Arab Saudi: Negeri Kaya yang 'Miskin' - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, June 12, 2020

Arab Saudi: Negeri Kaya yang 'Miskin'


Anwar Rosadi (Indonesia Change)

Meskipun menjadi negara eksportir minyak mentah terbesar di dunia, banyak penduduk Arab Saudi yang hidup di bawah garis kemiskinan di negara itu.

Para aktivis di Arab Saudi telah berulang kali mengkritik Riyadh karena menghabiskan sejumlah besar uang untuk membeli senjata dari Barat dan tidak membantu jutaan orang yang hidup dalam kemiskinan.

Selain alokasi yang tidak proporsional pemerintah Saudi atas kekayaan negara, korupsi dalam keluarga kerajaan Arab Saudi tampaknya memperburuk kemiskinan dan masalah pengangguran di negara ini.

Menurut jajak pendapat yang dilakukan oleh Komisi Nasional Anti-Korupsi Saudi, 67,8 persen responden menyatakan tingkat korupsi keuangan dan negara terus meningkat di Arab Saudi.

Arab Saudi adalah eksportir minyak terbesar di dunia, dimana minyak merupakan 90 persen ekspor negara itu.

Bila ditelaah, Kerajaan Saudi benar-benar tergantung pada minyak. Industri minyak menghasilkan 45% dari produk domestik bruto Arab Saudi dan 75 % pendapatan pemerintah. Bahkan 40% dari sektor swasta di negara itu berasal dari pendapatan minyak. Lebih dari 65% minyak Saudi berasal dari lapangan minyak terbesar di dunia – Ghawar yang ditemukan pada tahun 1948. Dengan perkiraan tertinggi Saudi akan menghabiskan minyak itu dalam waktu 50-90 tahun, suatu fakta yang telah diketahui sejak tahun 1970-an dan sejak itu terdapat beberapa rencana untuk ekonomi yang tidak berdasarkan minya namun usaha itu tidak pernah berhasil. Ketergantungan Saudi pada minyak telah menghambat perkembangan sektor-sektor lain dan restrukturisasi ekonomi saat ini, bahkan jikapun berhasil berarti hasil dari reformasi tersebut paling mungkin akan dirasakan bebarapa dekade lagi.

Kerajaan menciptakan budaya ketergantungan. Mereka mensubsidi secara besar-besaran program kesejahteraan sosial besar untuk membungkam penduduknya. Hal ini mengakibatkan banyak orang Arab memilih menjadi penganggur daripada bekerja atau mengambil pekerjaan yang 'tidak jelas'. Mereka yang bekerja, menjadi terkenal di dunia karena hanya bekerja di dalam pekerjaan pemerintah di mana pekerjaannya mudah, gajinya tinggi dan gelarnya bergengsi.

Pada 2016 lalu, Wakil Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, baru-baru ini menjadi berita utama dengan Visi 2030 Saudi yang disampaikannya. Pada konferensi pers di Riyadh, pria berusia 30 tahun itu mengumumkan 'Visi 2030' yang merupakan rencana pembangunan jangka panjang untuk diversifikasi ekonomi Negara di luar minyak dan haji. Visi 2030 menyatakan: "Emas, fosfat, uranium dan banyak mineral berharga lainnya ditemukan di bawah tanah kami. Tapi kekayaan kita yang sesungguhnya terletak pada ambisi rakyat kami dan potensi generasi muda kami. Mereka adalah kebanggaan bangsa kami dan arsitek masa depan kami."

Namun jika kita analisis, sebagian besar dari Visi 2030 adalah pengumuman atas produksi dalam negeri adalah setengah dari kebutuhan militer kerajaan. Arab Saudi saat ini memiliki anggaran militer terbesar di dunia setelah Amerika Serikat dan China ($ 87miliar) dan hampir semua peralatan militer itu diimpor. Kerajaan selama puluhan tahun telah gagal membangun basis pertahanan nasional. Kerajaan selalu mengambil opsi untuk membeli peralatan militer dari luar negeri dan hal ini telah menciptakan hubungan ketergantungan dengan Amerika Serikat dan Inggris. Tapi usaha-usaha sebelumnya untuk memproduksi peralatan di dalam negeri semuanya gagal dan sekali lagi visi ini tidak memiliki banyak detail tentang bagaimana ketergantungan pada barat saat ini akan dapat diatasi.

Arab Saudi tidak memiliki keterampilan, pengetahuan dan kemampuan riset dan pengembangan yang dibutuhkan untuk menjadi Negara modern. Banyak dari hal ini akibat dari sistem pendidikan Saudi yang berfokus pada hafalan semata-mata untuk lulus ujian daripada membangun pemikiran dan mengembangkan ide-ide dan membangun pendekatan untuk ilmu. Dengan kehidupan beragama yang didominasi oleh Wababi di negara itu, sekolah-sekolah mazhab yang diajarkan di lembaga-lembaga Islam menempatkan studi teknik dan ilmu pengetahuan sebagai subyek sekunder, atau malah diabaikan. Inilah alasannya mengapa kerajaan Saudi telah secara konsisten berpaling kepada keterampilan, keahlian dan pekerja orang asing, untuk memastikan mesin minyak Saudi berjalan, sehingga membuat masalah atas kemampuan penduduk lokal bahkan lebih buruk.

Lubang yang paling mencolok dalam visi 2030 itu adalah kurangnya tujuan-tujuan politik. Tidak disebutkan peran regional Arab Saudi atau bahkan peran globalnya. Sudah terlalu lama Saudi menerapkan tujuan-tujuan Inggris dan Amerika di wilayah tersebut. Tujuan-tujuan itu termasuk solusi dua negara atas Palestina, dukungan atas kelompok-kelompok tertentu di Suriah dan menyeimbangkan peran Iran. Membangun dan ekonomi tanpa tujuan politik telah menjadi resep atas bencana atas banyak negara di masa lalu. Dan dalam kasus Saudi, hal ini menunjukkan tidak akan ada perubahan orientasi politik negara, meskipun mereka memmiliki kekayaan melimpah.

Sementara Visi 2030 penuh dengan retorika dan rencana-rencana muluk, visi itu tidak memiliki detail pada berapa banyak hal itu akan dicapai dan bagaimana tantangan yang dihadapi Saudi saat ini akan bisa diatasi. Dengan harga minyak yang sangat rendah, kerjaan itu sedang berjuang dengan defisit anggaran, utang dan mempertahankan kesejahteraan sosial yang saat ini berkurang. Masih harus dilihat apakah visi itu akan pernah menjadi kenyataan.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here