Idul Fitri, New Normal, dan Tatanan Dunia Baru - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Tuesday, June 2, 2020

Idul Fitri, New Normal, dan Tatanan Dunia Baru



Oleh : Achmad Fathoni
 (Direktur el-Harokah Research Center)

     Umat Islam yang menjadi elemen terbesar negeri ini patut bersyukur kepada Allah SWT yang telah menganugerahkan kepada umat Islam, sehingga dapat merampungkan ibadah Ramadhan yang istimewa, Ramadhan di tengah wabah pandemi Corona. Barangkali Ramadhan yang istimewa ini baru terjadi sekarang dalam abad ini. Meski kita diuji kesabaran dengan mengikuti protokol kesehatan sehingga lebih banyak tinggal di rumah (stay at home), insyaAllah tidak mengurangi kualitas ibadah kita. Bahkan mungkin lebih khusu’ dan tawadhu’ disbanding Ramadhan sebelum-sebelumnya. Dan saat ini kita telah bertemu degan Hari Raya Idul Fitri 1441 H. Kita semua berharap semoga membawa keberkahan bagi kita semua.

     Sebagaimana yang Allah SWT firmankan, hasil yang diharapkan dapat diraih oleh orang-orang yang berpuasa adalah menjadi orang-orang yang bertakwa. Artinya, setelah kita digembleng sebulan penuh megerjakan puasa da segala amal ibadah di bulan Ramadhan yang penuh berkah, membuat kita menjadi semakin bertakwa. “Takwa yang sesungguhnya adalah mengerjakan ketaatan kepada Allah SWT berdasarkan cahaya dari Allah SWT dengan mengharap pahala dari Allah SWT dan meninggalkan kemaksiyatan berdasarkan cahaya dari Allah SWT karena takut terhadap adzab Allah SWT.” (Tafsir Ibu Katsir, I/2440). Ketakwaan haruslah totalitas, dalam segala aspek kehidupan. Jadi takwa bukan hanya pada ranah individual saja, akan tetapi juga harus termanifestasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Semuanya harus sejalan dengan rambu-rambu yang telah Allah SWT turunkan berupa syariat Islam yang agung, yang apabila diterapkan secara komprehesif dalam seluruh aspek kehidupan pasti akan mendatangkan kebaikan bagi seluruh umat manusia.

     Dalam kesempatan yang sama, wabah pandemi Corona yang melanda hampir seluruh negara-negara di dunia bagaikan air bah yang tidak ada satu pun pihak yang sanggup membendungnya. Dan seluruh negara yang terdampak pademi Corona tersebut semuanya “angkat tangan” dan tak sanggup lagi memberikan solusi tuntas. Menurut laporan laman resmi Worldometers, hingga 12/04/2020 telah ada 1,8 juta orang di seluruh dunia yang positif terinfeksi virus tersebut. Sebanyak 110 ribu orang di antaranya telah meninggal dunia. Update data terakhir, Amerika Serikat kini meempati urutan teratas dengan kasus positif Corona mencapai 533 ribu orang. Disusul Spanyol dengan jumlah kasus positif 166 ribu orang, lalu Italia 152 ribu orang.

     Wabah pandemi Corona telah membuka fakta kegagapan dan rendahnya tingkat kepedulian negara di dunia dalam melindungi rakyatnya. Banyak negara pada awalnya berusaha menutupi data dan fakta terjangkitnya virus ini. Mereka lebih mementingkan pencitraan bagi negaranya, agar disebut layak dikunjungi, daripada menyelamatkan rakyatnya yang terinfeksi Corona. Tampak jelas lebih memperhatikan kondisi ekonomi daripada keselamatan warganya. Indonesia termasuk yang ramai dikritik terkait masalah ini.

     Dan yang lebih ironis, pemerintah Indonesia sudah berencana menerapkan kebijakan new normal. Sebagaimana telah dilansir di laman detikcom bahwa Presiden Jokowi berenca mengecek persiapan new normal di Bekasi. “Meninjau Kota Bekasi dalam rangka persiapan penerapan prosedur new normal setelah PSBB, di sarana publik,” ujar Kabag Humas Pemkot Bekasi Sayekti Rubiah, ketika dihubungi detik.com, Selasa (26/5/2020). Padahal banyak pakar telah memberikan rekomendasi agar pemerintah tidak menerapkan kebijakan new normal terlalu dini, karena itu sangat kontra produktif dengan upaya penanganan pandemi Corona di tanah air secara komprehensif. Salah satu diantaranya ada peryataan Dr. Hermawan Saputra, Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), yang dilansir merdeka.com (Senin, 25/5/2020). Beliau mengkritik persiapan pemerintah menjalankan kehidupan new normal. Menurutnya  belum saatnya, karena temuan kasus bar uterus meingkat dari hari ke hari. “Saya kira baru tepat membicarakan new normal ini sekitar minggu ketiga/empat Juni nanti maupun awal Juli. Nah, sekarang terlalu gegabah kalau kita bahas da memutuskan segera new normal itu,” ujar Hermawan saat dihubungi merdeka.com, Senin (25/5).

