Aku Terluka Bersamamu Umat Yang Tertindas - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Tuesday, June 2, 2020

Aku Terluka Bersamamu Umat Yang Tertindas



Mahfud Abdullah (Indonesia Change)

Kami sampaikan masih ada penindasan luar biasa jangka panjang terhadap banyak umat Islam di China. Tidak ada batasan sampai batas yang memuakkan bahwa negara China itu akan mempermalukan saudara-saudari kita di Turkistan Timur untuk menghapus setiap jejak identitas Islam mereka.

Radio Free Asia (RFA) tahun lalu memberitakan bahwa menurut sumber-sumber di Partai Komunis China yang berkuasa, bahwa wanita Muslim Uighur di Turkestan Timur, yang suaminya ditahan di kamp-kamp penahanan indoktrinasi komunis China, 'dipaksa untuk berbagi tempat tidur' dengan para pejabat pria China yang telah ditugaskan untuk memantau mereka di rumah-rumah mereka.

Bentuk pengawasan yang sangat invasif terhadap kaum Muslim Uighur ini adalah bagian dari program 'Berpasangan dan Menjadi Keluarga' rezim China yang dimulai pada tahun 2017, di mana 1 juta mata-mata, sebagian besar laki-laki dari mayoritas etnis Han, telah dikerahkan oleh pemerintah untuk tinggal di rumah-rumah tangga Muslim Uighur selama sekitar 1 minggu setiap 2 bulan.

Rezim itu dengan memuakkan menyebut mata-mata ini sebagai 'kerabat' dari kaum Muslim Uighur dimana mereka tinggal bersama seperti suami istri. Peran mereka adalah untuk memperoleh informasi dari keluarga 'tuan rumah' mereka mengenai skala kepatuhan mereka terhadap agama Islam, pandangan dan praktik politik, dan untuk mengindoktrinasi mereka dengan budaya komunis ateis agar mereka memberikan kesetiaan kepada negara China.

Umat Islam di sana menderita penindasan keras. Oleh karena itu, kami harus bertanya langsung kepada Anda: bagaimana, dalam pandangan Anda, dan dengan sederhana, menjadi muslim menjadi kejahatan berbahaya? Bagaimana, dengan pandangan Anda, dakwah kepada Islam menjadi perkara yang layak dijatuhi sanksi-sanksi keras di negara yang didirikan komunis ini?

Sementara kita nelongso melihat sikap para penguasa di negeri yang mayoritas warganya muslim menunjukkan bahwa rezim itu tidak akan mengambil langkah-langkah militer untuk menghalangi penindasan rezim China dan tidak akan melakukan tindakan serius apapun terhadap negara itu. Hal itu menguatkan keputusan para penguasa itu menperkuat hubungan bilateral dengan China.

Musibah kita ada di para penguasa di negeri kaum Muslim. Potensi kekuatan milik kita cukup, bahkan lebih dari cukup, untuk mengembalikan hak-hak saudara kita dengan mulia dan membisikkan kepada musuh pelajaran yang mereka ingat hingga kuburnya. Tetapi, para penguasa yang berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya dan kaum Mukmin, mereka gentar kepada kapitalis timur lebih lebih dari ketundukan mereka kepada Allah Rabb semesta alam. Mereka melarang tentara memerangi musuh-musuh mereka untuk membebaskan umat dan negeri yang mereka hegemoni. Kemudian dengan kehinaan dan kerendahan itu para penguasa itu mencari sesuatu benefit dari hubungan kerjasama dengan negara China. Ini jika mereka bisa mendapatkan remahan-remahan. Tetapi meski semua hal menyedihkan ini, negeri kaum Muslim yang dihegemoni secara politik dan ekonomi mulai Palestina hingga Kashmir, Burma wilayah Rohingya, kemudian Turkistan Timur, Kaukasus, Chechnya dan sekitarnya, Krimea dan semua negeri yang di situ muadzin melantangkan takbir tetapi diduduki oleh musuh-musuh Islam, semuanya akan kembali, dengan izin Allah, ke pangkuan al-Islam yang di atas bumi-Nya Rayah Islam berkibar.

﴿إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ * لِمِثْلِ هَذَا فَلْيَعْمَلِ الْعَامِلُونَ﴾

"Sesungguhnya ini benar-benar kemenangan yang besar. Untuk kemenangan serupa ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja. (TQs ash-Shafat [37]: 61).

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here