Apa Yang Harus Dimiliki Oleh Militer Islam? - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Sunday, June 14, 2020

Apa Yang Harus Dimiliki Oleh Militer Islam?


Agung Wisnuwardana (Strategic And Military Power Watch)

Sekali lagi, kekuatan militer suatu negara merupakan jantung kekuatan yang penting. Untuk menjadi negara yang kuat harus memiliki militer yang kuat, serta memiliki beragam aset yang tidak hanya senjata dan jumlah tentara yang cukup. Namun juga menyangkut Ideologi, populasi, letak geografi, sumber daya alam besar hingga fleksibilitas logistik. Semakin beragam aset yang dimiliki maka akan semakin memperkuat negara tersebut.  Jumlah penduduk dimasukkan sebagai salah satu indikator kekuatan militer.

Intisari kekuatan militer adalah ideologi. Dalam Islam, militer wajib dilengkapi dengan pengetahuan kemiliteran dan tsaqofah Islam (pemikiran Islam). Karena itu mereka wajib mendapatkan pendidikan kemiliteran dan tsaqâfah Islam. Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah saw.:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

"Mencari ilmu adalah wajib bagi setiap Muslim" (HR Ibnu Majah).

Kata "ilmu" dalam hadis ini adalah ismu jins[in] (nama jenis) sehingga mencakup semua jenis ilmu, termasuk ilmu kemiliteran. Bahkan ilmu kemiliteran menjadi sangat penting bagi setiap prajurit militer. Sebab, tidak mungkin ia melakukan peperangan dan terjun ke medan tempur kecuali jika ia telah terlatih untuk itu. Dengan demikian, mendapatkan pendidikan kemiliteran wajib bagi dirinya, berdasarkan kaidah fikih:

مَالاَ يَتِمُّ الوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ

"Suatu kewajiban yang tidak sempurna pelaksanaannya kecuali dengan sesuatu yang lain maka sesuatu itu menjadi wajib."

Adapun tsaqofah Islam, maka setiap prajurit militer wajib belajar apa yang dia perlukan untuk melaksanakan aktivitas yang menjadi fardu 'ain (kewajiban setiap individu), sedangkan selain itu hukumnya fardu kifâyah (kewajiban bersama). Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ وَإِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ

"Siapa saja yang Allah kehendaki menjadi baik, Allah memahamkan dia dengan ilmu-ilmu agama. Ilmu itu hanya bisa didapat dengan belajar" (HR al-Bukhari).

Hukum ini berlaku bagi setiap prajurit militer yang akan melakukan penaklukan terhadap negeri-negeri dengan tujuan untuk menyebarkan dakwah, seperti halnya hukum tersebut juga berlaku bagi setiap Muslim, sekalipun bagi prajurit militer tentu hukumnya lebih wajib. Adapun peningkatan taraf berpikir prajurit, maka itu untuk menumbuhkan kesadaran. Sebab, kesadaran itu merupakan keharusan untuk memahami hukum-hukum Islam dan semua urusan kehidupan. Rasulullah saw. bersaba:

رُبَّ مُبَلَّغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ

"Boleh jadi orang yang diberitahu lebih mengerti daripada orang yang mendengarkan" (HR al-Bukhari).

Hadis ini mengandung isyarat (perintah) yang mendorong agar memiliki kesadaran. Allah SWT berfirman:

لِّقَوۡمٖ يَتَفَكَّرُونَ

"...bagi kaum yang berpikir" (QS al-Jatsiyah [45] : 13).

لَهُمۡ قُلُوبٞ يَعۡقِلُونَ بِهَآ

"Mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami." (QS al-Hajj [22] : 46).

Begitu juga dengan ayat-ayat al-Quran ini yang semuanya menunjukkan tentang kedudukan berpikir (Hizbut Tahrir, Muqaddimah ad-Dustur, hlm. 220; Zallum, Nizham al-Hukm fii al-Islam, hlm. 162).

Masing-masing kamp (barak) militer wajib ada sejumlah staf ahli yang representatif, yang memiliki pengetahuan kemiliteran yang tinggi serta keahlian dalam merancang strategi dan sasaran tempur. Hal ini didasarkan pada kaidah fikih:

مَالاَ يَتِمُّ الوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ

"Suatu kewajiban yang tidak sempurna pelaksanaannya kecuali dengan sesuatu yang lain maka sesuatu itu menjadi wajib."

Jika proses pendidikan kemiliteran tersebut tidak memadukan pendidikan secara teoritis dalam pelajaran dengan pendidikan praktis dalam bentuk latihan rutin serta praktik langsung, maka proses pendidikan tersebut tidak akan mencetak out put yang ahli, yang betul-betul siap terjun dalam medan pertempuran serta dalam merancang strategi perang. Oleh karena itu, melengkapi militer dengan pendidikan kemiliteran yang tinggi secara memadai hukumnya adalah fardhu. Dengan kata lain bahwa terus-menerus melakukan pendidikan dan pelatihan kemiliteran adalah fardhu agar prajurit militer betul-betul siap untuk terjun berjihad dan berperang setiap saat.

Karena prajurit militer itu berada di banyak barak (kamp), sementara setiap barak yang ada harus siap sewaktu-waktu untuk terjun ke medan perang, maka di setiap barak tersebut harus dilengkapi dengan sejumlah staf ahli yang memadai dan representatif. Hal ini didasarkan pada kaidah fikih:

مَالاَ يَتِمُّ الوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ

Suatu kewajiban yang tidak sempurna pelaksanaannya kecuali dengan sesuatu yang lain maka sesuatu itu menjadi wajib (Hizbut Tahrir, Muqaddimah ad-Dustur, hlm. 221; Zallum, Nizham al-Hukm fii Islam, hlm. 163)

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here