baik dengan Ternate yang telah menerima Islam terlebih dahulu. Di bawah pemerintahan Sultan Babullah dari Ternate yang dijuluki “Raja Tujuh Puluh Dua Pulau” karena pengaruhnya membentang hampir seluruh Pulau Maluku dan pulau-pulau sekitarnya, bahkan kekuasaannya sampai ke pulau selayar yang tepat berada dipintu gerbang kerajaan Gowa-Tallo saat itu, mengadakan perjanjian persekutuan dengan Kerajaan Gowa-Tallo. Dalam pertemuan tersebut Sultan Babullah menawarkan bantuan dan sebagai imbalannya Kerajaan Gowa-Tallo diajak untuk masuk Islam, namun Raja XII Kerajaan Gowa Manngngorai Daeng Mammeta Karaeng Bontolangkasa Tunijallo (1565-1590) saat itu menolaknya.
Pada masa Datuk Ri Bandang Abdul Makmur Khatib Tunggal orang Minangkabau dari Koto Tangah, datang bersama Khatib Sulaiman yang kemudian dikenal dengan nama Datuk Patimang dan Khatib Bungsu yang bernama Datuk Ri Tiro, Raja Gowa-Tallo baru menerima Islam. Dengan demikian, mulailah islamisasi dilakukan di kerajaan kembar Gowa-Tallo. Kedatangan Datuk Tiga Serangkai merupakan babakan baru terhadap islamisasi di Sulawesi Selatan. Ada hal menarik yang perlu diketahui bahwa kedatangan tiga serangkai di kerajaan Gowa-Tallo saat itu, tidak semerta-merta melakukan dakwah langsung ditengah-tengah masyarakat atau mendatangi Raja Gowa-Tallo. Tiga datuk ini justru memilih kerajaan luwuk untuk menjadi objek dakwah yang pertama, sebab telah masyur pada saat itu bahwa kerajaan luwuk lebih tua dan lebih terhormat dibanding kerajaan Gowa-Tallo. Alasan yang ke dua, Datuk Tiga Serangkai melihat kehadiran orang – orang portugis kristen yang dipekerjakan untuk membangun benteng-benteng dan perbengkelan peleburan besi untuk dijadikan bahan pembuatan meriam dan bedil, kekhawatiran akan terjadinya gesekan dengan orang – orang Portugis yang membuat Datuk Tiga Serangkai memilih kedatuan Luwu sebagai objek islamisasi pertama diantara kerajaan-kerajaan Bugis-Makassar. Strategi dakwah ini tidak sia-sia, penguasa Luwu, La Patiware’ Daeng Parabung (1585-1610) pada tanggal 15 Ramadhan 1013 H/4 Februari 1605 M. Memeluk Islam dan diberi gelar Sultan Waly Muzakkir ad-Din. Seteleh berhasil mengislamkan Datu Luwu barulah Datuk Tiga Serangkai bertolak ke Gowa-Tallo.
Raja pertama yang memeluk agama Islam ialah Raja Tallo IX yang menjabat sebagai Mangkubumi (Perdana Menteri) Kerajaan Gowa. Baginda bernama I Mallingkaang Daeng Mannyonri’, dan diberi gelar Sultan Abdullah Awwalul-Islam sebab ialah raja pertama yang memeluk Islam. Selanjutnya, Raja Gowa ke XIV yang bernama I Manngaranngi Daeng Manrabbia diangkat jadi raja Gowa oleh pamannya Raja Tello ke IX menggantikan suadaranya yang bergelar Karaeng Tunipasulu. Ia juga memeluk agama Islam dan Baginda memperoleh gelar Sultan Alauddin. Tanggal resmi penerimaan Islam pada Kerajaan Gowa-Tallo adalah pada malam Jumat, 22 September 1605 M, atau 9 Jumadil Awal 1014 M. Bahkan dalam waktu dua tahun rakyat Gowa-Tallo telah memeluk Islam sebab kultur masyarakat dan kepercayaan kepada raja sebagai penerus To Manurung, menjadikan rakyat akan menerima apa saja yang diperintahkan oleh rajanya sebagai titisan dewa atau Tuhan di Bumi. Hal ini ditandai dengan dilakukannya shalat Jumat yang pertama di Tallo, yakni pada tanggal 9 November 1607 M (9 Rajab 1016 H). Setelah proses islamisasi sempurna dilakukan pada kedatuan Luwu dan kerajaan Gowa-Tallo, maka pada gilirannya Islam disebarkan ke kerajaan-kerajaan tetangga.
