Mengapa Khilafah Bisa Runtuh? - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, June 26, 2020

Mengapa Khilafah Bisa Runtuh?


Fajar Kurniawan (Analis Senior PKAD)

Keruntuhan Khilafah Islamiyah disebabkan oleh dua faktor penting: (1) faktor internal; (2) faktor eksternal.

Faktor Internal

Pertama: Kemunduran berpikir. Pada dasarnya eksistensi sebuah negara dan peradaban ditentukan oleh sejauh mana penjagaan penguasa dan rakyatnya terhadap pemahaman, standarisasi dan sistem nilai yang mereka anut. Daulah Islamiyah dan peradaban Islam tegak di atas mafahim (pemahaman), maqayis (tolok ukur) dan qana'at (tradisi) Islam. Daulah Islamiyah tetap tegak dan berdiri kokoh manakala penguasa dan rakyatnya memiliki keterikatan dan kesadaran tinggi terhadap tiga hal tersebut. Sebaliknya, ketika penguasa dan rakyat tidak lagi terikat dengan mafahim, maqâyis dan qana'at Islam, Daulah Islamiyah telah kehilangan pilar penyangganya.  Keruntuhannya pun tinggal menunggu waktu. Inilah yang terjadi, terutama pada masa-masa terakhir Khilafah Utsmani.

Kedua: Masuknya paham nasionalisme. Prancis, Inggris dan Amerika melakukan tipudaya dengan menabur benih kehancuran dengan menanamkan paham nasionalisme pada abad 18-19 di tengah-tengah kaum Muslim. Tumbuhnya paham ini menjadi tikaman yang tepat menghujam jantung kesatuan Negara Islam. Strategi ini memberikan hasil yang cepat dan telak. Nasionalisme yang dikampanyekan berhasil menimbulkan rasa permusuhan, kebencian dan peperangan di antara kaum Muslim. Gagasan nasionalisme menyebar di seantero kekuasaan Khilafah Utsmani. Begitulah kaum Muslim dikerat dengan pisau nasionalisme, ukhuwah dinomor duakan. Bermula dari pelataran Bumi Syam, fanatisme ini berkembang dan membesar ke berbagai negara. Fanatisme ini bertujuan untuk menumbangkan Khilafah Utsmani yang dipegang oleh orang Turki. Lebih ironis lagi, fanatisme ini dikendalikan oleh orang-orang Nasrani Libanon, yang telah terbina dalam pendidikan Barat.

Ketiga: Adanya konspirasi, kesadaran politik umat menurun dan mental para penguasa Islam rusak. Para penguasa Islam saat itu juga tak segan-segan bersekongkol dengan negara-negara kafir untuk menghancurkan eksistensi Khilafah Islamiyah.  Contohnya adalah Dinasti Saud yang rela menghambakan dirinya pada kepentingan kaum kafir. Contoh lain adalah Wali Mesir Mohammad Ali yang bersekongkol dengan Prancis untuk memisahkan diri dari Khilafah Islamiyah pada tahun 1830-an. Selain itu sejumlah kebijakan Khalifah justru menjadi sebab keruntuhan Khilafah Utsmaniah, mulai dari pengadopsian perundang-undangan Barat ke dalam perundangan-undangan Khilafah, pembiaran terhadap gerakan Turki Muda yang dipelopori Mustafa Kemal serta kebijakan-kebijakan lainnya.

Mustafa Kemal dari Gerakan Turki Muda kelihatannya seperti seorang Muslim yang taat. Dia shalat bersama-sama umat Islam di mesjid-mesjid. Bahkan diapun menyampaikan khuthbah Jumat di beberapa mesjid. Dia bersumpah akan berperang untuk menyelamatkan Khilafah. Dia memuji-muji Allah, Islam dan Nabi Muhammad SAW sepanjang waktu. Dia menyebutkan al-Quran sebagai Kitab Suci yang sempurna. Dia berkata al-Quran itu adalah konstitusi. Dia juga mengatakan itu semuanya pada pembukaan Majelis Agung Nasional di Ankara sewaktu Perang Kemerdekaan. Umat Islam pun percaya. Dia mendapatkan kekuasaan penuh selama Perang Kemerdekaan. Setelah Turki memperoleh kemerdekaannya, Mustafa Kemal dipilih oleh Majelis sebagai Presiden Turki. Gerakan Turki Muda memperoleh kekuasaan dan Mustafa Kemal membatalkan Khilafah pada 3 Maret 1924. Sejak itu berakhirlah sudah kesatuan kepemimpinan bagi ummat Islam yang telah berlangsung selama 1300 tahun. Sejarah kemudian mencatat, ternyata Mustafa Kemal menjalankan agenda Inggris: melakukan revolusi untuk menghancurkan Khilafah Islamiyah.

Faktor Eksternal

Pertama: Perang pemikiran dan peradaban. Barat menyadari sepenuhnya bahwa umat Islam tidak bisa dikalahkan selama mereka masih berpegang teguh dengan Islam. Barat juga memahami bahwa umat Islam di seluruh dunia memiliki ikatan persaudaran yang sangat kuat, yakni persaudaraan yang tegak di atas 'aqidah islamiyyah, dan bersatu bersatu di bawah kepemimpinan seorang khalifah.  Mereka juga menyadari bahwa Khilafah Islamiyah adalah "jantung dan perisai" umat Islam. Kaum Muslim hanya bisa dinamis, bergerak dan hidup ketika berada di dalam sistem Islam. Islam pun hanya bisa diterapkan secara sempurna dalam kehidupan individu, masyarakat dan negara di bawah naungan Khilafah Islamiyah.

