Proses Peradilan Dalam Islam - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Wednesday, June 24, 2020

Proses Peradilan Dalam Islam


Boedihardjo, S.H.I.

Peradilan Islam merupakan lembaga terhormat. Hukum yang ditetapkan oleh lembaga ini bersifat mengikat. Untuk itu diperlukan aturan yang ketat sehingga umat merasakan nyaman dan puas sebagai wujud ketaatannya terhadap syariat.

Dalam peradilan Islam kita kenal istilah qadhi biasa, qadhi hisbah, dan qadhi mazhalim boleh diangkat dengan wewenang yang bersifat umum untuk memutuskan semua perkara, dan di seluruh negeri. Boleh juga mereka diangkat dengan wewenang yang bersifat khusus untuk tempat dan perkara-perkara tertentu.

Dalil dalam hal ini adalah perbuatan Rasulullah saw. Beliau pernah mengangkat Ali bin Abi Thalib sebagai qadhi di Yaman. Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya dengan sanad sahih dari Ali yang mengatakan, "Rasulullah saw. mengutus aku ke Yaman. Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, Engkau mengutus aku kepada suatu kaum yang lebih berumur daripada aku, sedangkan aku masih muda dan belum berpengalaman dalam peradilan.' Lalu beliau meletakkan tangannya di dadaku dan bersabda: "Ya Allah, teguhkanlah lisannya, dan bimbinglah hatinya. Wahai Ali, jika dua orang yang sedang bersengketa duduk di hadapan kamu, janganlah engkau memutuskan perkara keduanya, sebelum engkau mendengarkan dari pihak lain sebagaimana engkau telah mendengarkan dari pihak pertama. Jika Anda melakukan itu, maka jelaslah bagi kamu membuat keputusannya." Ali berkata, "Setelah itu tidak pernah terjadi perbedaan atas keputusanku, atau masalah dengan dengan keputusanku."

Beliau mengangkat Muadz bin Jabal sebagai qadhi untuk sebagian daerah Yaman. Abu Umar bin Abdul Barr dalam Al-Isti'ab menuturkan, berkata Ibnu Ishak: Rasulullah saw. mempersaudarakan antara Muadz bin Jabal dan Ja'far bin Abu Thalib. Keduanya menyaksikan peristiwa Aqabah dan Badar. Lalu Rasulullah saw mengirim Muadz ke al-Janad di Yaman untuk mengajari orang-orang al-Quran dan syariah Islam, serta memutuskan perkara di antara mereka; juga untuk mengumpulkan sedekah dari para amil..."

Beliau juga mengangkat Amr bin al-'Ash untuk mengurusi peradilan dalam satu perkara tertentu. Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni mengatakan: Dari Uqbah bin Amir berkata: Dua orang yang bersengketa datang pada Rasulullah saw. Beliau bersabda, "Putuskan masalah di antara mereka berdua." Aku berkata, "Dalam hal ini engkau lebih utama." Beliau bersabda, "Jika ia mengapa?" Aku berkata: "Dengan dasar apa aku akan memutuskan?" Beliau bersabda, "Putuskan, jika benar kamu mendapatkan sepuluh pahala, dan jika salah kamu mendapatkan satu pahala."

Ibnu Qudamah berkata: Said telah meriwayatkan dalam Sunan-nya. Al-Haitsami berkata dalam Majma' al-Zawa'id: Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanad para rawi sahih dari Uqbah bin Amir dari Nabi saw. yang bersabda, "Jika kamu berijtihad, lalu kamu benar dalam membuat keputusan, maka kamu mendapatkan sepuluh pahala, dan jika kamu berijtihad, lalu kamu salah dalam membuat keputusan, maka kamu mendapatkan satu pahala." (Hizbut Tahrir, Muqaddimah ad-Dustûr, hlm. 248; Hizbut Tahrir, Ajhizah Dawlah al-Khilafah, hlm. 113; Zallum, Nizham al-Hukm fi al-Islam, hlm. 187).

