Di Balik Pembatalan Haji 1441 H - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Wednesday, June 17, 2020

Di Balik Pembatalan Haji 1441 H


Oleh : Asma Ramadhani (Siswi SMAIT IBS Al Amri)

Polemik pembatalan ibadah haji 1441 H menjadi tanda tanya besar bagi Kaum Muslim. Bisa dibilang pembatalan ini di putuskan secara sepihak oleh pemerintah RI, tanpa menunggu keputusan dari pemerintah Saudi mengenai adanya musim haji tahun ini.

Secara tersirat hal ini dibenarkan oleh Menteri Agama Fachrul Razi yang menjelaskan pihaknya telah membentuk Pusat Krisis Haji 2020 menyusul pandemi COVID-19. Sejak April 2020 tim mengeluarkan tiga skenario, pertama haji dilaksanakan secara normal sesuai kuota, kedua haji dilaksanakan dengan pembatasan kuota, dan ketiga pemberangkatan jamaah haji dibatalkan sama sekali. Sejak Mei, tim menyingkirkan opsi pertama. Tim berfokus pada peluang mengirimkan jamaah dengan pembatasan sekitar 50 persen kuota. "Skema pengurangaan jamaah diambil karena harus ada ruang yang cukup untuk pembatasan fisik atau physical distancing jamaah," kata Fachrul. Namun, rupanya otoritas Saudi tak kunjung membuka akses padahal dijadwalkan pada 26 Juni jamaah haji Indonesia mulai diberangkatkan. Di sisi lain, jamaah pun harus menjalani masa karantina 14 hari sebelum berangkat dan 14 hari sesampainya di Saudi, jamaah juga harus menyiapkan sertifikat sehat, seperti yang dipaparkan tirto.id.

Disisi lain, Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, yang menilai pembatalan haji oleh Kementerian Agama terlalu terburu-buru. Wakil Ketua MPY Aceh Tgk Faisal Ali mengatakan pelaksanaan ibadah haji dibatalkan meski belum ada pernyataan resmi dari Kerajaan Arab Saudi. "Saya kira pemerintah Indonesia ini agak terlalu cepat mengambil tindakan dengan meniadakan haji," kata Faisal Ali saat dikonfirmasi, Rabu (3/6).

Misalnya jatah Indonesia dipangkas hanya tinggal 10 ribu. Meski jauh dari kuota normal, namun jumlah tersebut menurut Faisal sangat berarti.

"Daftar tunggu kita lama sekali. Walaupun Pemerintah Arab Saudi mengizinkan misalnya hanya untuk 5 ribu jamaah atau 10 ribu jamaah, saya rasa pemerintah harus meresponnya," ujarnya.

Jatah tersebut selanjutnya bisa disiasati dengan memberangkatkan jemaah yang berusia muda. Cnnindonesia.com.

Sikap yang dinilai terburu-buru ini bisa berdampak besar bagi tertundanya keberangkatan jamaah yang daftar tunggunya makin panjang. Juga bisa mempengaruhi sanksi dan kuota yang akan diberikan pemerintah Saudi.

Merasa keberatan dengan protokol kesehatan menjadi alasan pemerintah. Seolah mereka tidak ingin repot dengan pelaksanaan yang jauh berbeda dari biasanya dan tentu akan lebih berat. Namun, ini adalah konsekuensi yang seharusnya dioptimalkan. Bukan justru dihindari dengan membatalkan keberangkatan ribuan calon jamaah haji.

Tak dipungkiri juga jika ‘repot’ itu hanya menjadi alasan dibalik alasan lain. Pembatalan dengan jumlah yang sangat besar, karena seluruh calon jamaah haji tahun 1441 H di Indonesia dengan cara sepihak tentu adalah hal yang sangat mengejutkan. Pasalnya, calon jamaah sudah menyelesaikan pembayaran mereka. Lalu kemanakah uang mereka?

