Nilai 100 Buat Suami Istri Yang Solid Mengemban Dakwah - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Tuesday, June 16, 2020

Nilai 100 Buat Suami Istri Yang Solid Mengemban Dakwah


Abu Inas (Tabayyun Center)

Kewajiban mengemban dakwah ditujukan kepada semua orang, tanpa membeda-bedakan status sosial, kekayaan, jenis kelamin, dan lain-lain.

Kalian memerintahkan kemakrufan dan mencegah kemungkaran, kalau tidak, Allah pasti akan menjadikan orang-orang jahat di antara kalian menguasai kalian (HR al-Bazzar dan ath-Thabrani).

Dalam melakukan dakwah harus serius, sungguh-sungguh dan mengerahkan segala daya upaya. Ketika sudah ditunaikan, gugurlah kewajiban itu. Pengemban dakwah tidak dimintai pertanggungjawaban atas orang yang tetap menolak dakwah.

Demikian pentingnya kewajiban ini, setiap Muslim dituntut untuk terus berupaya melaksanakannya sekalipun hanya mampu mengutuk kemungkaran di dalam hatinya, dan inilah yang dikatakan sebagai selemah-lemahnya iman (HR Muslim).

Adapun dalam melaksanakan kewajiban berdakwah, kehidupan Rasulullah saw. merupakan satu-satunya teladan yang patut dicontoh dalam menyampaikan Islam, sejak Beliau berada di Makkah hingga hijrah ke Madinah dan membangun sebuah tatanan masyarakat yang didasarkan pada aturan dari Allah Swt. Pada periode Makkah, Rasul dan para Sahabat mengalami tekanan, kesulitan dan penderitaan yang amat berat dari orang kafir Quraisy. Sekalipun demikian, Rasul sanggup menanggung berbagai hambatan yang menghadang dakwah, karena di sisinya ada istri tercinta, Khadijah ra., yang selalu setia dan siap memberikan dorongan dan bantuan, moril maupun materil di jalan dakwah. Demikian pula pada periode Madinah saat Rasul tengah melakukan proses Perjanjian Hudaibiyah; Beliau juga memiliki Ummu Salamah ra. yang sangat bijak ketika memberi masukan kepada Rasul saat kaum Muslim tidak segera mematuhi perintah Beliau untuk bercukur dan menyembelih hewan kurban. Di sinilah arti penting adanya seorang pendamping setia yang sangat memahami tugas berat yang harus dipikul oleh Rasul, juga sangat memahami sifat dan karakter Rasul hingga dapat memberi masukan yang bijak dengan cara tepat.

Sebagai manusia, setiap Muslim pasti pernah mengalami pasang-surut dalam melaksanakan kewajiban ini. Ujian dalam bentuk kesulitan dan kenikmatan hidup datang silih berganti. Tak jarang semua itu membuat kita merasa terhimpit sesak atau bahkan terlena dengan kesibukan dan kemewahan sehingga tanpa disadari mengurangi waktu, bahkan meninggalkan dakwah.

Untuk itulah, orang terdekat, khususnya suami atau istri, harus selalu saling mengingatkan agar keduanya tetap konsisten dan bersemangat dalam melaksanakan kewajiban dakwah ini, apapun kondisinya.

Islam telah menetapkan bahwa suami adalah pemimpin bagi istri di dalam rumah tangga:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ

Laki-laki merupakan pemimpin bagi perempuan karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian lainnya (QS an-Nisa' [4]: 34).

Di sisi lain, Islam juga menjelaskan bahwa hubungan antara suami dan istri adalah hubungan yang penuh persahabatan:

إِ نَّمَا النِّسَا ءُ شَقَا ِئقُ الِرّجَالِ

Sesungguhnya perempuan (istri) itu adalah sahabat laki-laki (suami) (HR Abu Dawud dan Ahmad).

Karena itu, pergaulan di antara keduanya adalah pergaulan sebagaimana dua orang yang bersahabat, satu sama lain dapat saling mencurahkan perasaan dan bertukar pikiran demi mencari solusi terhadap masalah yang dihadapi, dalam keadaan senang maupun sulit.

Biduk rumah tangga harus tetap terjaga pada rel yang semestinya, yaitu mencari keridhaan Allah di dunia dan akhirat. Demikian pula kemitraan antara suami dan istri juga dibangun atas dasar prinsip tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, serta berlomba-lomba dalam menjalankan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya serta dalam menjauhi larangan-Nya.

Prinsip ini juga dapat diterapkan dalam rangka menjalankan kewajiban berdakwah. Suami dan istri dapat saling memberi semangat, nasihat, saran, juga koreksi satu sama lain. Namun, perlu diingat, dengan posisi suami sebagai pemimpin, saat istri memberi masukan, tidak mengurangi kewibawaan dan kehormatan suami. Sebaliknya, suami selayaknya juga dapat menjadi teladan dan inspirator bagi istri dalam berdakwah.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here