Taqarrub Ilallah di Tengah Wabah - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Tuesday, June 2, 2020

Taqarrub Ilallah di Tengah Wabah


Oleh : Asma Ramadhani (Siswi SMAIT IBS Al Amri)

Berada di tengah situasi sulit saat ini, kaum muslim dibuat bimbang dengan kebijakan pemerintah. Sejak awal penyebaran wabah COVID-19, pemerintah telah mengeluarkan kebijakan untuk penutupan masjid, mall, bandara, dan tempat umum lainnya sebagai pencegahan penyebaran virus. Dengan alibi bahwa tempat-tempat tersebut atau pusat berkumpulnya manusia harus dihindari selama social and physical distancing.

Tentunya, sebagai manusia yang taat dan tidak ingin korban semakin banyak berjatuhan, ibadah ritual yang biasanya dilaksanakan secara berjama’ah di masjid, kini dialihkan agar tidak terjaadi pertemuan antar manusia.

Akan tetapi, kebijakan tersebut ternyata tidak berangsur lama. Kaum muslim kecewa dengan kebijakan baru di tengah pemberlakuan PSBB. Bagai nasi yang basi, jika pagi ini berbicara seperti ini, maka pagi esok hari akan berubah lagi.

Pemerintah memperbolehkan mall, bandara, pasar dan berbagai tempat umum beraktivitas seperti biasanya. Alhasil, tempat-tempat tersebut menjadi pusat desak-desakan manusia. Berbanding terbalik dengan kebijakan ibadah berjama’ah di masjid. Masjid justru di kunci dan dijadikan sebagai tolok ukur penyebab bertambahnya korban COVID-19.

"Di mal-mal penuh, sementara di masjid tetap dikunci, ada apa di sini? Bapak sebagai Kepala Gugus Tugas ada apa di sini? Di mal Bapak biarkan, di tempat-tempat keramaian yang lain dibiarkan," kata John dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VIII dengan BNPB yang disiarkan langsung dpr.go.id, Kamis (12/5).

Hal tersebut seperti dicantumkan dalam artikel yang dilansir oleh CNN Indonesia pada hari Selasa, 12/05/2020 15:02 WIB. Bukan hanya dari Anggota Komisi Agama DPR RI John Kennedy Azis, fakta memilukan tentang padatnya mall di masa PSBB yang berbanding terbalik dengan masjid sebagai tempat ibadah kaum muslim yang justru dikosongkan bahkan dikunci, mendapat banyak kritik dari berbagai pihak.

Pada kesempatan yang sama, anggota Komisi VIII DPR RI Lisda Hendrajoni juga melontarkan kritik serupa. Lisda mengkritik kejanggalan koordinasi pemerintah dalam menerapkan PSBB.

"Si A ngomong apa, si B ngomong Apa, jadi masyarakat bingung. Termasuk juga ada keanehan sekali masjid-masjid ditutup, tidak boleh salat di sana, tapi mal-mal tetap dibuka. Aneh sekali," ujar Lisda.

Dalam kesempatan lain, media detik.com memposting pernyataan Sekretaris Jendral Majelis Ulama Indonesia (Sekjen MUI) Anwar Abbas yang mempersoalkan sikap pemerintah, yang tetap melarang masyarakat berkumpul di masjid. Anwar mempertanyakan, mengapa pemerintah tidak tegas terhadap kerumunan yang terjadi di bandara.
"Tapi yang menjadi pertanyaan, mengapa pemerintah hanya tegas melarang orang untuk berkumpul di masjid. Tapi tidak tegas dan tidak keras dalam menghadapi orang-orang yang berkumpul di pasar, di mal-mal, di bandara, di kantor-kantor dan di pabrik-pabrik serta di tempat-tempat lainnya," kata Anwar Abbas dalam keterangan tertulis, Minggu (17/5/2020).
Anwar menilai kebijakan pemerintah mengenai pengecualian perjalanan transportasi di tengah pandemi virus Corona (COVID-19) ini sebagai sebuah ironi. Kata ironi dalam KBBI diartikan sebagai  kejadian atau situasi yang bertentangan dengan yang diharapkan atau yang seharusnya terjadi. Benar saja karena, kata Anwar, kebijakan ini bertentangan dengan sikap pemerintah Indonesia yang bersikeras ingin memutus rantai penyebaran virus Corona.

Patut untuk dipertanyakan karena kebijakan ini jelas-jelas sangat kacau. Pemerintah tidak pernah mempedulikan kondisi rakyat, baik secara jasmani maupun finansial. Negara saat ini dikuasai oleh pemerintah yang memihak kepentingan korporasi dan mengabaikan kepentingan rakyat serta menghambat kepentingan ibadah umat.

Tak dipungkiri kebijakan yang katanya solusi ekonomi dalam tanda petik hanya untuk para pemilik modal (kapitalis), tidak akan bisa menyelesaikan permasalahan dunia saat ini. Baiklah jika dikatakan bahwa rakyat juga perlu mencari sesuap nasi untuk makan keluarga, tapi di tengah kondisi mencekam hak pangan seluruh rakyat seharusnya ditanggung oleh Negara. Pemerintah tidak bisa membiarkan rakyatnya bertarung nyawa untuk mempertahankan nyawa keluarga.

Secara tidak langsung, sama saja dengan penyisihan kewarganegara sedikit demi sedikit. Tak asing pula jika dikatakan pilihan kematian saat ini disebabkan oleh terjangkitnya wabah COVID-19 dan kelaparan. Gejolak rakyat menjadi permasalahan baru yang harusnya segera diselesaikan, bukan diacuhkan seperti sikap para penguasa negeri saat ini.

Siapa yang akan bersuara lantang untuk mengangkat setiap jenis aspirasi umat yang menjerit akibat kebijakan zalim rezim kapitalis? Jika penguasanya saja yang menekan rakyatnya kebawah dan membiarkan korban semakin berjatuhan, maka seharusnya umat Islam bersatu untuk menyuarakannya. Membela kebenaran dan mempertahankan jiwa yang tersisa. Tidak ingin banyak jasad tanpa nyawa terbengkalai tanpa perhatian.

Miris saat menyadari bahwa tujuan sebenarnya kebijakan ini hanya untuk menjauhkan umat Islam dari mendekatkan diri kepada Allah SWT. Padahal, di tengah kondisi amburadul seperti ini, seorang hamba seharusnya semakin menguatkan ibadah. Munculnya penyakit yang sangat jarang ini, tidak lain karena kehendak Allah SWT. Sudah sepantasnya Allah menguji umat manusia dengan cobaan yang begitu berat, karena pada dasarnya mereka telah jauh berbuat kerusakan di muka bumi.

Manusia butuh sandaran untuk mengadu. Butuh sandaran yang kuat. Jika negeri sudah sangat rapuh, maka yang dibutuhkan bukan manusia, tapi penciptanya. Solusi terbaik adalah solusi dari pencipta alam, pencipta manusia, dan pencipta zat terkecil yang tidak terlihat oleh mata telanjang namun bisa membunuh manusia atas kehendak Allah.

Solusi terbaik diantara maraknya omong kosong penguasa adalah kembali pada syari’at Allah. Menjalankan kehidupan sesuai dengan aturan Allah SWT. Jika Negara dan masyarakatnya patuh terhadap hukum Allah, maka tidak akan ada lagi kelalaian dalam meriayah (mengurus) rakyat.

1 comment:

Post Top Ad

Responsive Ads Here