Upaya penyebaran Islam ke kerajaan Bugis juga didasari spirit Ulu Ada’ (perjanjian) yang merupakan “ikrar bersama” raja-raja yang berasal dari satu garis keturunan To Manurung yang berbunyi “.... bahwa barangsiapa (diantara raja-raja itu) menemukan suatu jalan yang lebih baik maka dia wajib menyampaikannya kepada raja-raja sekutunya”. Maka upaya yang ditempuh dalam penyebaran ini dengan dua cara, yang kebanyakan orang mungkin hanya tahu bahwa peranglah satu-satunya jalan yang pernah ditempuh oleh kerajaan Gowa-Tello. Setelah Sultan Alauddin memeluk Islam, beliau kemudian mendatangi Raja Bone yang saat itu baru menjabat belum genap 3 bulan, beliau adalah Raja Bone XI La Tenriruwa Matinroe ri Bantaeng. Kedatangan Raja Gowa diterima dengan baik oleh Raja Bone, bahkan tidak perlu waktu lama untuk menyatakan keislamannya dengan pertimbangan yang matang. Raja La Tenriruwa memang dikenal sebagai raja yang mempunyai visi yang baik, sehingga segera dapat berlapang dada menerima Islam, dengan saran dari Raja Gowa. Banyak sumber juga menyebutkan bahwa raja sebelum La Tenriruwa yakni We Tenri Tuppu Matinroe ri Sidenreng Raja Bone ke X telah memeluk Islam, sebab beliau meninggal di Sidenreng yang saat itu telah menerima Islam sebagai agama resmi kerajaan, namun sayangnya beliau belum sempat menyampaikan ke rakyatnya.
Raja La Tenriruwa kemudian menyampaikan hal tersebut kepada Ade Pitue dan rakyat Bone, namun seruan Raja La Tenriruwa ditolak. Raja Bone sebelumnya sudah mengingatkan rakyatnya terkait Ulu Ada’ ikrar bersama itu, juga telah menyampaikan konsekuensi yang akan diterima kerajaan Bone jika menolak ajakan Raja Gowa yaitu akan diperangi dan ketika kalah mereka otomatis akan menjadi budak, namun sia-sia penjelasan itu tidak diterima Ade Pitue dan Rakyat. Akhirnya Raja La Tenriruwa merasa tidak didengar lagi oleh rakyatnya maka beliau memutuskan meninggalkan istananya dan datang ke Gowa untuk belajar Islam pada Datuk ri Bandang dan diberi gelar Sultan Adam kemudian beliau oleh Raja Gowa diberikan tempat di Bantaeng hingga beliau wafat disana, inilah mengapa beliau mandapat gelar Matinroe ri Bantaeng. Apa yang tidak diinginkan oleh Raja La Tenriruwa akhirnya terjadi, Raja Gowa menyerang Kerajaan Bone. Inilah cara penyebaran Islam ketika ajakan damai ditolak.
Perang antara Kerajaan Gowa melawan Kerajaan Bone disebut perang Musu Salleng (Perang Islam) atau Musu Asselengeng (Perang Pengislaman). Perang ini tidak hanya terjadi antara Gowa dan Bone, akan tetapi ikut juga terlibat kerajaan Soppeng dan Wajo yang merupakan sekutu Bone. Jauh sebelum Islam datang ke tanah Sulawesi intrik Politik antara kerajaan Bugis dan Makassar sudah sering terjadi. Pada kisaran tahun 1582 M ketiga Kerajaan Bugis, yakni Bone, Soppeng, Wajo melakukan perjanjian yang disebut Tellumpoccoe. Perjanjian ini sebagai respon atas perkembangan kerajaan Gowa-Tallo yang pesat dalam bidang ekonomi, politik, dan militer. Perang ini kemudian dimenangkan oleh Kerajaan Gowa pada akhirnya Kerajaan Soppeng menyatakan kesediaannya menerima Islam pada tahun 1609,  Wajo menerima Islam tanggal 10 Mei 1610 dan Bone, saingan politik Gowa-Tallo sejak pertengahan abad ke-16, tanggal 23 November 1611 yang saat itu dipimpin Raja Bone XII La Tenripale Matinroe ri Tallo (1611-1625 M).
Diantara kerajaan-kerajaan yang menerima dengan baik seruan Islam dari kerajaan Gowa-Tallo, adalah Kerajaan Balanipa yang saat ini berada dalam wilayah administrasi Kab. Polewali Mandar Sulbar, Islamisasi Kerajaan Balanipa tergolong mudah hanya dengan mengutus salah seorang Ulama yang bernama Abdurrahim Kamaluddin sekitar tahun 1608, yang mana pada saat itu raja yang memimpin Kerajaan Balanipa adalah Kakanna I Pattang atau Daetta Tommuane. Selain Balanipa kerajaan Bima yang berada di pulau seberang juga menerima Islam dengan sangat baik, bahkan mungkin Raja Bima pertama yang Muslim sangat berterima kasih kepada Raja Sultan Alauddin saat itu, yang telah menolongnya dan menikahkan dia dengan adik ipar Sultan Alauddin. Raja Bima ke XXVII yang bergelar Ruma Ta Ma Bata Wadu kemudian diberikan nama Sultan Abdul Kahir.
