Dua Ideologi Berbahaya: Sosialisme Dan Kapitalisme - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Tuesday, June 16, 2020

Dua Ideologi Berbahaya: Sosialisme Dan Kapitalisme


Taufik S. Permana (Geopolitical Institute)

Kaum sosialis menganggap kaum kapitalis berbahaya karena mengedepankan hak-hak privat secara bebas. Kapitalisme dengan prinsip laissez faire; laissez passer, dan mekanisme pasar bebas yang terdiri dari penawaran dan permintaan (supply and demand) diyakini akan mampu mengatur kegiatan ekonomi masyarakat secara menyeluruh (integral). Tangan yang tak kelihatan (invisible hand) dalam mekanisme pasar juga dianggap akan mampu mengatur kegiatan ekonomi masyarakat secara paling rasional sehingga akan menciptakan kesejahteraan dan kemakmuran bagi masyarakat secara luas dan merata. Namun, dalam pandangan sosialis, sebenarnya kaum kapitalis telah merampas hak-hak para pekerja untuk kepentingan para pemilik modal.

Secara pemikiran, komunisme adalah paham yang menafikan agama, mengumbar pertentangan di antara kelas masyarakat sehingga menjadikan konflik sebagai metode dalam perubahan masyarakat. Ide ini merupakan ide yang berbahaya di negeri yang mengaku mayoritas Muslim dan menjadikan religiusitas sebagai pondasi bermasyarakat. Menjadikan pertentangan antarkelompok masyarakat sebagai pijakan dalam perubahan masyarakat juga berbahaya karena tidak sesuai dengan realitas masyarakat itu sendiri. Bila secara pemikiran sudah membahayakan, tentu pemikiran ini harus dicegah agar tidak mewujud dalam praktik.

Fakta sejarah sudah membuktikan bahaya komunisme di negeri ini. Belum lagi kalau kita melihat praktik di negeri-negeri lain. Dulu di Uni Sovyet, bagaimana umat Islam ditindas dengan semena-mena oleh kaum komunis. Tidak hanya Islam, tapi juga agama lain. Kini, kita pun menyaksikan bagaimana umat Islam yang hidup di negeri komunis mengalami diskriminasi dan penindasan, terutama dalam hal menjalankan aturan agamanya. Contohnya adalah yang dialami oleh kaum Muslim di Uighur Cina. Mereka pada Ramadhan yang mulia dilarang untuk melaksanakan ibadah shaum, selain kekejaman lain yang mereka rasakan.

Kapitalisme, sama seperti sosialisme, merupakan ideologi tertutup (closed ideology). Gagasan ini lahir dari pemikiran manusia yang tidak sempurna yang berusaha menjawab problematika kehidupan. Alih-alih menjadi solusi, penerapan kapitalisme justru mendatangkan berbagai problem baru bagi kehidupan, selain tidak mampu menyelesaikan problematika dasar umat manusia.

Kapitalisme yang merupakan ideologi yang mendominasi dunia saat ini lahir dari perseteruan di abad pertengahan Eropa yang terjadi akibat penindasan oleh raja yang mengatasnamakan Tuhan. Ketika perseteruan semakin memuncak melalui berbagai peperangan yang terjadi, lahirlah gagasan jalan tengah, yaitu ide pemisahan agama dari urusan kehidupan (sekulerisme). Urusan kehidupan dipisahkan dari agama atau agama tidak berperan mengatur urusan kehidupan. Agama menjadi anak tiri dalam kehidupan politik dan sosial, tak ada peran lagi bagi agama untuk turut campur dalam kehidupan sosial.

Kapitalisme, yang merupakan turunan dari prinsip sekularisme, telah banyak menyebabkan ketimpangan. Begitu banyak masalah yang timbul akibat diterapkan kapitalisme dibidang ekonomi.

Paham ini membabat habis segala yang bermuatan ekonomi Islam. Kapitalisme berpondasi pada sistem ribawi yang jelas sangat bertentangan dengan sistem ekonomi Islam. Akibat dari riba sangat bisa kita rasakan. Belum lagi resesi ekonomi. Ini merupakan fakta yang menunjukkan cacat dari kapitalisme.

Dalam pengaturan ekonomi berbasis kapitalisme, ekonomi hanya bergerak di sektor financial, bukan pada sektor real. Akibatnya, ekonomi menjadi hal yang bersifat spekulatif. Ketimpangan ekonomi antara negara Barat dan Timur atau negara berkembang juga sangat kontras. Bayangkan, hampir 90% kekayaan sumberdaya alam (SDA) dikuasai asing dan hanya sebagaian kecil yang dinikmati masyarakat. Akibatnya, rakyat makin miskin, pendidikan menjadi perkara yang mahal dan kriminalitas sebagai solusi instan terhadap kemiskinan menjadi merajalela.

Belum lagi ide kebebasan yang juga menjadi pondasi sistem kapitalisme. Dengan alasan kebebasan, dibalut dengan kedok HAM, mereka menghina agama dan memicu berbagai konflik sosial di tengah-tengah masyarakat.

Terkait bahaya riil, kapitalisme itu bagi negeri ini bersifat laten atau sudah nyata. Dari tahun ke tahun kita menyaksikan bagaimana sistem kapitalisme yang menjadi pondasi kehidupan masyarakat di negeri ini semakin membuat negeri ini hilang arah, bahkan menuju kerusakan yang sedemikian parah. Tingkat kriminalitas makin tinggi. Konflik sosial makin merata. Pemiskinan rakyat di tengah kemewahan diumbar tanpa batas, yang menunjukkan ketidakadilan yang nyata. Banyak lagi fenomena sosial yang memprihatinkan. Semua ini adalah buah dari penerapan kapitalisme di negeri ini.

Silih bergantinya pemerintahan hanya memberikan harapan palsu di awal. Kenyataannya, tidak ada perbaikan yang mendasar bagi masyarakat.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here