Umat Islam Itu Bersaudara - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, May 8, 2020

Umat Islam Itu Bersaudara


Mahfud Abdullah (Dir. Indonesia Change)

Pada tahun 2003, lembaga think-tank (gudang pemikir) AS, yakni Rand Corporation, mengeluarkan sebuah kajian teknis yang berjudul, "Civil Democratic Islam." Secara terbuka, Rand Corp membagi umat Islam menjadi empat kelompok Muslim: Pertama, kelompok fundamentalis. Kelompok ini mereka sebut sebagai kelompok yang menolak nilai-nilai demokrasi dan budaya Barat serta menginginkan sebuah negara otoriter yang puritan yang akan dapat menerapkan syariah Islam yang ekstrem.

Kedua, kelompok tradisionalis. Kelompok ini, menurut mereka, adalah kelompok yang menginginkan suatu masyarakat yang konservatif.

Ketiga, kelompok  modernis. Kelompok ini mereka katakan sebagai kelompok yang menginginkan Dunia Islam menjadi bagian modernitas global. Kelompok ini juga ingin memodernkan dan mereformasi Islam serta menyesuaikan Islam dengan perkembangan zaman.

Keempat, kelompok sekularis. Mereka adalah kelompok yang menginginkan Dunia Islam dapat menerima paham sekuler dengan cara seperti yang dilakukan Barat saat agama dibatasi pada lingkup pribadi saja.

Setelah dilakukan pengelompokan atas umat Islam, langkah berikutnya yang dilakukan Barat adalah melakukan politik belah bambu; mendukung satu pihak dan menjatuhkan pihak lain serta membenturkan antarkelompok. Caranya dengan melakukan empat hal: Pertama,  mendukung kelompok modernis dengan mengembangkan visi mereka tentang Islam sehingga mengungguli kelompok tradisionalis.

Kedua, mendukung kelompok tradisionalis sebatas untuk mengarahkan mereka agar berlawanan dengan kelompok fundamentalis dan untuk mencegah pertalian yang erat di antara mereka; menerbitkan kritik kaum tradisionalis atas kekerasan dan ekstremisme yang dilakukan kaum fundamentalis; mendorong perbedaan antara kelompok tradisionalis dan fundamentalis; mendorong kerja sama antara kaum modernis dan kaum tradisionalis yang lebih dekat dengan kaum modernis; juga mendorong popularitas dan penerimaan atas sufisme.

Ketiga, mendukung kelompok sekularis secara kasus-perkasus dan mendorong pengakuan fundamentalisme sebagai suatu musuh bersama; mendorong ide bahwa agama dan negara dapat dipisahkan.

Keempat, memusuhi kelompok fundamentalis dengan menunjukkan kelemahan pandangan keislaman mereka; mendorong para wartawan untuk mengekspos isu-isu korupsi, kemunafikan dan tidak bermoralnya kaum fundamentalis, pelaksanaan Islam yang salah dan ketidakmampuan mereka dalam memimpin dan memerintah.

Inilah upaya politik adu domba yang dilakukan oleh Barat terhadap umat Islam. Dalam konteks umat Islam di Indonesia, sangatlah bisa kita rasakan adanya upaya-upaya adu domba tersebut lewat 'tangan-tangan Barat yang tidak kelihatan'. Misalnya, upaya membenturkan ormas yang dinilai tradisionalis dengan kelompok yang dianggap fundamentalis, sebagaimana tampak makin menguat akhir-akhir ini.

Umat Islam jelas haram untuk saling bermusuhan karena permusuhan itu bisa menjadi penghalang kita untuk mendapatkan ampunan Allah SWT. Padahal bukankah selama ini kita sangat mengharapkan ampunan-Nya, khususnya pada bulan yang penuh berkah ini? Dalam hal ini Rasulullah saw. bersabda:

«فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لاَ يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا إِلاَّ رَجُلاً كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ، فَيُقَالُ: أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا»

Semua hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan apapun akan diampuni dosa-dosanya, kecuali seseorang yang antara dia dan saudaranya terjadi permusuhan. Lalu dikatakan, "Tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai!" (HR Malik dan Abu Dawud).

Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ»

Sungguh kaum Mukmin itu bersaudara. Karena itu damaikanlah di antara saudara-saudara kalian (TQS al-Hujurat [49]: 10).

Terkait ayat di atas, Imam Ali ash-Shabuni dalam Shafwah at-Tafasir antara lain menyatakan, "Persaudaraan karena faktor iman jauh lebih kuat daripada persaudaraan karena faktor nasab."

Persaudaraan Muslim yang hakiki digambarkan oleh Rasulullah saw.:

«مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَراحُمِهِمْ وَتَوَادِّهِمْ وَتَعَطُّفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ؛ إِنِ اشْتَكَى عُضْوٌ مِنْهُ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بالْحُمَّى والسَّهَرِ»

Perumpamaan kaum Mukmin itu dalam hal kasih sayang, sikap welas asih dan lemah-lebut mereka adalah seperti satu tubuh; jika satu anggota tubuh sakit, anggota tubuh lainnya akan merasakan panas dan demam (HR Abu Dawud).

Karena bersaudara, sesama Muslim haram saling mencela, menyakiti, apalagi saling membunuh. Baginda Rasulullah saw. bersabda:

«سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ»

Mencela seorang Muslim adalah kefasikan, sementara membunuhnya adalah kekufuran (HR al-Bukhari dan Muslim).

Haram pula di antara sesama Mukmin saling menzalimi dan saling tidak peduli. Sebaliknya, mereka wajib untuk saling membantu dan tolong-menolong dengan saling menghilangkan kesulitan, bahkan sekadar menutup aib saudaranya. Rasulullah saw. pernah bersabda, "Muslim itu saudara bagi Muslim yang lain. Ia tidak saling menzalimi dan saling membiarkan. Siapa saja yang menghilangkan suatu kesulitan dari seorang Muslim, maka Allah SWT akan menghilangkan kesulitan bagi dirinya di antara berbagai kesulitan pada Hari Kiamat kelak. Siapa saja yang menutupi aib seorang Muslim, Allah pasti akan menutupi aibnya pada Hari Kiamat nanti." (Muttafaq a'laih).

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here