Dengan masuknya seluruh kerajaan-kerajaan ini ke dalam pangkuan Islam tentu saja peran Datuk Tiga Serangkai menjadi poros utama. Nah, Datuk Tiga Serangkai yang bertolak dari Minangkabau ke Sulawesi itu didasari atas apa? Ada berita yang mengatakan bahwa Datuk Tiga Serangkai diundang oleh Sultan Alauddin saat itu, ada juga yang mengatakan bahwa para Ulama ini diperintahkan oleh Kesultanan Aceh atau Kesultanan Johor untuk melakukan Islamisasi di kerajaan Gowa. Pendapat yang pertama tentu saja lemah sebagaimana kita ketahui dari paparan di atas, maka kemungkinan yang ke dua lebih kuat, bahwa sangat besar pengaruh kesultanan Aceh saat itu yang mengutus Datuk Tiga serangkai untuk mendakwahkan Islam di pulau Sulawesi. Nah, Kesultanan Aceh dengan Khilafah Ustmaniyah memiliki hubungan yang dekat, jadi secara tidak langsung melalui Kesultanan Aceh, Khilafah Ustmaniyah memiliki peranan yang sangat besar dalam penyebaran Islam di tanah Sulawesi. Kita juga akan melihat pengaruh Islam yang kuat pada mata uang kesultanan Gowa pada masa Sultan Hasanuddin, yang saat itu telah menggunakan emas murni, dan diberi nama Jingara’. Pada sisi mata uang ini tertera tulisan yang menggunakan bahasa Arab, terbaca KHALIFAH ALLAH SULTAN AMIR dan pada sisi lain tertera SULTAN HASANUDDIN. Inilah bukti betapa kuatnya pengaruh Islam dan Khilafah pada kesultanan Gowa hingga sampai mampu menggantikan aksara Lontara yang menjadi huruf resmi kerajaan sebelum Islam datang.












                                                            Mata Uang Jingara’



Catatan:
Penting kiranya kita untuk menelisik atau menganalisa asal – usul kehadiran To Manurung di tanah Sulawesi terkhusus Sulawesi Selatan melalui pendekatan sejarah dan keterikatannya dengan peristiwa yang terjadi di dunia pada masa itu. Jika kita runut tahun berdirinya kerajaan – kerajaan yang berpengaruh di Sulawesi Selatan maka akan kita dapatkan informasi bahwa Kedatuan Luwu berdiri pada kisaran abad X. berarti kisaran tahun 900an Masehi . Kerajaan Gowa Tallo berdiri pada Kisaran abad ke XIV. Tepatnya tahun 1320 M. Kerajaan Bone berdiri pada kisaran abad ke XIV. Tepatnya tahun 1330 M. secara umum kerajaan – kerajaan di Sulawesi Selatan berdiri pada abad X – XV. Sebelum Islam tiba di tanah Sulawesi yang diperkirakan sekitar akhir abad XVI hingga awal abad ke XVII, raja – raja di tanah Sulawesi Selatan telah menganut satu kepercayaan monoteistis yakni penyembahan kepada  Dewata Seuwae’ (Tuhan Yang Tunggal). Nah, To Manurung yang begitu dikultuskan diyakini sebagai titisan tuhan atau wakil tuhan di Bumi.
            Jika kita berfikir rasional, menjadi hal mustahil bahwa To Manurung adalah anak Tuhan hanya karena tidak diketahui asal usunya. To Manurung berbeda dari penduduk Sulawesi Selatan saat itu yang kemudian datang untuk menyelesaikan kekacauan yang sekian lama terjadi antar penduduk asli Sulawesi selatan. Jika kita kaitkan kehadiran To Manurung sebagai cikal bakal kerajaan-kerajaan Sulawesi Selatan, maka kita daptakan bahwa  To Manurung hadir kisaran abad ke X hingga abad ke XIV. Sementara saat itu dunia telah berada dibawah cahaya kemuliaan Islam, sebagaimana biasanya Peradaban yang sedang memimpin akan mempengaruhi peradaban-peradaban lain termasuk pengaruhnya bisa saja tiba di Sulawesi Selatan. Tidak sampai disitu ketika kita mencatat awal mula Islam hadir di Nusantara maka bisa dibuktikan hal itu telah terjadi di tahun 600an, tepatnya tahun 646 M kemudian fase selanjutnya terjadi di Kerajaan Sri Wijaya yang saat itu di pimpin oleh Raja Sri Indrafarman yang memeluk ISlam ditahun 718 M pada masa kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz.
            Analisa singkat ini tentunya membuktikan fakta-fakta yang bisa menguatkannya, maka disitulah peran sejarawan Islam abad modern ini untuk menggali bukti-bukti sejarah bagaimana pengaruh Islam di Nusantara khususnya Sulawesi Selatan. Ini penting untuk mengikis dan menghilangkan konflik-konflik primordial yang telah menghujamkan kebencian mendalam hingga hari ini, sehingga persatuan dalam rangkan mengembalikan kejayaan Islam menjadi terhambat. 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here