Dark Side - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Tuesday, June 2, 2020

Dark Side


Fajar Kurniawan (Analis Senior PKAD)

Kita perlu menelaah, bahwa perbatasan-perbatasan buatan yang ditempatkan di antara kita oleh Inggris dan Prancis pada Abad 19 dan 20 yang lalu merupakan salah satu hambatan paling besar bagi umat Islam menuju kesatuan mereka. Ini merupakan racun yang menahan para tentara Iran, Mesir, Turki, Pakistan, Indonesia atau Saudi di barak-barak mereka. Padahal umat di Irak, Afganistan, Pakistan, Khasmir dan Palestina meninggal di tangan kaum penjajah. Sungguh, kita harus mempertanyakan, mengapa di tengah-tengah Saudi Arabia dan Irak ada negara lain yang bernama Kuwait, sementara mereka ini memiliki akidah yang sama?

Siapa saja yang mempelajari sejarah kemerdekaan sekitar 57 negara-negara Muslim akan menemukan bahwa semua negara Muslim saat ini pernah dipersatukan di bawah Khilafah Utsmani sebelum Khilafah dikolonisasikan oleh Inggris dan Prancis dengan bantuan dari para pengkhianat seperti Mir Jafor di bagian anak benua, Sharif Hussein—anaknya; Faisal dan Abdullah, Abdul Aziz ibn Saud di Saudi Arabia, Mustafa Kamal di Turki, dan lain-lain.

Para penjajah menyemangati kaum Muslim untuk mendirikan partai-parta politik di atas konsep yang tidak islami. Mereka menyerukan kemerdekaan dan pemisahan dari Khilafah Ustmani selama Abad 17 dan 18. Hal ini didukung oleh semangat dan dukungan dari berbagai ide-ide nasionalisme, yang menyerukan perpecahan yang fatal, kesukuan.

Rancangan-rancangan para penjajah ini diperkuat oleh pendirian partai-partai politik Arab dan Turki, seperti Partai Turki al-Fatat, Partai Persatuan dan Kemajuan (juga dikenal sebagai Turki Muda), Partai Kemerdekaan Arab, dan Partai Perjanjian (Al-'Ahd), dan lain-lain.

Setelah menjajah Khilafah Utsmani, mereka telah memisahkan umat menjadi lebih dari 50 bagian dan mengakui kemerdekaan negara satu-persatu; tentu saja setelah mereka meyakini budak-budak yang setia mereka dalam posisi siap melayani mereka. Sungguh, semua yang memegang predikat "Bapak Negara" dalam dunia Islam adalah "masa pengetesan para budak" Barat. Ini adalah bagian dari kebijakan mereka "memecah-belah dan mengendalikan".

Gubernur Bombay yang berkuasa dari tahun 1919 sampai 1924, Mountstuart Elphinstone, berkomentar dengan sangat jelas dan tanpa ragu-ragu, "Kita tidak seharusnya membayangkan kekuasaan abadi, tetapi harus kita sendiri yang memilih orang pribumi sehingga diterima di pemerintahan mereka sendiri, dan memerintah sesuai dengan cara yang menguntungkan bagi kepentingan-kepentingan kita dan para penguasa."

Setelah penghancuran Negara Khilafah Islamiyah, tidak lama sebelum Perang Dunia II, Menteri Luar Negeri Inggris saat itu mengatakan, "Kita harus menghentikan apapun yang membawa pada kesatuan Islam di antara generasi-generasi Muslim, seperti yang kita berhasil lakukan dalam menghabisi Khilafah, sampai kita yakin mereka tidak akan pernah muncul kembali; kesatuan untuk kaum Muslim, apakah secara kultural atau kesatuan intelektual."

Hal yang sama dikatakan Menteri Luar Negeri di depan House of Commons, setelah Perjanjian Lausanne (yang mengakhiri Khilafah) pada tanggal 24 bulan Juli tahun 1924. Ia mengatakan, "Kondisi saat ini, Turki sudah mati. Dia tidak akan muncul kembali karena kita telah menghancurkan kekuatan moral mereka: Khilafah dan Islam."

Berdasarkan tujuan mereka, negara penjajah menjanjikan "proyek jaminan kemerdekaan" yang dimulai di berbagai bagian dunia, terutama Dunia Islam. Organisasi yang bernama "Komunitas Kristen Internasional" mengubah bentuknya menjadi "Komunitas Internasional", lalu dimodifikasi menjadi "Liga Bangsa-Bangsa", dan terakhir berubah menjadi "Perserikatan Bangsa-Bangsa". Ia menjadi wadah para penjajah untuk mengakui atau menolak berbagai kemerdekaan negara-negara.

Sungguh aneh! Klub Imperialis—yang menjamin kemerdekaan Israel—memberikan sertifikat kemerdekaan di berbagai wilayah Muslim! Sungguh, legalitas dari predikat sebagai "Bapak Negara" dalam berbagai negeri-negeri Muslim seperti; Sheikh Mujib, Jinnah, Kamal Pasha, Abdul Aziz Ibn Saud dan yang lainnya—datang dari organisasi yang sama—melegalkan 'Israel'.

Bayangkan saja, padai awal Abad 20 ada sekitar 55 negara di dunia dan kebanyakan pemisahan itu adalah di Eropa. Saat ini kita memiliki lebih dari 210 negara-negara merdeka. Faktanya, dari tahun 1990, satu wilayah telah dipecah-belah untuk menciptakan kemerdekaan negara-negara yang membebek. "Kebebasan dan Kemerdekaan" sebuah negara pada Abad 19, 20 dan 21 merupakan proyek penjajah. Contoh nyata adalah Kosovo, Ossetia selatan, Slovakia, Palau, Serbia, Montenegro, Timor Timur, dan lain-lain. Banyak bangsa-bangsa yang berperang untuk ini dan tidak ada dari mereka yang memenangkannya.

Kemerdekaan atau pendudukan suatu wilayah merupakan belas kasih dari negara-negara imperialis. Disintegrasi dan pendudukan adalah proyek penjajahan yang diimplementasikan. Penjajah menjamin kemerdekaan setelah meletakkan "agen-agen mereka yang terpercaya dan cocok" (dengan sistem pemerintahan mereka) dan "partai-partai politik sekular" (seperti Liga Muslim, Konggres, Turki Muda dan sebagainya) untuk mengubah sebuah wilayah ke dalam bentuk tersembunyi dari penjajahan, beserta sistem mereka.

Inggris telah meninggalkan anak benua pada tahun 1947 yang lalu. Kenyataannya, anak benua telah mencapai kemerdekaan dengan undang-undang Inggris yang masih dipergunakan! Selain itu, kondisi saat ini di Irak dengan Al-Maliki, atau di Afganistan dengan Hamid Karzai, dengan jelas menjadi contoh bagaimana proyek-proyek itu terus dilakukan sampai saat ini.

Untuk mempererat rencana pemecah-belahan dan pemisahan, mereka membuat organisasi yang bernama Liga Arab atau OKI. Semua ini merupakan implementasi dari pidato Menteri Luar Negeri Inggris saat itu, Lord Curzon, di House of Commons, "Kita harus menghentikan apapun yang membawa pada kesatuan Islam di antara generasi-genarasi Muslim, seperti yang kita berhasil lakukan dalam menghabisi Khilafah, sampai kita yakin bahwa mereka tidak akan pernah muncul kembali; kesatuan untuk kaum Muslim, apakah secara kultural atau kesatuan intelektual."

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here