Listrik Kok Mahal Ya... - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Sunday, June 14, 2020

Listrik Kok Mahal Ya...


Adam Syailindra (Forum Aspirasi Rakyat)

Sekitar 3 bulan terakhir, sebagian masyarakat mengeluh atas kenaikan tagihan listrik. Kenaikan tarif listrik ini tentunya akan memberikan dampak negatif bagi perekonomian masyarakat.

Di samping itu, sebagian masyarakat merasa kebijakan penguasa negeri ini yang menetapkan Tarif Dasar Listrik yang bekapasitas 900 VA berbiaya cukup mahal. TDL mahal, bila ditelisik bisa jadi alasannya APBN Negara yang membengkak karena harus mensubsidi karena seiring dengan kebutuhan rakyat yang juga semakin meningkat, nilai tukar rupiah yang melemah, biaya produksi yang tinggi dan lain sebagainya.

Listrik yang dibutuhkan masyarakat, bukan hanya masyarakat industri tetapi juga oleh semua masyarakat pengguna energi. Hal tersebut disebabkan energi listrik dapat dikatagorikan sebagai energi bersih yang tidak berdampak negatif terhadap lingkungan. Energi listrik juga mudah dimanfaatkan, listrik yang seharusnya menjadikan rakyat hidup sejahtera hari ini masih terdapat sejumlah problem yang kompleks. Setiap ada kenaikan tarif seperti listrik, beban ekonomi rumah tangga masyarakat rendah akan meningkat dan berefek pada daya beli yang semakin rendah pula. Jadi semakin tinggi tekanan yang diterima kelompok (masyarakat) bawah, pasti akan berpengaruh pada gini ratio. Karena bagaimanapun beban ekonomi rumah tangga akan meningkat.

Alasan tingginya tarif dasar listrik tersebut merupakan kebijakan pemerintah memberikan subsidi secara tepat sasaran. Alasan yang kerap dikemukakan pemerintah untuk menjustiifikasi kenaikan harga listrik adalah selama ini subsidi listrik tidak tepat sasaran dimana kebanyakan penggunanya adalah orang yang kaya. Hal ini tentu saja tidak sepenuhnya benar. Sebab selama ini sebagian besar subsidi masih dinikmati oleh kelompok rumah tangga kecil dan menengah. Alasan lain yang juga digunakan pemerintah untuk menaikkan harga listrik adalah harga jual listrik PLN kepada konsumen lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara di kawasan ASEAN. Memang kenyataannya harga listrik Indonesia sedikit lebih tinggi dibandingkan Singapura, Malaysia dan Thailand.

Sungguh ini adalah kebijakan yang terasa pahit, yang seharusnya rakyat menjadi lebih baik dengan murahnya tarif listrik tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Hal ini tidak akan terjadi dalam sistem Islam karena islam mempunyai mekanisme yang dimana salah satunya adalah menjamin distribusi secara merata dengan mengatur masalah kepemilikan. Dalam Islam, barang-barang yang menjadi kebutuhan umum seperti BBM, lisrik, air dan lainnya sesungguhnya adalah milik rakyat yang harus dikelola Negara untuk kesejahteraan rakyat. Penetapan harga barang tersebut, karena semua itu milik rakyat, mestinya didasarkan pada biaya produksi, bukan didasarkan pada harga pasar.

Kebijakan model Islami ini seperti ini dipercaya akan menjauhkan monopoli oleh swasta dan gejolak harga yang disebabkan oleh perubahan harga pasar, seperti yang sekarang terjadi pada minyak bumi, yang pada akhirnya membuat barang barang-barang public akan sangat murah dan senantiasa stabil. Karena itu, sudah saatnya pemerintah menghentikan privatisasi barang-barang milik umum itu dan mencabut semua undang-undang yang melegalkan penjarahan sumber daya alam (SDA) oleh pihak asing. Lebih dari itu, sudah saatnya negeri ini diatur oleh syariah Islam. Karena hanya dengan syariah islam semua problematika rakyat baik ekonomi, pendidikan, kesehatan bahkan tarif listrik dapat terselesaikan. Disamping solusi, penerapan syariah islam merupakan wujud ketakwaan umat kepada Allah SWT. Sebagaimana Allah janjikan :

"Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu sehingga Kami menyiksa mereka disebebkan perbuatan mereka." (TQS. Al-A'raf[7]:96)

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here