Seorang Mukmin Tak Kan Rela Hukum Islam Terabaikan - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, May 8, 2020

Seorang Mukmin Tak Kan Rela Hukum Islam Terabaikan


Suro Kunto (Ketua SPBRS)

Di antara tanda keimanan hakiki adalah bersungguh-sungguh memenuhi panggilan Allah dan RasulNya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ

Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul jika Rasul menyeru kalian pada sesuatu yang memberikan kehidupan kepada kalian (TQS al-Anfal [8]: 24).

Terkait ayat di atas, Imam ath-Thabari rahimahulLah mengatakan, "Penuhilah seruan Allah dan Rasul-Nya dengan ketaatan jika keduanya menyeru kalian pada perkara yang menghidupkan kalian, yaitu kebenaran... jika keduanya menyeru kalian pada hukum al-Quran."

Dalam Tafsir al-Qaththan juga dikatakan, "Wahai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan bersiaplah dalam hal yang Dia perintahkan kepada kalian, dan jawablah seruan Rasul dalam menyampaikan apa yang Allah perintahkan jika Rasul menyeru kalian pada perintah-perintah Allah dengan hukum-hukum yang di dalamnya ada kehidupan bagi raga, jiwa, akal dan hati kalian." (Taysir at-Tafsir al-Quran lil-Qaththan, 2/102, Maktabah Syamilah).

Begitu penting dan wajib memenuhi panggilan Allah SWT dan Rasul-Nya, seorang Muslim harus meninggalkan perkara-perkara lain yang masih bisa ditinggalkan. Imam al-Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. pernah menegur seorang sahabat bernama Abu Said bin al-Mualla ra. yang tidak bersegera menjawab panggilan beliau karena memilih untuk menyelesaikan terlebih dulu shalatnya. Kemudian Rasulullah saw. berkata kepada dia, "Apa yang menghalangi kamu untuk datang? Bukankah Allah telah berfirman: Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul jika Rasul menyeru kalian pada sesuatu yang memberikan kehidupan kepada kalian."

Para sahabat mencontohkan bagaimana seharusnya seorang Muslim senantiasa wajib berpihak pada perintah dari Allah SWT dan Rasul-Nya. Ketika turun QS al-Maidah (5) ayat 90 yang mengharamkan khamr, mereka segera membuang persediaan, khamr termasuk yang tengah berada di gelas-gelas mereka yang hendak mereka minum, tanpa menunda waktu lagi; tanpa lagi berpikir bahwa itu sudah menjadi adat kebiasaan mereka.

Demikian pula saat Allah SWT mengharamkan menikah dengan pria dan wanita musyrik (QS al-Mumtahanah [60]: 10), para sahabat segera menjatuhkan talak kepada istri mereka yang tidak mau diajak beriman. Pada saat itu Umar bin Khaththab ra. menceraikan dua orang istrinya (lihat: Tafsîr Ibnu Katsîr, 8/94, Maktabah Syamilah).

Seorang Mukmin juga tak rela bila melihat hukum-hukum Allah SWT terabaikan meski hanya satu hukum. Mereka akan bersegera meluruskan setiap penyimpangan dari perintah Allah SWT dan Nabi-Nya. Ketika pada masa Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq ra. muncul kelompok-kelompok yang menolak membayar zakat, Khalifah segera mengirim utusan untuk mengingatkan mereka akan kewajiban zakat. Manakala mereka tetap menolak, Abu Bakar ra. akhirnya memutuskan untuk memerangi mereka.

Saat itu Umar bin al-Khaththab ra. mengingatkan Khalifah Abu Bakar ra. karena keputusan itu berarti memerangi orang yang telah bersyahadat dan shalat.

Khalifah Abu Bakar ra. memberikan jawaban yang tak bisa dibantah kebenarannya oleh Umar bin al-Khaththab ra., "Demi Allah, aku akan memerangi orang yang memisahkan antara shalat dan zakat karena sesungguhnya zakat adalah hak atas harta. Demi Allah, jika sekiranya mereka menahan dariku seutas tali, pasti akan aku perangi mereka karena kelakuan mereka itu."

Ucapan Khalifah Abu Bakar ra. menegaskan kewajiban atas umat untuk melaksanakan syariah Islam secara kaffah tanpa boleh ada satu pun yang tercecer apalagi sengaja diabaikan. Meninggalkan satu perintah Allah SWT berkonsekuensi dosa besar di sisi-Nya. Lalu alasan apa yang bisa kita ajukan ke hadapan Allah SWT bila hari ini banyak sekali hukum-hukum-Nya yang ditinggalkan?

Saat ini ekonomi umat dibiarkan dicengkeram oleh sistem kapitalisme-neoliberalisme. Sistem ini telah menciptakan jurang kemiskinan yang semakin menganga lebar. Sumberdaya alam dikeruk bangsa asing bukan untuk kesejahteraan umat. Praktik ribawi dianggap biasa, padahal itu adalah dosa besar.

Kehidupan sosial umat terpuruk dalam hedonisme, perzinaan dan perselingkuhan. LGBT merebak. Tingkat perceraian justru meroket. Semua ini akibat syariah Islam ditelantarkan.

Padahal tak ada alasan bagi umat Islam untuk menelantarkan syariah Islam dan kewajiban menegakkan Khilafah Islam. Keduanya adalah perkara yang amat agung. Bahkan penegakan Khilafah disebut sebagai taj al-furud (mahkota kewajiban) karena banyak kewajiban agama yang tak mungkin terlaksana tanpa keberadaan Khilafah. Imam Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan,  "Ketahuilah juga, para sahabat Nabi saw. telah sepakat bahwa mengangkat imam (khilafah) setelah berakhirnya zaman kenabian adalah wajib. Bahkan mereka menjadikan pengangkatan imam (khalifah) itu sebagai kewajiban terpenting karena mereka telah menyibukkan diri dengan hal itu ketimbang memakamkan jenazah Rasulullah saw.." (Al-Haitami, Ash-Shawaiq al-Muhriqah, hlm. 17).

Jelas kewajiban melaksanakan syariah Islam dan penegakkan Khilafah secara naqli  merupakan kewajiban yang telah disepakati oleh para ulama, khususnya ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here