Sekilas Pasukan Reguler Dan Pasukan Cadangan Dalam Konsep Islam - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Wednesday, June 24, 2020

Sekilas Pasukan Reguler Dan Pasukan Cadangan Dalam Konsep Islam


Agung Wisnuwardana (Strategic And Military Power Watch)

Allah SWT mewajibkan seluruh kaum Muslim untuk berjihad. Mereka semua masuk dalam firman Allah SWT:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ

Diwajibkan atas kalian berperang (QS al-Baqarah [2]: 216).

Namun demikian, apakah seluruh kaum Muslim wajib semuanya pergi ke medan tempur, meninggalkan kota dan desa mereka, dengan meninggalkan semua aktivitas sehari-hari yang selama ini telah menjadi rutinitasnya?

Militer dalam Negara Islam diklasifikasikan menjadi dua kelompok. Pertama: Pasukan reguler yang memperoleh gaji dari anggaran belanja sebagaimana para pegawai negeri lainnya. Kedua: pasukan cadangan yang terdiri atas seluruh kaum Muslim yang mampu memanggul senjata (Hizbut Tahrir, Muqaddimah ad-Dustur, hlm. 210; Hizbut Tahrir, Ajhizah Dawlah al-Khilafah, hlm. 88; Zallum, Nizham al-Hukm fi al-Islam, hlm. 152).

Dr. Muhammad Khair Haikal mendefinisikan pasukan reguler (al-jaysy an-nizhami) adalah pasukan yang siap siaga dan mendedikasikan diri untuk berperang. Dengan itu kewajiban kifayah menjadi tertutupi secara permanen. Adapun pasukan cadangan (al-jaisy al-ihtiyathi) adalah seluruh kaum Muslim yang dibebani kewajiban jihad; mereka siap dilibatkan dalam perang ketika dibutuhkan atau kaum Muslim yang menjadi rakyat sipil—dalam istilah sekarang (Haikal, Al-Jihad wa al-Qital fi as-Siyasah asy-Syar'iyah, hlm. 987, 1003).

Dalil terkait klasifikasi ini adalah dalil kewajiban jihad. Sebabnya, setiap Muslim wajib berjihad dan wajib berlatih dalam rangka jihad. Karena itu kaum Muslim seluruhnya merupakan pasukan cadangan karena jihad wajib atas mereka. Adapun adanya sebagian mereka yang menjadi anggota pasukan reguler, dalilnya adalah kaidah syariah:

مَالاَ يَتِمُّ الوَاجِبُ إِلاَّبِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ

Suatu kewajiban yang tidak sempurna pelaksanaannya kecuali dengan sesuatu yang lain maka sesuatu itu menjadi wajib.

Pasalnya, kewajiban jihad—sesuai realitas perang saat ini—tidak bisa sempurna dilaksanakan secara terus-menerus. Begitu halnya dengan kewajiban menjaga wilayah Islam dan melindungi kaum Muslim dari kehancuran akibat serangan kaum kafir, kecuali dengan adanya militer dengan pasukan tetap (pasukan reguler). Dengan demikian Imam (Khalifah) wajib merealisasikan adanya militer dengan pasukan tetap atau regular (Hizbut Tahrir, Muqaddimah ad-Dustur, hlm. 210; Hizbut Tahrir, Ajhizah Dawlah al-Khilafah, hlm. 88; Zallum, Nizham al-Hukm fi al-Islam, hlm. 153).

Adapun terkait Masalah gaji yang telah ditetapkan bagi para prajurit sebagaimana para pegawai negeri lainnya merupakan perkara yang sudah jelas jika dinisbatkan pada non-Muslim. Sebab, non-Muslim dalam Negara Islam tidak diperintahkan berjihad bersama dengan kaum Muslim melawan dan memerangi kaum kafir. Namun, jika mereka melakukan jihad, maka mereka diterima dan boleh diberi harta (gaji). Hal didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari az-Zuhri:

أنَّ النبيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَسْهَمَ لِقَوْمٍ مِنَ الْيَهُودِ قَاتَلُوا مَعَهُ

Sesungguhnya Nabi saw. memberikan bagian harta rampasan perang kepada orang Yahudi yang ikut berperang bersama beliau (HR at-Tirmidzi).

Meski hadis ini termasuk di antara hadis mursal dari az-Zuhri. Namun, Ibnu Qudamah menjadikan hadis ini sebagai dalil—terkait masalah ini—dalam kitabnya Al-Mughni (Hizbut Tahrir, Muqaddimah ad-Dustur, hlm. 211).

