Keadilan Untuk Saudara - Saudara Kami Di Papua - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Sunday, June 14, 2020

Keadilan Untuk Saudara - Saudara Kami Di Papua


Ahmad Rizal (Direktur Indonesia Justice Monitor)

Dalam satu dekade terakhir, gerakan separatisme semakin marak di Papua, ini sebagai indikasi penanganan yang selama ini dilakukan pemerintah belum menyelesaikan masalah secara tuntas.

Memang dengan pembangunan dan anggaran yang lebih besar, dan kunjungan Presiden Jokowi akan menunjukkan perhatian yang lebih pemerintah pusat kepada Papua. Namun hal tersebut tidaklah juga akan menyelesaikan masalah.

Kaum Separatis akan mencari alasan pembenaran agar mereka bisa merdeka dari Indonesia, termasuk dengan melibatkan pihak asing. Seperti yang dilakukan Benny Wenda dkk yang mencari dukungan asing.

Pemerintah dalam masalah ini harus menyadari bahwa ada pihak asing yang berkepentingan terhadap Papua. Apa yang terjadi di Papua adalah ajang pertarungan kepentingan asing di bumi yang penuh  dengan kekayaan alam tersebut.

Maka dengan begitu, posisi tawar Indonesia dalam kancah internasional harus diperkuat dengan melepaskan kebergantungan kepada asing, bila tidak, maka mereka akan terus mencari celah untuk melemahkan Indonesia dan mengambil kekayaan alamnya melalui antek-anteknya.

Pemerintah yang mengklaim cinta negeri janganlah abai terhadap separatisme Papua. Ada keresahan di tengah masyarakat bahwa sikap pemerintah Indonesia memang terkesan melakukan pembiaran dan tampak lemah. Meskipun telah berulang kali melakukan pembunuhan terhadap aparat keamanan Indonesia, Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang diduga keras sebagai pelakunya hanya disebut GPK (gerombolan pengacau keamanan) atau KKB (kelompok kriminal bersenjata) bukan organisasi teroris dan makar.

Sikap berbeda ditunjukkan kalau berhadapan dengan kelompok dari umat Islam yang dituduh teroris. Pemerintah sangat serius memberantasnya. Yang masih diduga pelaku teroris saja banyak yang ditembak mati. Dengan bantuan Australia dan Amerika Serikat, Densus pun dibentuk menyukseskan agenda politik Amerika, agenda perang melawan terorisme dengan sasaran khusus umat Islam.

Senjata ampuh yang digunakan adalah demokrasi. Sebelumnya, nilai penting demokrasi  yaitu hak menentukan nasib sendiri telah terbukti sukses memecah Timor Timur dari Indonesia. Seharusnya ini menjadi alasan yang kuat bagi kita untuk menolak sistem demokrasi. Bayangkan, kalau setiap wilayah di Indonesia, atas nama hak menentukan nasib sendiri, menuntut kemerdekaan diri, maka dipastikan Indonesia akan terpecah menjadi beberapa negara kecil yang lemah tak berdaya.

Mulusnya upaya disintegrasi tidak bisa dilepaskan dari  kegagalan pemerintah rezim liberal untuk mensejahtrakan rakyat Papua. Meskipun memiliki kekayaan alam yang luar biasa, rakyatnya hidup dalam kemeskinan. Lagi-lagi pangkalnya adalah sistem demokrasi, yang telah memuluskan berbagai UU liberal. Inilah yang melegitimasi perusahaan mancanegara seperti FreePort untuk merampok kekayaan alam Papua untuk kepentingan mereka sendiri.

Jelas, disintegrasi bukanlah solusi bagi persoalan rakyat Papua. Meminta bantuan negara-negara imperialis untuk memisahkan diri, justru merupakan bunuh diri politik. Perangkap yang akan akan memangsa kita dengan rakus. Memisahkan diri justru akan memperlemah Papua. Negara-negara imperialis yang rakus justru akan lebih leluasa memangsa kekayaan alam negeri Papua. Disintegrasi hanyalah untuk kepentingan segelintir elit yang berkerjasama dengan negara-negara asing untuk mendapatkan tahta dan harta.

Apa yang menjadi penderitaan rakyat Papua, sesungguhnya juga dialami oleh wilayah-wilayah lain di Indonesia. Pangkal persoalannya, adalah diterapkannya sistem Kapitalisme dengan pilar pentingnya demokrasi dalam sistem politik dan liberalism dalam ekonomi. Inilah penyebab utama kemiskinan rakyat Papua , rakyat Indonesia dan negeri-negeri Islam lainnya.

Intervensi negara-negara imperialis yang melakukan berbagai makar justru menjadi penyebab pertumpahan darah di berbagai kawasan negeri termasuk Papua. Negara buas ini menggunakan penguasa-penguasa boneka mereka sebagai 'bodyguard'. Mengamankan kepentingan penjajahan tuan-tuan mereka  dengan cara yang represif. Tidak peduli meskipun harus menumpahkan darah rakyat mereka sendiri. Karena itu, tidak ada jalan lain untuk keluar dari persoalan ini, kecuali kita mencampakkan sistem kapitalisme.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here