Membaca Potensi Bangkitnya Khilafah State Dalam Waktu Dekat - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, June 26, 2020

Membaca Potensi Bangkitnya Khilafah State Dalam Waktu Dekat


Aminudin Syuhadak (Direktur LANSKAP)

David S Mason (2009) dalam bukunya, Berakhirnya Abad Amerika, mengatakan, "Amerika kini berada di akhir periode kepemimpinan global dan dominasi yang kita nikmati selama 50 tahun. Negeri ini sudah bangkrut secara ekonomi. Kita kehilangan dominasi politik, ekonomi dan sosial. Kita tidak lagi bisa dibandingkan dengan negeri lain dan tidak lagi dikagumi sebagaimana dulu. Kita pun tidak lagi dianggap sebagai model ekonomi dan politik seperti dulu. Sungguh ini merupakan pergeseran global dalam sejarah dunia, baik bagi Amerika dan seluruh dunia."

Sebagai akibat dari kelemahan Amerika, tantangan pun datang dari negara pesaingnya sesama penganut Kapitalisme yang kini mulai bertambah besar dan kuat. Namun, negara-negara tersebut tidak akan mengancam supremasi Amerika karena mereka tidak memiliki visi ideologi yang berbeda dari Amerika. Meskipun Jerman dan Jepang memiliki kekuatan ekonomi, kedua negara tersebut tidak akan menguasai dunia karena ambisi mereka sudah hancur sejak PD II. Di lain pihak, negara seperti India lebih berkonsentrasi sebagai pemain regional untuk berperan sebagai pelayan kepentingan Amerika. Rusia, meskipun sering mengucapkan retorika anti Amerika, juga lebih berposisi defensif dalam menjaga wilayahnya.

Terakhir, Cina yang selama 5000 tahun merupakan penguasa regional dengan pertumbuhan ekonomi dan kemampuan militer yang luar biasa, juga tidak mampu mengubah dunia karena ia pun tidak memiliki ambisi global. Itulah sebabnya Amerika masih mampu menjadi satu-satunya negara global karena belum ada negara ideologis lain dengan jumlah populasi besar, ekonomi dan militer yang kuat, memiliki lokasi geografis strategis yang bangkit saat ini, yang berpotensi menjadi tandingan Amerika. Karena itu, tidaklah mungkin Amerika akan pecah seperti Uni Soviet atau berhenti begitu saja sebagai kekuatan global, sebagaimana terjadi pada Inggris selama tidak ada negara tandingan yang sebenarnya.

Semua negara yang saling bersaing saat ini tidak ada yang memiliki ideologi yang unik dan berbeda yang bisa ditawarkan ke dunia. Kompetisi yang terlihat saat ini tidak lebih dari manifestasi unjuk kekuatan regional masing-masing untuk mendapatkan 'bagian dari sumber alam global' guna mendukung ekonomi masing-masing sehingga mampu menjadi pemain global yang disegani ketimbang menjadi negara global sejati.

Meski demikian, sudah banyak sekali jurnal akademis, artikel ilmiah, pernyataan kebijakan pemerintah Barat, opini publik global, lembaga ilmiah dan laporan intelijen dalam 10 tahun terakhir yang berakhir pada kesimpulan, bahwa di dunia saat ini terjadi perubahan diam-diam, serius dan mendalam. Tidak lain dan tidak bukan adalah terjadinya kebangkitan intelektual dan politik di Dunia Islam. Alec Rasizade (2003), MR Woodward (2004), Thomas R. McCabe (2007), J. O' Loughlin (2009), Mustafa Aydin, Cynar Ozen (2010), Rachel Rinaldo (2010) dan Sanjida O' Connell (2010) dalam penelitiannya berkesimpulan bahwa bangkitnya Islam dan Khilafah adalah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri lagi.

Menurut J.O' Loughlin (2009), dalam 50 tahun terakhir terjadi siklus naik-turunnya kekuatan adidaya, yang pada puncaknya adalah timbulnya kekuatan armada laut sebagai mekanisme kendali global. Sejak kejatuhan Khilafah Uthmani dan menurunnya pamor Inggris pada awal abad 20 serta kegagalan usaha Jepang dan Jerman pada PD II untuk menjadi adidaya, kompetisi Amerika melawan Uni Soviet tampak sebagai konfrontasi sesama adidaya. Setelah kejatuhan Soviet, Amerika mencapai puncak kepemimpinan dengan mengendalikan negara besar lainnya dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, setelah 15 tahun mendominasi, kepemimpinan Amerika pun mulai dipertanyakan, dan persaingan adidaya bisa menjadi kenyataan kembali.

Dengan menunjukkan realita yang ada sekarang, intelijen Amerika menganggap bahwa tuntutan umat Islam untuk menginginkan Islam kembali adalah bentuk ancaman terhadap keamanan dan kepentingan Amerika. Perjuangan politik dan ideologi (bukan kekerasan) yang dilakukan oleh aktifis umat Muslim telah mencapai titik bahwa tuntutan terhadap Khilafah dan syariah adalah ancaman ideologis terserius yang Amerika pernah hadapi. Bekas Wakil Presiden Amerika Dick Cheney pada tanggal 23 Februari 2007 secara jelas menyatakan, "Mereka memiliki tujuan untuk menegakkan Khilafah yang berkuasa dari Spanyol, Afrika Utara, melewati Timur Tengah, Asia Selatan hingga mencapai Indonesia—dan tidak berhenti di sana."

Lebih jauh lagi, bekas Menteri Dalam Negeri Inggris Charles Clarke, dalam pidatonya di hadapan lembaga pemikiran Amerika Heritage Foundation berkata, "Tidak ada lagi kompromi dalam menegakkan kembali Khilafah; tidak ada lagi kompromi untuk menerapkan hukum syariah."

Ancaman tentang adanya Khilafah sering diulang-ulang oleh pemerintahan Bush dan merupakan alasan di balik invasi Irak dan Afghanistan. Pensiunan Jenderal Richard Dannatt, penasihat Perdana Menteri David Cameron, mengatakan dalam wawancaranya dengan BBC Radio 4 mengakui tujuan perang di Afganistan, "Di sini ada agenda kaum Islamis. Apabila tidak segera kita tumpas di Afganistan, atau Asia Selatan, maka konsep ini akan menyebar dan pengaruhnya pun akan sulit dikendalikan."

Pada akhirnya, dengan kenyataan yang ada dan berbagai pernyataan dari Barat, maka situasinya adalah menjajaki kondisi Dunia Islam seperti populasi, umat beragama, kekuatan dan keragaman budaya, besaran dan kendali terhadap benua, ekonomi dan militer, kemauan politik, dan kekuatan ideologi guna mengevaluasi apakah penyatuan umat Islam di bawah satu Khilafah merupakan kemungkinan realistik. Dengan demikian, Khilafah State bisa bangkit sebagai negara utama, unik dan global pada abad 21.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here