Penyelamatan Energi Dalam Sebuah Perspektif - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, June 12, 2020

Penyelamatan Energi Dalam Sebuah Perspektif


Agung Wisnuwardana (IJM)

Energi merupakan sarana hidup yang dibutuhkan manusia untuk mempertahankan eksistensinya dan merupakan pemberian dari Allah SWT. Sarana hidup ini berupa Energi terdapat di mana saja; di dalam tanah, air, permukaan tanah, udara, dan lain sebagainya, seperti tambang, minyak, gas, sinar matahari, tumbuhan, hewan dan banyak lagi lainnya. Jadi, Energi bagian adalah segala sesuatu yang terkandung di dalam bumi, air, maupun di udara untuk kelangsungan hidup manusia.

Dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa bumi berfungsi sebagai tempat tinggal manusia, langit sebagai atap dan air hujan yang diturunkan serta buah-buahan sebagai rezki bagi manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Allah SWT berfirman :

] الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (٢٢) [

"Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu Mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, Padahal kamu mengetahui". (Q.S. Al-Baqarah [2]:22)

Lebih tegas lagi, Allah SWT menyatakan bahwa manusia telah diberikan sarana hidup yang terdapat disekelilingnya:

] هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا … (٢٩) [

"Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu...". (Q.S. Al-Baqarah [2]:29)

Dengan demikian, Energi yang ada berfungsi sebagai sarana hidup untuk memenuhi kebutuhan manusia di dunia ini sebagai kabaikan, rahmat dan sara hidup untuk dimanfaatkan oleh manusia dalam rangka mengabdi dan menjalankan perintah Allah.

Lalu siapakah yang seharusnya melakukan pengelolaan Energi yang jumlahnya tidak sedikit? Jawabannya menurut Ideologi Kapitalis yang juga merupakan pandangan pemerintah saat ini adalah bahwa kekayaan alam termasuk Energi harus dikelola oleh individu atau perusahaan swasta karena ini merupakan ciri utama sistem ekonomi kapitalis dimana kepemilikan privat (individu) atas alat-alat produksi dan ditribusi dalam rangka mencapai keuntungan yang besar dalam kondisi-kondisi yang sangat konpetatif sehingga perusahaan milik swasta merupakan elemen paling pokok dari kapitalis.

Sementara jawabannya menurut Ideologi Islam, adalah bahwa kekayaan alam seperti Energi merupakan harta milik umum yang menguasai hajat hidup masyarakat harus dikelola oleh negara. Negaralah mewakili rakyat melakukan eksplorasi dan eksploitasi energy, menjamin ketersediaannya untuk kebutuhan rakyat dan jika telah terpenuhi dan masih ada kelebihan Negara boleh mengekspornya keluar serta mengelola penghasilannya, Negara bukanlah sebagai pemilik atau yang menguasai kekayaan itu. Semua hasil bersihnya dikembalikan kepada rakyat dalam bentuk pelayanan yang lain, bisa berupa; pelayanan kesehatan, pendidikan, keamanan, listrik, air, transportasi, dan sebagainya.

Keharusan pengelolaan energi tersebut, karena status sumber energy berasal dari tambang-tambang dari tanah yang jumlah tidak sedikit, laksana air mengalir, maka individu dan swasta dilarang menguasainya sebab Energi tersebut dari aspek sumber dan kebutuhan rakyat termasuk harta milik umum yang menguasai hajat hidup masyarakat, harus dikelola oleh Negara sebagai wakil rakyat bukanlah sebagai pemilik atau yang menguasai kekayaan tersebut sedangkan hasil pengelolaannya dimasukkan dalam kas Bait al-Mal, selanjutnya dikembalikan kepada rakyat.

Rasulullah SAW bersabda :

« الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِى ثَلاَثٍ : فِي الْمَاءِ وَالْكَلإِ وَالنَّارِ» (رواه أحمد)

Rasulullah SAW bersabda :"Kaum muslim bersekutu dalam tiga hal; air, padang dan api" (H.R. Ahmad).

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah SAW bersabda:

« النَّاسُ شُرَكَاءُ فِي الْمَاءِ وَالْكَلَأِ وَالنَّارِ » (رواه أبو عبيد)

"Orang-orang (Masyarakat) bersekutu dalam hal; air, padang gembalaan dan api." (H.R. Abû 'Ubaid).

Hadits ini juga menegaskan bahwa yang termasuk harta milik umum yang menguasai hajat hidup masyarakat adalah semua kekayaan alam yang sifat pembentukannya menghalangi individu untuk mengeksploitasinya.

Selain itu, hal yang paling mendasar adalah bahwa energi ini merupakan hak umum (public ownership), sehingga tidak boleh diprivatisasi. Sebaliknya, Negara harus bisa menjamin kebutuhan rakyat akan energi ini dan menjadikannya sebagai sumber kekuatan negara. Karena itu, pengelolaan energi harus diintegrasikan dengan kebijakan negara di bidang industri dan bahan baku sehingga masing-masing tidak berjalan sendiri-sendiri.

Untuk memenuhi konsumsi kebutuhan domestik rakyatnya, Negara bisa menempuh dua kebijakan: Pertama, mendistribusikan minyak, gas dan energi lainnya kepada rakyat dengan harga murah. Kedua, mengambil keuntungan dari pengelolaan energi untuk menjamin kebutuhan rakyat yang lainnya, seperti pendidikan, kesehatan, keamanan termasuk terpenuhinya sandang, papan dan pangan.

Dengan begitu, Negara benar-benar akan bisa mengelola energinya secara mandiri dan tidak diintervensi oleh negara manapun. Jika itu terjadi, maka hasil dari pengelolaan energi itu bukan hanya akan membawa kemakmuran bagi rakyatnya tetapi juga menjadi kekuatan bagi negara. Negara bukan saja mengalami swasembada energi tetapi juga bisa menjadikan energinya sebagai kekuatan diplomasi, sebagaimana yang dilakukan oleh Rusia terhadap Uni Eropa dan AS.

Tentu ini semua bisa dijalankan jika Islam dengan Syariatnya menjadi asas dalam pengambilan kebijakan, dan sistemnya adalah sistem Negara Khilafah. Untuk itu, Negara Khilafah sejak pertama kali berdiri segera melakukan pengembangan infrastruktur energi yang diperlukan untuk menjamin kebutuhannya dan memastikan agar energi tersebut tidak keluar dari negara dan jatuh ke tangan negara-negara penjajah.

Selain itu, pengembangan infrastruktur ini kenyataannya akan menciptakan berjuta-juta lapangan pekerjaan yang akan mengangkat berjuta-juta orang keluar dari kemiskinan baik di Indonesia maupun di dunia Muslim lainnya. Pada gilirannya pengembangan energi akan memberikan efek luar biasa dengan merangsang ekonomi yang lebih luas melalui pengembangan industri berat, kompleks-kompleks manufaktur, industri-industri militer, industri-industri penyulingan dan pabrik-pabrik.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here