Dalam Setiap Mahkamah Hanya Ada Seorang Qadhi

Dalam sistem peradilan Islam setiap Mahkamah dibentuk dari seorang qadhi yang memiliki kewenangan untuk menyelesaikan perkara peradilan. Meski bersama dia boleh ada qadhi yang lain, qadhi lian tersebut tidak memiliki wewenang untuk memutuskan perkara. Mereka hanya memiliki wewenang untuk memberikan pendapat dan masukan yang tidak bersifat mengikat.

Dalilnya adalah karena Rasulullah saw. tidak pernah menunjuk dua orang qadhi untuk satu masalah. Beliau hanya menunjuk seorang qâdhi untuk satu masalah. Ini menunjukkan bahwa tidak boleh ada multi peradilan dalam satu masalah. Selain itu, peradilan adalah pemberitahuan hukum syariah yang bersifat mengikat, sementara hukum syariah bagi seorang Muslim hanya satu, itulah hukum Allah. Benar, kadang pemahaman hukum itu lebih dari satu. Namun, bagi seorang Muslim, dilihat dari sisi hukum yang menjadi landasan aktivitasnya, hanya ada satu pemahaman hukum, dan tidak berbilang sama sekali. Apa yang dia pahami, itulah hukum Allah bagi dia. Yang selain itu bagi dia bukanlah hukum Allah meski ia tetap menganggap itu sebagai hukum syariah.

Seorang qadhi ketika memberitahukan hukum syariah yang bersifat mengikat dalam satu perkara, wajib hanya memberitahukan satu hukum. Sebab, pada hakikatnya hal itu merupakan pelaksanaan atas hukum Allah. Hukum Allah, dalam praktik pelaksanaannya, tidaklah berbilang, meski pemahamannya bisa berbilang. Dengan demikian qadhi tidak boleh lebih dari satu orang untuk satu perkara. Artinya, satu qadhi hanya untuk satu mahkamah.

Adapun keberadaan dua qadhî yang memberikan keputusan dalam seluruh perkara dalam satu negara, tetapi dalam dua mahkamah yang terpisah untuk satu tempat, maka hukumnya adalah boleh, karena al-qadha' adalah perwakilan dari Khalifah. Ketentuannya sama dengan ketentuan wakalah (akad perwakilan) lainnya yang boleh diwakilkan kepada banyak orang. Artinya, dalam masalah peradilan boleh adanya banyak qâdhî di satu tempat. Pada saat terjadi tarik-menarik perkara di antara dua qadhi di satu tempat, maka yang dimenangkan adalah pihak penuntut sehingga wewenang memeriksa dan memutuskan perkara diberikan kepada qadhi yang diminta. Sebab, penuntut itu adalah orang yang menuntut haknya dan ia lebih dikuatkan daripada orang yang dituntut (Hizbut Tahrir, Muqaddimah ad-Dustûr, hlm. 249; Hizbut Tahrir, Ajhizah Dawlah al-Khilafah, hlm. 114-115; Zallum, Nizham al-Hukm fi al-Islam, hlm. 188).

Tidak Ada Peradilan Tanpa Sidang Pengadilan

Seorang qadhi tidak boleh memutuskan perkara kecuali di Majelis al-Qadha' (sidang pengadilan). Bukti dan sumpah juga tidak bisa diterima kecuali disampaikan di sidang pengadilan. Abdulalh bin Zubair yang mengatakan:

قَضَى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وآله وسلم أَنَّ الْخَصْمَيْنِ يَقْعُدَانِ بَيْنَ يَدَيِ الْحَكَمِ

Rasulullah saw. memutuskan bahwa dua orang yang bersengketa (harus) didudukkan di hadapan hakim (HR Ahmad dan Abu Dawud).

Hadis ini menjelaskan proses peradilan (al-qadha'). Dua pihak yang bersengketa didudukkan di hadapan hakim. Begitulah proses sidang pengadilan itu. Keberadaan sidang pengadilan ini merupakan syarat sahnya peradilan sehingga sah disebut peradilan (al-qadha'). Artinya, hendaknya dua pihak yang bersengketa didudukkan di hadapan hakim. Ketentuan ini diperkuat oleh hadits ketika Rasulullah saw. bersabda kepada Ali bin Abi Thalib, "Wahai Ali, jika dua orang yang sedang bersengketa duduk di hadapan kamu, janganlah engkau memutuskan perkara keduanya sebelum engkau mendengarkan dari pihak lain sebagaimana engkau telah mendengarkan dari pihak pertama." (HR Ahmad).

