Pemerintah Telah Gagal? - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Wednesday, June 24, 2020

Pemerintah Telah Gagal?


Fajar Kurniawan (Analis Senior PKAD)

Media Australia mengkritik penanganan pandemi virus corona baru (Covid-19) di Indonesia. Indonesia bahkan disebut akan menjadi hotspot
atau pusat wabah virus tersebut di dunia.

"The world's next coronavirus hotspot is emerging next door," bunyi judul Sydney Morning Herald (SMH) dalam laporannya yang diterbitkan 19 Juni 2020.

"Sebagian besar negara-negara Asia Tenggara telah berhasil meratakan tingkat infeksi coronavirus mereka, tetapi Indonesia kalah dalam pertarungannya dengan Covid-19," tulis media tersebut sebagaimana dikutip dari sindonews.com (Senin, 22 Juni 2020)

Catatan:

Negara ini masih berada di antara negara-negara dengan jumlah pasien covid-19 tertinggi di Asia Tenggara, dengan jumlah kasus Corona atau Covid-19 bertambah 1.051 orang. Sehingga total menjadi 47.896 orang. Selain itu, ada penambahan 506 pasien yang sembuh dari Corona. Dengan demikian kasus sembuh total secara akumulatif sebanyak 19.241 orang. Sementara itu, masih ada pasien yang meninggal dunia atas virus ini tercatat sebanyak 35 orang meninggal dunia. Sehingga total kasus meninggal akibat Covid-19 hingga hari ini mencapai 2.535 orang (data Selasa (23/6) pukul 12.00 Wib). Upaya pemerintah untuk meningkatkan jumlah tes telah terhambat oleh penundaan yang terus-menerus, dan sebagian daerah masih menghadapi lonjakan infeksi baru.

Bertambahnya jumlah pasien positif virus corona di dalam negeri, membuktikan bahwa pemerintah gagal. Ini termasuk indikasi kekurangsiapan pemerintahan Presiden Jokowi dalam menangani pandemi virus corona di Indonesia. Ini dimulai dari respons awal sangat mengkhawatirkan dengan pernyataan menteri kesehatan yang kontroversial, yang pernah menyarankan bahwa doa akan membantu Indonesia aman terhindar dari virus.

Di awal virus ini merebak di Indonesia, pemerintah bekerja terlambat. Walaupun pemerintah pusat membentuk tim respons cepat untuk mengatasi krisis dan akan mengambil kendali penanganan corona, koordinasi antara Istana dan pemerintah daerah masih minim.

Sorotan berikutnya adalah fokus pemerintah yang terlalu menitikberatkan pada ekonomi boleh jadi membuat publik semakin reaktif. Masyarakat juga cemas terkait kebijakan pemerintah tidak memberlakukan lockdown. Di samping problem ada banyak alat-alat kesehatan Indonesia merupakan produk impor.

Berpijak dari kenyataan ini, wajar jika pengamat seperti Joshua Kurlantzick dalam tulisannya di World Politics Review, beranggapan bahwa pandemi virus corona telah sepenuhnya memperlihatkan kelemahan Jokowi sebagai administrator yang tidak efektif dan terlalu berhati-hati, yang meskipun demikian memiliki kecakapan politik yang cukup untuk memenangkan dua Pilpres. Jokowi bergerak lambat untuk memungkinkan bagian-bagian negara itu memberlakukan pembatasan sosial yang tegas, dan pemerintahannya berulang kali mengeluarkan panduan membingungkan tentang bagaimana cara mengatasi COVID-19.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here