Analisis Seputar Ketegangan Terbaru Dua Korea - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, June 26, 2020

Analisis Seputar Ketegangan Terbaru Dua Korea


Aminudin Syuhadak (Pemerhati politik internasional)

Kim Jong Un, Pimpinan Korut kemarin memutuskan untuk menunda rencana aksi militer terhadap Korsel setelah berlangsungnya pertemuan Komisi Militer Pusat dari partai yang berkuasa di Korea Utara. Dalam pertemuan itu membahas  langkah-langkah untuk semakin memperkuat pencegahan perang di antara kedua negara itu.

Diketahui sebelumnya, ketegangan politik kedua negara itu meningkat setelah sekelompok orang di Korsel mengirimkan selebaran propaganda ke perbatasan Korea Utara. Aksi - aksi tersebut ditafsirkan Pyongyang merupakan pelanggaran kesepakatan antara kedua negara. Korut membalas dengan meledakkan Kantor Penghubung Antar-Korea pada Selasa (16/6). Pyongyang sendiri menyatakan mengakhiri dialog dengan Seoul serta mengancam akan adanya aksi militer.

Kantor tersebut didirikan sebagai bagian dari Deklarasi Panmunjom, yang ditandatangani oleh Pemimpin kedua negara pada April 2018, dan penghancuran yang dilakukan Korut menggarisbawahi perpecahan antara kedua Korea.

Bila ditelaah secara mendasar, kebijakan luar negeri kolonial Barat itulah yang sebenarnya menciptakan dunia berlomba  senjata militer hingga memicu lahirnya senjata pemusnah massal yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam kasus Korea Utara khususnya, Amerika Serikat (AS) sengaja membiarkan masalah ini meningkat, guna memberikan pembenaran atas kehadiran militer AS yang intensif di pantai Pasifik China.

Meskipun Kim dan Presiden AS Donald Trump memiliki hubungan khusus, namun lingkaran politik di Washington merupakan pengikut kebijakan pemerintahan AS untuk Republik Rakyat Demokratik Korea, di mana mereka memusuhi Korut tanpa alasan.

Krisis korea selalu diinginkan Amerika untuk memukul China ketika China menolak keinginan Amerika. Amerika ingin menarik China ke medan Perang Korea. Kemudian Amerika hendak memukul China dengan dukungan sekutu dan antek-anteknya. Alasannya, karena China telah mengancam keamanan kawasan dan regional. Amerika telah memobilisasi negara-negara Asia untuk mengepung China.

Krisis dua Korea bukan kategori permasalahan Indonesia. Karena itu, Indonesia wajib tidak berdiri di sisi Amerika ataupun China, betapapun upaya Amerika atau China untuk menarik Indonesia di sisi masing-masing di antara keduanya. Sebab, berada di sisi China ataupun Amerika tidak akan memberikan manfaat bagi Indonesia, baik sekarang ataupun pada masa depan. Indonesia yang merupakan negeri kaum Muslim terbesar di dunia harus menjadi kekuatan yang mandiri, memiliki kehendak yang independen, dan Indonesia memiliki potensi untuk itu.

Sementara Kebijakan Luar Negeri Negara Islam (sistem Khilafah) bergantung pada dakwah dan jihad untuk menyebarkan kebaikan peradaban Islam kepada seluruh umat manusia, maka hal ini tidak seperti kebijakan Barat kolonial. Di masa lalu, negara Khilafah mampu menghadapi, menahan dan menenangkan negara-negara subversif, sehingga memungkinkan seluruh dunia untuk menikmati milenium emas kedamaian dan kemakmuran, di mana Barat sendiri adalah di antara penerima manfaat utama dari sistem Islam global. InsyaAllah, dunia akan menyaksikan kembali zaman keemasan Islam.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here