Sistem Kapitalisme Melepas Peran Negara... Berbeda Dengan Islam - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, June 12, 2020

Sistem Kapitalisme Melepas Peran Negara... Berbeda Dengan Islam


Adam Syailindra (Forum Aspirasi Rakyat)

Kapitalisme gagal mengatasi membengkaknya angka kemiskinan di tengah pandemi corona. Pelan tapi pasti sistem ekonomi kapitalis sedang menuju kehancurannnya. Saat ini dunia sedang menuju ke jurang krisis yang kemungkian lebih buruk dari "Great Depression" pada era tahun 1930-an. Angka kemiskinan penduduk dunia terus bertambah. Kementerian Pembangunan Perencanaan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memproyeksikan bahwa jumlah pengangguran di Indonesia akan bertambah 4,22 juta orang pada 2020. Sementara jumlah penduduk miskin pada akhir 2020 diperkirakan akan bertambah 2 juta orang dibandingkan data  September 2019.

Jelas, sistem ekonomi kapitalis menolak peran negara dalam perekonomian. Prinsip ini lahir dari konsep laizes faire, yang artinya: biarkan semuanya berjalan sendiri tanpa ada campur tangan pemerintah dalam perekonomian. Pengagas teori ini, yaitu Adam Smith, berpendapat perlunya pasar bergerak sendiri melalui mekanisme harga. Tanpa peran negara akan muncul secara otomatis peranan "si tangan gaib" dalam menyelesaikan problem ekonomi atau yang dikenal dengan teori "invisible hand". Teori ini, dalam perkembangannya, menjadi kerangka dasar atas terciptanya mekanisme sistem pasar bebas.

Namun, pada awal kemunculannya, teori invisible hand atau teori mekanisme pasar tidak dapat memecahkan problem ekonomi terutama masalah keadilan dalam distribusi. Faktanya, hanya sebagian kecil orang yang dapat mempengaruhi dan menikmati barang/jasa serta sumber-sumber ekonomi, sedangkan sebagian besar orang lainya tidak dapat.

Penerapan teori tersebut di negara-negara Eropa dan Amerika serta negara-negara berkembang telah menyebabkan kesenjangan luar biasa. Prinsip mekanisme pasar ini telah menyebabkan monopoli sumberdaya alam sehingga swasta atau sebagian kecil "para kapitalis" menguasai perekonomian suatu negara. Penguasaan swasta atas sumberdaya alam melahirkan pasar monopoli yang berorientasi laba sehingga menyebabkan harga-harga menjadi tinggi dan hasilnya hanya dinikmati oleh para kapitalis.

Padahal dalam prinsip ekonomi ada barang-barang tertentu yang masuk kategori barang "inelastis sempurna" yang harganya tidak berpengaruh terhadap permintaan seperti energi, bahan pokok, kesehatan dan lain-lain. Artinya, berapapun harganya akan dibeli selama masyarakat mampu. Kalau 'barang inelastis sempurna' ini diserahkan kepada mekanisme pasar atau diserahkan penguasaannya kepada individu atau swasta, mereka dengan prinsip profit orientied-nya akan menetapkan harga yang setinggi-tingginya. Inilah yang terjadi saat ini, yaitu ketika BBM, biaya pendidikan dan kesehatan diserahkan kepada swasta. Akibatnya, masyarakat harus membeli semua itu dengan harga tinggi.

Karena itulah dalam Islam negara wajib berperan langsung dalam kegiatan ekonomi dengan mengelola harta milik negera seperti fa'i, ghanîmah, kharaj, seperlima rikaz, 10% dari tanah 'usyriyah, jizyah, waris yang tidak habis dibagi dan harta orang murtad ataupun harta milik umum atau publik yang wajib dikelola oleh negara seperti: air, barang tambang (migas, batubara, emas dan perak), hutan, hasil laut dan lain-lain. Semua kebijakan ekonomi yang menyangkut penerimaan dari berbagai sumber tersebut dan pengeluarannya untuk kemaslahatan rakyat diperankan secara terpusat oleh lembaga negara yang dikenal dengan sebutan Baitul Mal.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here