     Lebih dari itu, fakta sejarah telah menujukkan kepada semua umat manusia, bahwa pandemi terparah dalam sejarah adalah Flu Spanyol yang terjadi pada tahun 1918. Flu ini berlangsug selama dua tahun dalam tiga gelombang serangan. Tercacat 500 juta orang terinfeksi dan 50-100 juta kematian. Namun, sebagian besar kematian terjadi di gelombang kedua. Ketika masyarakat sudah sangat merasa tidak nyaman dengan karantia dan jarak sosial. Ketika mereka diperbolehkan lagi, masyarakat berbondong-bondong merayakan degan suka cita di jalan-jalan. Beberapa minggu kemudian, serangan gelombang kedua terjadi dengan puluhan juta kematian (Sumber: Data Wikiped). 

     Seharusnya para penguasa di negeri ini berhati-hati dalam menerapkan kebijakan penangaan pandemi ini dan seharusnya fakta sejarah yang amat berharga tersebut dijadikan pelajaran untuk tidak bersikap gegabah dengan buru-buru akan menerapkan kebijakan new normal. Jadi pertanyaan pentingnya, negeri ini mau belajar dari sejarah ataukah mau mengulang sejarah?

     Semua yang terjadi tersebut, disebabkan faktor yang paling dominan yaitu penerapan sistem kapitalisme yang menghegemoni dunia saat ini, termasuk di dalamnya negeri ini. Jauh sebelum wabah Corona, sistem kapitalisme memang sudah diprediksi akan segera menemui keruntuhannya. Berbagai gejolak politik dan ekonomi global akan menjadi rangkaian fase kejatuhan sistem Kapitalisme. Patrik J. Buchanan, anggota tim penasehat utama pemerintahan Amerika, menyatakan hal yang sama dalam bukunya, The Death of the West: How Dying Populations and Immigrant Invasions Imperil Our Culture and Civilization. Dia berpendapat bahwa peradaban Barat saat ini sedang sekarat dan akan segera runtuh. Hal ini ditandai dengan terjadinya berbagai kemerosotan ekonomi, sosial, dan politik di Eropa dan Amerika. Ini semakin membuktikan sistem kapitalisme sudah tidak layak diterapkan di manapun berada. Demikian juga sistem sosialisme-komuisme yang lebih dahulu runtuh. Karena memang kedua sistem buatan manusia tersebut secara konseptual dan empiris tidak layak untuk mengatur kehidupan umat manusia.

     Oleh karena itu, sudah saatnya dan sudah selayaknya para pemimpin negeri ini dan juga para pemimpin negeri muslim yang lain, mengambil dan menerapkan sistem hidup yang paripurna yaitu sistem Islam. Karena memang sistem Islam itu diturunkan oleh dzat yang Maha Sempurna, untuk menyelesaikan problematika hidup yang dihadapi oleh umat manusia, bukan hanya umat Islam saja. Jadi satu-satunya harapan masa depan untuk mengatur tatanan dunia baru di seluruh dunia adalah tegaknya negara Khilafah Rasyidah yang akan mengatur dunia berdasarkan hukum syariah. Inilah sistem Khilafah yang akan membawa rahmat dan kesejahteraan bagi dunia. Itu semua bukan sekedar konseptual, namun sistem Khilafah tersebut secara empiris di masa lalu lebih dari 13 abad lamanya, telah menghantarkan kesejahteraan yang tidak hanya berupa hasil dari sitem ekonomi semata. Namun juga hasil dari sistem kesehatan, pendidikan, hukum, politik, budaya, dan sosial, serta seluruh tatanan kehidupan manusia.

     Untuk itu, sebagai wujud meraih ketakwaan yang hakiki pasca Ramadhan adalah semua elemen bangsa ini harus memfokuskan semua perhatian dan segala daya upaya untuk mewujudkan kembali sistem Islam tersebut, agar bisa menyelamatkan negeri dan bangsa ini serta bangsa-bangsa lain dari keterpurukan dan kehancuran yang sedang menunggu di depan mata kita semua. Wallahu a’lam.
      
       

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here