Ibnu Qudamah dalam kitabnya Al-Mughni, dan Ibn Hisyam dalam kitab Sirah-nya juga menggunakan hadis tentang Shafwan bin Umayah:

أَنَّ صَفْوَانَ بْنَ أُمَيَّةَ خَرَجَ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ حُنَيْنٍ وَهُوَ عَلَى شِرْكِهِ، فَأَسْهَمَلَهُ، وَأَعْطَاهُ مِنَ الغَنَائِمِ مَعَ الْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ

Sesungguhnya Shafwan bin Umayah pernah keluar bersama Nabi saw. pada saat Perang Hunain, sedang ia—saat itu—masih musyrik. Kemudian Nabi saw. memberi dia bagian harta rampasan Perang Hunain bersama dengan para muallaf.

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari jalan Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda:

يَابِلاَلُ قُمْ فَأَذِّنْ لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلاَّ مُؤْمِنٌ وَإِنَّ اللَّهَ لَيُؤَيِّدُ هَذَاالدِّينَ بِالرَّجُلِ الْفَاجِرِ

Wahai Bilal, berdirilah dan umumkan, bahwa tidak akan masuk surga kecuali orang Mukmin. Sungguh Allah akan benar-benar menolong agama ini dengan seorang laki-laki yang buruk (fajir).

Ibnu Ishak dalam kitabnya As-Sirah menyebutkan bahwa Quzman keluar bersama para Sahabat Rasulullah saw. pada saat Perang Uhud. Pada saat itu Quzman adalah seorang musyrik. Dalam perang itu Quzman membunuh delapan atau tujuh orang musyrik sehingga Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَيُؤَيِّدُ هَذَاالدِّينَ بِالرَّجُلِ الْفَاجِرِ

Sungguh Allah akan benar-benar menolong agama ini dengan seorang laki-laki yang buruk (fajir).

Imam asy-Syaukani dalam kitabnya Ad-Darari al-Mudliyah dan Nayl al-Awthar mengatakan bahwa hadis ini dinyatakan kuat (sahih) oleh para ahli Sirah (Hizbut Tahrir, Muqaddimah ad-Dustur, hlm. 211).

Dengan demikian dalil-dalil tersebut menunjukkan bahwa orang kafir boleh menjadi bagian dari militer Islam. Mereka diberi gaji karena mereka berperang di dalam militer Islam. Selain itu, definisi ijarah (kontrak kerja), yaitu akad atas suatu manfaat dengan kompensasi, menunjukkan bahwa ijarah itu boleh dilakukan dalam setiap bentuk manfaat yang mungkin dipenuhi oleh ajir (pekerja, pegawai) kepada musta'jir (majikan), termasuk di antaranya adalah manfaat seseorang untuk menjadi prajurit dan untuk berperang, sebab hal itu merupakan manfaat juga. Karena itu keumuman dalil ijarah yang meliputi semua bentuk manfaat, merupakan dalil mengenai kebolehan mengontrak jasa (manfaat) orang kafir untuk menjadi tentara dan untuk berperang (Hizbut Tahrir, Muqaddimah ad-Dustur, hlm. 211; Hizbut Tahrir, Ajhizah Dawlah al-Khilafah, hlm. 89; Zallum, Nizham al-Hukm fi al-Islam, hlm. 154).

Hanya saja, ketika orang kafir menjadi tentara dan berperang, maka ia harus berada di bawah panji kaum Muslim, bukan panji kaum kafir. Sebagaimana hal itu jelas dalam fakta dalil-dalil di atas, bahwa orang-orang kafir yang berperang bersama kaum Muslim itu berada di bawah panji kaum Muslim, bukan di bawah panji kaum kafir. Artinya, mereka ini berperang dengan statusnya sebagai prajurit dalam militer Islam. Atas dasar ini, maka boleh kaum kafir dzimmi berperang menjadi prajurit dalam militer Islam dengan diberi gaji. Tentu masalah ini harus ditetapkan oleh Khalifah. Artinya, Khalifah memandang bahwa berperangnya orang kafir sebagai prajurit dalam militer Islam membawa manfaat bagi kaum Muslim, dan tidak mendatangkan madarat (bahaya). Karena itu jika adanya itu membawa manfaat, maka mereka diterima menjadi prajurit dalam militer Islam, dan mereka diberi gaji. Artinya, mereka boleh menjadi prajurit dalam militer Islam dengan diberi gaji. Sebaliknya, keberadaanya dicegah dan dilarang jika membahayakan militer Islam (Hizbut Tahrir, Muqaddimah ad-Dustur, hlm. 211).

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here