Boleh saja jika dikatakan akan diamankan dan bagi yang ingin mengambilnya kembali akan diberikan. Tapi bukankah ada kejanggalan dari sikap tersebut. Sebab uang dengan jumlah yang banyak dan tertimbun bisa menghasilkan keuntungan.

Penggunaan uang haji bukan lagi menjadi sesuatu yang asing di telinga masyarakat. Kecurigaan mengenai hal tersebut kembali terjadi tidak dapat dipastikan. Karena landasan kepercayaan masyarakat saat ini hanyalah berita-berita yang disiarkan oleh media. Tak jarang pula media menjadi sumber kontroversi karena memanipulasi fakta.

Kekacauan di negeri ini bahkan untuk perkara ibadah ritual sekalipun, tentunya karena asas perbuatan mereka—yang berasal dari pemikiran mereka—adalah ideology kapitalisme. Ideology yang hanya mementingkan materi atau keuntungan semata. Jika apa yang mereka lakukan mampu menghasilkan keuntungan, maka tidak segan-segan mereka melakukannya. Sekalipun merugikan orang lain.

Yang menjadi patokan perbuatannya adalah berlomba-lomba untuk mengumpulkan materi (uang) sebanyak-banyaknya. Dan tentu saja mereka tidak ingin merepotkan diri sendiri untuk mengurusi sesuatu tanpa menghasilkan keuntungan yang berlipat ganda.

Ibaratnya, jika mengurusi jamaah haji di tengah pandemi ini membutuhkan biaya dan perhatian yang lebih tanpa adanya keuntungan bagi mereka, jangan heran jika keputusan yang diambil adalah membatalkan semua keberangkatan haji di negeri ini. Dan tentunya keputusan pembatalan itu akan memberikan keuntungan baru bagi mereka.

Membantah atau unjuk rasa sekalipun tidak akan menghentikan kekuasaan dzalim saat ini, kecuali jika pandangan dan suara masyarakat bersatu. Bersatu untuk memperjuangkan keadilan dan kebaikan bagi negeri ini dengan sistem yang menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Memperjuangkan tegaknya sebuah Negara yang mampu menyejahterakan seluruh umat manusia. Bahkan seluruh makhluk di dunia. Toleransi antar agama tak dipermasalahkan. Pangkat dan derajat manusia disama-ratakan dengan ukhuwah (persaudaraan). Penyelesaian masalah di tengah-tengah masyarakat sesuai dengan aturan alam dan menentramkan manusia.

Adakah keraguan tentang rahmat bagi seluruh alam? Yang turunnya ke muka bumi adalah ridho dari Tuhan pemilik alam. Sadarkah, kontroversi yang semakin merebak di negeri ini karena ulah tangan-tangan yang jauh dari Tuhan?

Solusinya adalah kembali. Kembali pada kodrat manusia sebagai ciptaan. Sebagai seorang hamba yang mengabdi pada Tuhan. Mengikuti tiap inci aturan bak intruksi-intruksi untuk mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat.

Seluruh kehidupan di dunia akan berjalan indah dibawah naunganNya. Bersama Islam sebagai jalannya. Menjadi solusi dalam setiap problematika di dalam negeri maupun diluar negeri. Menjadi jembatan untuk meraih kemenangan dalam menghadapi rintangan hidup yang dipenuhi fitnah.

Hanya Islam. Solusi semua permasalahan. Pengatur segala aspek kehidupan. Dan penentram hati yang selama ini telah dibutakan oleh nafsu. Menerapkan Islam tentu saja tidak asal tebang hukum. Tapi dengan adanya sebuah Negara yang akan menguasai seluruh negeri yang saat ini terpecah belah di atas tikar kapitalis.

Khilafah, adalah Negara yang menerapkan ideology Islam. Yang menjadi penyokong penerapan aturan Islam. Menjadi hambaNya, menumpang pada bumiNya, dan menikmati duniaNya, harus disandingkan dengan mematuhi aturan pakai kehidupan. Yakni dengan memperjuangkan tegaknya Khilafah dengan menerapkan Islam Kaffah.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here