Langkah pertama yang dilakukan oleh orang-orang kafir untuk menghancurkan Khilafah Islamiyah adalah memisahkan kaum Muslim dari Islam dan menanamkan ikatan baru di tengah-tengah mereka, yakni ikatan-ikatan 'ashabiyyah semacam nasionalisme, mazhabisme sempit, sukuisme, patriotisme, dan lain sebagainya. Untuk itu, mereka menyebarkan paham sekularisme dan kebebasan untuk menghancurkan keterikatan kaum Muslim dengan Islam; juga paham nasionalisme untuk memecah-belah persatuan umat Islam serta untuk menumbuhkan benih-benih disintengrasi dalam Daulah Khilafah Islamiyah.

Saat Khilafah mulai melemah, sementara fikrah umat pun sudah sangat kabur, maka mudah bagi Barat untuk melakukan invasi dengan menggunakan politik devide et impera.

Kedua: Melenyapkan Khilafah Islamiyah. Barat sangat memahami bahwa persatuan adalah inti dari kekuatan umat Islam. Khilafah Islam pada masa kegemilangannya telah menunjukkan posisinya sebagai superpower pada masa Abad Pertengahan.

Permainan politik Barat dipusatkan di Turki dengan tujuan untuk menggulingkan pemerintah dan menghancurkan Khilafah. Inggris menciptakan move politik yang eksekusinya dibantu oleh antek-anteknya hingga menggiring Khilafah masuk ke dalam jebakannya.  Inggris, dengan memanfaatkan sekutu-sekutu dan antek-anteknya, terus berusaha merongrong Khilafah Islamiyah. Inggris, baik terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi, menjadi dalang pemberontakan melawan Khilafah Islamiyah. Begitu pula Prancis dan negara-negara imperialis Barat lainnya. Mereka terus mencaplok wilayah-wilayah Khilafah Islamiyah serta mengobarkan peperangan dan pemberontakan melawan Khilafah Islamiyah. Lambat laun, Khilafah Islamiyah mulai melemah dan tidak mampu menjaga wilayah kekuasaannya yang amat luas.  Akibatnya, satu demi satu wilayah kekuasaan Khilafah Islamiyah jatuh ke tangan penjajah; mulai dari Asia, Afrika, Kaukasus, dan lain sebagainya.  Di pusat kekuasaan Khilafah Islamiyah, Inggris menyokong sepenuhnya gerakan Turki Muda yang dipimpin oleh Mustafa Kemal. Melalui persekongkolan, intrik, pengkhianatan dan tipudaya licik, akhirnya Inggris berhasil melenyapkan sistem Khilafah yang agung dan mengganti Khilafah dengan sistem kenegaraan sampah, yakni demokrasi-sekular.

Inilah faktor-faktor penting yang menyebabkan keruntuhan Khilafah Islamiyah.

Ketiga: Melancarkan serangan militer, menciptakan konflik dan mengadakan ikatan perjanjian. Pada tahun 1914-1918 pecah Perang Dunia I, ada kesempatan bagi bangsa-bangsa Arab untuk memisahkan diri dari Khilafah Utsmaniah. Mereka ingin mendirikan "Khilafah Arabiyah" sebagai tandingannya. Kesempatan ini tidak disia-siakan Inggris untuk menghancurkan kekuatan Islam. Eropa mengerti betul bahwa perpecahan antara Arab dan Turki mengakibatkan kekuatan Islam lemah. Jika kekuatan Islam melemah, Eropa menjadi kuat. Mereka sudah lama menunggu pertarungan antarumat Islam tersebut. Akibat dari pertarungan kedua bangsa itu, jelas kekuatan Islam menjadi lemah. Ini sekaligus merupakan jalan pintas meunuju kehancurannya. (Dr. Muhammad Imarah, Al-Jam'iyah al-Islâmiyyah wa al-Fikrah al-Qawmiyyah, Dar asyu-Syuruq, 1414-1994, hlm. 53, 54).

Selain menciptakan konflik, Barat juga membuat sejumlah perjanjian yang mampu membuat wilayah Khilafah Utsmani dengan mudah diobrak-abrik oleh musuh, seperti Perjanjian Karlowitz 1699, Perjanjian Passarowitz 1718, Perjanjian Belgrade 1739, Perjanjian Kucuk Kaynarca 1774, dll. Semuanya dimaksudkan untuk mengerat habis wilayah Khilafah Utsmani. Rusia mengerat wilayah Khilafah di utara sampai perbatasan dengan Laut Hitam. Prancis menjajah Mesir pada 1698, Aljazair pada 1830, Tunisia pada 1881 dan Moroko pada 1912. Inggris mengambil wilayah India, Cina barat, Sudan, dan akhirnya merebut Mesir dari Prancis. Kaum Muslim seperti hidangan yang direbutkan dan Barat mulai melakukan ekspansi militer dengan 3G (gold-gospel-glory), lalu menjajah negeri-negeri Muslim.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here