Jalan Gelap Paham Feminisme - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Sunday, June 14, 2020

Jalan Gelap Paham Feminisme


Taufik S. Permana (Geopolitical Institute)

Feminisme merupakan suatu kajian yang mencari akar ketertindasan perempuan sampai pada upaya penciptaan pembebasan perempuan. Wacana feminisme muncul sebagai perlawanan terhadap stuktur dan sistem yang melakukan penindasan atas nama gender. Oleh karena itu wajarlah jika pada awalnya, feminisme bisa berjalan harmonis dengan kapitalisme yang meneriakkan ide kebebasan dalam menentang Islam, yang dianggap patriarkhis. Bahkan karena ide kebebasan berpikir dan berekspresi dalam kapitalisme inilah feminisme bisa terlahir di dunia.

Namun ketika kapitalisme ini telah menjelma menjadi neoliberalisme, feminisme mulai melakukan "perlawanan". Maka kesalahan mendasar ide feminis, baik aliran feminis radikal maupun aliran post kolonial (termasuk feminis muslim), justru terletak pada penggunaan akal sebagai asas dalam berpikir dan memandang berbagai persoalan perempuan sekaligus memberikan solusi terhadap masalah perempuan.

Jika diteliti, mereformasi pemikiran dan identitas Muslimah adalah target utama dalam rencana kolonial untuk menghancurkan dan mencegah pemerintahan Islam, karena kekuatan-kekuatan Eropa mengakui bahwa di dalam masyarakat Islam, perempuan adalah pusat keluarga, jantung masyarakat, dan pendidik generasi masa depan. Oleh karena itu, menjerat pikiran dan hati mereka menjadi penting dalam mensetting ulang mentalitas seluruh masyarakat Muslim. Jika mereka bisa menyebabkan Muslimah menghina dan menolak Syariah dengan menjadikan Syariah sebagai 'musuh' perempuan, maka mereka bisa menciptakan penentang gigih melawan pemerintahan Islam di dunia Muslim.

Jika mereka bisa melengkapi situasi ini dengan menarik perempuan menuju identitas dan sistem Barat hingga melihatnya sebagai jalan menuju pembebasan dan keselamatan, maka mereka juga bisa menghasilkan pendukung dan duta-duta budaya (tsaqofah) Barat dan aturan berorientasi Barat yang kuat. Misionaris Kristen juga secara terbuka mendukung penargetan perempuan dunia Muslim karena merekalah pembentuk utama pemikiran dan kecenderungan anak-anak di kawasan itu.

SM Zwemer, seorang misionaris terkenal ke Timur Tengah berpendapat, "Adanya realitas bahwa kaum Ibu berpengaruh atas anak-anak, baik laki-laki dan perempuan... adalah hal yang terpenting, bahwa perempuan adalah unsur konservatif dalam mempertahankan keimanan mereka, kami percaya bahwa gerakan misionaris seharusnya memberikan penekanan yang lebih jauh dalam kerja mereka terhadap perempuan Muslim sebagai sarana untuk mempercepat penginjilan tanah Muslim."

Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan mereka, para penjajah merekayasa narasi tertentu: bahwa Islam dan aturan Islam menindas perempuan, dan karena itu adalah kewajiban moral bagi mereka untuk menyelamatkan perempuan dengan menghilangkan penyebab ketundukannya – yaitu hukum Syariah – dan menjadikan masyarakatnya menjadi 'beradab' melalui penerapan aturan Barat dan sistem Barat. Narasi ini memberikan justifikasi moral diantara publik mereka sendiri dan publik yang mereka jajah selama penjajahan lanjutan mereka atas dunia Muslim. Narasi ini juga membantu mereka mencapai tujuan untuk mempertahankan dan memperkuat pijakan kaki mereka di wilayah tersebut.

Dalam kacamata feminis, tugas-tugas domestik seorang perempuan lebih dirasakan sebagai beban yang sangat berat dibandingkan dengan tugas laki-laki dalam mencari nafkah.  Pun demikian ketika kaum feminis memandang pembagian waris, kepemimpinan dalam rumah tangga dan pemerintahan, ataupun dalam masalah yang lainnya. Perasaan nyaman tidak nyaman, menguntungkan atau tidak, enak atau tidak, berat atau ringan inilah yang mendominasi kacamata feminis. Padahal tidak semua hal bisa terjangkau oleh  akal dan perasaan manusia. Demikian juga tidak semua akal dan perasaan perempuan sama. Bahkan bisa jadi pula perempuan-perempuan yang awalnya memiliki akal dan perasaan yang sama dalam rentang waktu tertentu bisa berubah, bahkan bertentangan satu dengan yang lain.

Dengan metode berpikir yang hanya berlandaskan pada akal dan perasaan seperti ini, maka kondisi ketertindasan yang diklaim oleh para feminis akan memiliki standar yang tidak jelas. Demikian juga dengan gambaran kebebasan perempuan yang mereka idamkan. Sama-sama tidak jelas standarnya dan kabur karena masing-masing pegiatnya akan memiliki pemikiran dan perasaan yang berbeda pula pada hal diatas. Jika seperti ini yang mereka perjuangkan maka apapun sistemnya mereka akan senantiasa menggugat dan melakukan perlawanan.

Memang benar bahwa akal dan perasaan manusia bisa dijadikan sebagai standar dalam menilai sesuatu. Namun sesuatu yang dimaksud adalah menilai benda atau sifat. Bukan menilai perbuatan manusia. Ketika manusia, baik laki-laki maupun perempuan, dihadapkan pada fakta miskin dan kaya, maka jelas mereka akan menilai kaya lebih baik daripada miskin. Pandai lebih baik daripada bodoh. Manis lebih baik daripada pahit. Demikian seterusnya.

Namun, akal dan perasaan manusia, baik laki-laki maupun perempuan, tidak akan mampu memberi penilaian terhadap hakikat perbuatan manusia. Mereka tidak mampu menilai apakah mencari nafkah lebih baik daripada melakukan pekerjaan domestik, apakah menjadi pemimpin akan lebih baik daripada dipimpin, dan sebagainya. Oleh karena itu keterbatasan dalam menilai hakikat perbuatan manusia ini harusnya menyadarkan manusia bahwa dia membutuhkan standar yang lain untuk menilainya. Dan standar itu tentu harus berasal dari pencipta perbuatan manusia, yakni Allah swt.

Oleh sebab itu Islam datang untuk memberikan tuntunan pada manusia untuk menilai suatu perbuatan. Bukan karena Islam bersifat lebih patriarkhis dan cenderung memposisikan perempuan sebagai pihak kedua, tetapi karena Islam memandang apa yang menjadi hak dan kewajiban laki-laki dan perempuan adalah dua hal yang berbeda sehingga tidak bisa dibandingkan mana yang lebih baik. Masing-masing memiliki hak, kewajiban dan tanggung jawab dalam kadar yang sama di mata Allah swt. Demikianlah Allah swt telah mengatur masing-masing memiliki hak, kewajiban dan tanggung jawab yang berbeda agar bisa saling membantu dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan begitu kehidupan masyarakat akan menjadi lebih harmonis.

Jika saat ini fakta tersebut tidak didapatkan, justru pangkal masalahnya terletak pada penerapan sistem kapitalisme oleh penguasa saat ini. Penerapan sistem yang mendewakan akal ini membuat masing-masing elemen dalam masyarakat menggunakan standard dan caranya sendiri untuk menyelesaikan segala persoalan. Walhasil yang didapat bukanlah keharmonisan dalam bermasyarakat namun justru kehancuran yang didapatkan.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here