Menuju Format Pertumbuhan Ekonomi Gaspol - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Tuesday, June 16, 2020

Menuju Format Pertumbuhan Ekonomi Gaspol


Aminudin Syuhadak (Direktur LANSKAP)

Demokrasi mengajarkan bahwa kedaulatan itu ada di tangan rakyat. Maknanya, sumber-sumber hukum dan kekuasaan itu ada pada rakyat. Oleh karena itu, untuk bisa menjadi penguasa itu harus bisa meraih suara mayoritas dari rakyat. Ternyata, hal itu tidak dapat diwujudkan, kecuali harus ada kendaraannya, yaitu partai politik. Agar partai politik bisa menjalankan roda politiknya untuk menjadi partai yang besar, hingga dapat meraih suara mayoritas dari rakyat, ternyata sangat membutuhkan amunisi yang tidak murah. Siapa yang memiliki kemampuan untuk membiayai kendaraan politik yang sangat mahal tersebut? Tidak lain adalah para pemilik modal besar.

Dengan menggunakan istilah no free lunch, maka kalau parpol mengharapkan dukungan dari pemodal besar, tentu tidak ada yang gratis. Jika pemodal besar sudah mengucurkan dananya sampai miliaran, bahkan triliunan, tentu bagi anggota parpol yang telah berhasil didudukkan di tampuk kekuasaan, berbagai kebijakan yang akan dikeluarkan harus tunduk pada kepentingan para pemilik modal tersebut. Atau, jika pemodal besar itu sendiri yang menginginkan untuk duduk dalam kekuasaan, maka kekuasaan itu akan dijadikan sebagai alat untuk memuluskan semua kepentingan proyek-proyek bisnis mereka.

Jika pemerintah sudah tunduk kepada pemilik modal, tentu segala aturan yang dibuat akan berpihak kepada kepentingan kaum pemilik modal. Jika kepentingan kaum pemilik modal itu yang dimenangkan, itu maknanya Pemerintah telah "mengalahkan" kepentingan dari rakyat secara keseluruhan.

Dari sini harus ada format perubahan yang ideal sebagai solusi atas krisis yang dibuat oleh kapitalisme. Pertumbuhan ekonomi dalam Islam itu dapat terus ditingkatkan jika pembangunan ekonominya difokuskan ke dalam empat sektor ekonomi riil, yaitu: industri, pertanian, perdagangan dan jasa. Artinya, Islam menghendaki agar pertumbuhan ekonomi itu benar-benar berbasis pada sektor ekonomi riil tersebut, bukan pada sektor ekonomi non riil.

Adapun pengembangan ekonomi di sektor non riil—yaitu aktivitas ekonomi di pasar keuangan dan pasar modal (sebagaimana yang berkembang pesat pada saat ini)—akan dilarang, karena basis transaksinya adalah riba dan spekulasi (perjudian). Pengembangan ekonomi di sektor ini memang tampak membawa pertumbuhan ekonomi yang tinggi, namun itu sebenarnya hanyalah ilusi. Berbagai transaksi yang terjadi di sektor ini hanya merupakan perputaran uang di lantai bursa saja, tidak banyak membawa implikasi pada ekonomi sektor riil. Perputaran uang di sektor ini hanya penggelembungan saja seperti balon (bubble economic), yang akan terus membesar, namun isinya kosong. Perputaran uang di sektor ini lama-kelamaan akan semakin besar, jauh melampaui perputaran uang di sektor ekonomi riil. Padahal penggelembungan ekonomi di sektor ini sewaktu-waktu dapat meledak dan akan menghasilkan krisis ekonomi yang sangat dahsyat, sebagaimana yang selama ini terjadi.

Dalam ekonomi Islam, aktivitas ekonomi di sektor keuangan sesungguhnya masih ada yang dibolehkan, selama aktivitas itu memang dalam rangka untuk mendukung kegiatan ekonomi sektor riil. Misalnya, dibolehkan untuk bertransaksi utang-piutang (dayn) tanpa menggunakan riba, dalam rangka untuk pengembangan bisnis. Dibolehkan juga aktivitas penanaman modal untuk kepentingan investasi ekonomi sektor riil dengan menggunakan berbagai akad syirkah. Intinya, Islam sangat mendorong tumbuhnya ekonomi di sektor riil, dengan pertumbuhan yang sehat, bukan dengan pertumbuhan yang semu, sebagaimana pertumbuhan ekonomi di sektor non riil seperti dalam ekonomi kapitalisme.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here