Hadis ini juga menjelaskan proses tertentu melalui sabdanya, "Jika dua orang yang sedang bersengketa duduk di hadapanmu." Dengan demikian adanya Majelis al-Qadha' (sidang pengadilan) merupakan syarat sahnya peradilan, juga menjadi syarat sumpah diterima. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw., "Sumpah itu wajib atas terdakwa (tergugat)." (HR al-Bukhari dari Ibn Abbas).

Sungguh, tidak terdapat pada diri seseorang sifat sebagai terdakwa kecuali di sidang pengadilan. Demikian juga bukti, ia tidak memiliki nilai apa pun kecuali di sidang pengadilan. Rasulullah saw. bersabda, "Pembuktian itu wajib atas penuntut (penggugat)." (HR al-Baihaqi).

Sifat sebagai penuntut itu juga tidak ada kecuali di sidang pengadilan (Hizbut Tahrir, Muqaddimah ad-Dustur, hlm. 250; Hizbut Tahrir, Ajhizah Dawlah al-Khilafah, hlm. 116; Zallum, Nizham al-Hukm fi al-Islam, hlm. 189).

Boleh Adanya Tingkatan Mahkamah Peradilan Sesuai Jenis Masalahnya

Adanya tingkatan-tingkatan mahkamah peradilan dibolehkan sesuai dengan jenis perkaranya. Boleh juga mengkhususkan beberapa orang qadhi untuk perkara-perkara tertentu, sedangkan perkara-perkara yang lain boleh diserahkan kepada mahkamah yang lain.

Dalilnya adalah karena Lembaga Peradilan merupakan lembaga yang mewakili Khalifah. Keberadaannya sama persis seperti wakalah (akad perwakilan) yang lainnya, yang boleh bersifat umum dan boleh juga bersifat khusus. Dengan demikian, seorang qadhi boleh diangkat untuk menangani perkara-perkara tertentu dan tidak boleh menangani perkara-perkara lainnya; boleh juga qâdhî lain yang diangkat untuk menangani perkara yang lain, termasuk dalam perkara yang menjadikan ia diangkat meskipun di satu tempat. Dari sini maka dibolehkan adanya tingkatan-tingkatan mahkamah. Praktik seperti itu sudah ada di tengah-tengah kaum Muslim pada masa-masa awal. Imam al-Mawardi mengatakan di dalam kitabnya, Al-Ahkam as-Sulthâniyyah, Abu Abdillah az-Zubairi mengatakan: "Tidak pernah ada satu masa pun kecuali amir kami di Bashrah selalu mengangkat qadhi untuk menjadi qadhi di masjid Jami'. Mereka menyebutnya qadhi masjid. Mereka memutuskan perkara dalam kasus 200 dirham atau 20 dinar atau kurang dari itu, selain juga menetapkan berbagai pengeluaran. Ia tidak akan menyimpang dari kedudukannya dan dari hal-hal yang telah ditetapkan baginya."

Rasulullah saw. pernah menunjuk wakil beliau dalam memutuskan satu perkara saja seperti ketika beliau mengangkat Amru bin al- 'Ash. Beliau juga mengangkat wakil dalam memutuskan semua perkara di satu wilayah, seperti ketika mengangkat Ali bin Abi Thalib menjadi wakil beliau untuk memutuskan semua perkara di Yaman. Dengan demikian, semua ini menunjukkan kebolehan memberi lembaga peradilan wewenang yang bersifat khusus sebagaimana boleh memberinya wewenang yang bersifat umum (Hizbut Tahrir, Muqaddimah ad-Dustur, hlm. 251; Hizbut Tahrir, Ajhizah Dawlah al-Khilafah, hlm. 117; Zallum, Nizham al-Hukm fi al-Islam, hlm. 190).

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here