Mewujudkan Sistem Ekonomi Yang Dituntun Wahyu - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Sunday, June 14, 2020

Mewujudkan Sistem Ekonomi Yang Dituntun Wahyu

Aji Salam (ASSALIM Jatim)

Sistem ekonomi Islam adalah sistem ekonomi yang solutif. Sistem ekonomi Islam akan memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi para pemilik modal untuk mengembangkan bisnisnya, namun harus mengikuti batas-batas aturan yang telah ditetapkan oleh syariah Islam. Misalnya saja, Islam membolehkan swasta untuk mengembangkan berbagai bisnis di sektor industri, namun syariah Islam telah membatasi (baca: mengharamkan) untuk bisnis industri pertambangan yang besar. Adapun untuk industri pertambangan yang masuk kategori kecil, masih diperbolehkan.

Apakah pembatasan ini tentu tidak tidak menghambat laju pertumbuhan ekonomi dan bisnis. Ekonomi itu dapat tumbuh atau tidak tidak ditentukan semata-mata oleh peran pemilik modal dari kalangan swasta saja. Kunci pertumbuhan ekonomi itu dapat dikembalikan pada akan dikembangkan atau tidaknya empat sektor ekonomi riil, yaitu: industri, pertanian, perdagangan dan jasa. Pengembangan empat sektor itu dapat dilakukan oleh pihak manapun, baik individu, perusahaan swasta, maupun pemerintah. Jika empat sektor tersebut terus dikembangkan, insya Allah laju pertumbuhan ekonomi akan terus terjaga.

Islam memiliki pandangan khusus terkait terhadap penanaman modal asing. Hukum asal dari transaksi perdagangan luar negeri dan penanaman modal asing adalah sama dengan transaksi yang ada di dalam negeri. Artinya, Islam memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi individu maupun swasta untuk melakukan berbagai aktivitas transaksi perdagangan dan penanaman modal dengan pihak manapun, seberapapun besarnya, selama masih dalam koridor yang dibolehkan oleh syariah Islam.

Yang membedakan antara transaksi dalam dan luar negeri itu hanya menyangkut: dengan warga negara mana kita akan bermitra. Sebab, kebolehan dalam transaksi luar negeri itu hanya bergantung pada status warga negara dari mitra bisnis kita. Jika pihak mitra bisnis kita berasal dari negara yang berstatus kafir harbi fi'lan (negara kafir yang sedang berperang dengan Negara Khilafah), maka hukumnya haram secara mutlak untuk bertransaksi dengan mereka. Jika status warga negara mitra bisnis kita berasal dari negara kafir mu'ahid (negara kafir yang terikat dengan perjanjian), maka kebolehan berbisnis dengan mereka harus mengikuti isi perjanjiannya. Adapun untuk berbisnis dengan warga negara yang berstatus negara kafir harbi hukman, maka setiap proses transaksi bisnisnya perlu ijin khusus dari Negara Khilafah.

Islam memiliki cara praktis meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan bisnis. Pertumbuhan ekonomi dalam Islam itu dapat terus ditingkatkan jika pembangunan ekonominya difokuskan ke dalam empat sektor ekonomi riil, yaitu: industri, pertanian, perdagangan dan jasa. Artinya, Islam menghendaki agar pertumbuhan ekonomi itu benar-benar berbasis pada sektor ekonomi riil tersebut, bukan pada sektor ekonomi non riil.

Adapun pengembangan ekonomi di sektor non riil—yaitu aktivitas ekonomi di pasar keuangan dan pasar modal (sebagaimana yang berkembang pesat pada saat ini)—akan dilarang, karena basis transaksinya adalah riba dan spekulasi (perjudian). Pengembangan ekonomi di sektor ini memang tampak membawa pertumbuhan ekonomi yang tinggi, namun itu sebenarnya hanyalah ilusi. Berbagai transaksi yang terjadi di sektor ini hanya merupakan perputaran uang di lantai bursa saja, tidak banyak membawa implikasi pada ekonomi sektor riil. Perputaran uang di sektor ini hanya penggelembungan saja seperti balon (bubble economic), yang akan terus membesar, namun isinya kosong. Perputaran uang di sektor ini lama-kelamaan akan semakin besar, jauh melampaui perputaran uang di sektor ekonomi riil. Padahal penggelembungan ekonomi di sektor ini sewaktu-waktu dapat meledak dan akan menghasilkan krisis ekonomi yang sangat dahsyat, sebagaimana yang selama ini terjadi.

Dalam ekonomi Islam, aktivitas ekonomi di sektor keuangan sesungguhnya masih ada yang dibolehkan, selama aktivitas itu memang dalam rangka untuk mendukung kegiatan ekonomi sektor riil. Misalnya, dibolehkan untuk bertransaksi utang-piutang (dayn) tanpa menggunakan riba, dalam rangka untuk pengembangan bisnis. Dibolehkan juga aktivitas penanaman modal untuk kepentingan investasi ekonomi sektor riil dengan menggunakan berbagai akad syirkah. Intinya, Islam sangat mendorong tumbuhnya ekonomi di sektor riil, dengan pertumbuhan yang sehat, bukan dengan pertumbuhan yang semu, sebagaimana pertumbuhan ekonomi di sektor non riil seperti dalam ekonomi kapitalisme.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here