Tentara Islam Memiliki Tugas Mulia - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, June 26, 2020

Tentara Islam Memiliki Tugas Mulia


Agung Wisnuwardana (Strategic And Military Power Watch)

Militer atau tentara tentu amat besar perannya dalam sebuah negara, terutama sebagai alat pertahanan negara dari ancaman luar. Di tengah pandemi COVID-19, krisis ekonomi dan politik tidak menururunkan ketegangan antara Amerika Serikat dengan Cina. Bahkan perang bisa saja meletus. Hal ini membuat negara-negara di wilayah regional China tetap mengkonsolidasi kekuatan militernya untuk mengantisipasi setiap potensi ancaman terhadap negaranya.

Tentara atau militer adalah pilar penegak suatu negara. Jenderal Oerip Soemohardjo, menyatakan 'aneh suatu negara zonder tentara', menanggapi penyusunan pemerintah Indonesia yang baru merdeka yang di dalamnya tidak ada badan ketentaraan. Karena itu lahirlah TKR/TNI pada 5 Oktober 1945.

Sepanjang sejarah peradaban manusia, semua negara super power memiliki tentara atau militer yang kuat, baik dari segi jumlah maupun dari segi persenjataannya. Amerika Serikat adalah negara super power dengan kekuatan militer terbesar di dunia. Tentaranya tersebar tidak hanya di negaranya, namun di seantero penjuru dunia. Persenjaataan tercanggih, bahkan kekuatan nuklir dan senjata luar angkasa, masih menjadi dominasinya.

Jika kita bicara kekuatan tentara di Dunia Islam, tentu sangatlah besar. Dari segi jumlah. Indonesia saja memiliki 500.000 tentara aktif. Turki, Mesir, Pakistan, Arab Saudi, adalah negeri-negeri Muslim yang memiliki jumlah militer yang cukup besar juga; masing-masing sekitar 200 hingga 400 ribuan tentara aktif.

Belum lagi alusista yang dimiliki walau masih bergantung pada kekuatan militer produk negara Barat, seperti pesawat tempur dari Amerika Serikat, Rusia dan Inggris, Tank dari Jerman, kapal perang dari Perancis, Jerman, dan Inggris, dan lainnya. Jumlahnya sangat besar bila seluruh negeri Muslim digabungkan.

Kekuatan yang paling besar adalah konsepsi Jihad. Walau tidak secara resmi menjadi doktrin kemiliteran tentara Muslim, secara personal, dengan adanya iman yang terhunjam di dada, setiap tentara Muslim memiliki keyakinan bahwa bila melakukan peperangan, itu adalah bagian dari amal jihad, yang mendapatkan pahala di sisi Allah SWT. Ini menjadi kekuatan moril yang paling tinggi yang dapat menggetarkan musuh. Kekuatan ini tidak dimiliki oleh tentara non-Muslim.

Dalam Islam Al-Jaisy (tentara) adalah bentuk tunggal dari al-juyusy. Al-Jaisy adalah al-jund (tentara) dan dinyatakan sekumpulan orang yang ada di medan perang.  Bentuk jamaknya adalah al-juyusy... Al-Jaisy adalah tentara yang berjalan menuju peperangan atau yang lain (Ibnu Manzhur, Lisân al-‘Arab, 6/277. Lihat pula: Shahib bin Ibad, Al-Muhîth fî al-Lughah, 2/127; al-Azhari, Tahdzîb al-Lughah, 4/28. Maktabah Syamilah).
Tentara merupakan salah satu instrumen penting jihad fi sabilillah.  Hukum, pembentukan dan tugas tentara tidak bisa dipisahkan dari  jihad dan perang.

Keberadaan tentara yang terorganisasi dalam sebuah lembaga negara berhukum fardhu sebagaimana kefardhuan jihad.  Khilafah wajib memiliki tentara yang siap siaga melaksanakan jihad dan tugas menjaga eksistensi kaum Muslim dari kehancuran.

Tentara dibentuk dari warga negara Khilafah Islam.  Lembaga negara yang bertanggung jawab dalam masalah ini adalah Departemen Perang (Dairah Harbiyah). Pasukan dibagi menjadi dua macam: pasukan cadangan dan pasukan tetap (regular). Pasukan cadangan adalah setiap Muslim yang mampu berperang. Alasannya, setiap kaum Muslim wajib berjihad dan membekali diri dengan kemampuan perang. Setiap laki-laki berusia 15 tahun wajib mengikuti latihan militer. Adapun rekrutmen untuk menjadi tentara tetap (regular) hukumnya fardhu kifayah. Pasukan regular adalah setiap orang yang secara kontinu menjadi anggota tentara dan mendapatkan gaji dari negara, sebagaimana pegawai negara lain. Kewajiban jihad tidak bisa diselenggarakan terus-menerus, begitu pula tugas menjaga eksistensi kaum Muslim tidak akan bisa diwujudkan secara kontinu, kecuali ada pasukan tetap.  Atas dasar itu, seorang Khalifah wajib membentuk pasukan tetap (reguler).

Syarat tentara negara Khilafah adalah memiliki kemampuan berperang (kafa'ah harbiyyah). Syarat-syarat tersebut ditetapkan berdasarkan realitas jihad dan perang.

Jihad adalah kewajiban yang dibebankan atas kaum Muslim, baik yang bertakwa, ahli maksiat maupun munafik.  Tidak ada batasan dalam masalah ini.   Sebabnya, ayat-ayat yang berbicara tentang jihad bersifat umum, dan tidak dibatasi dengan batasan-batasan tertentu. Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani menyatakan, “Jihad fardhu atas kaum Muslim, tidak ada perbedaan antara orang yang bertakwa dengan orang  fasik, dan tidak ada perbedaan pula antara orang yang benar-benar beriman dengan orang munafik.  Ketika ayat-ayat perang turun, ia datang dalam bentuk umum.  Nash-nash jika datang dalam bentuk umum, maka tetap dalam keumumannya selama tidak ada dalil yang mengkhususkan-nya…Oleh karena itu orang-orang munafik, fasik dan orang-orang yang berperang karena dendam (kebencian) boleh menjadi tentara Islam. ('Alim al-'Allamah Syaikh Taqiyyuddin”  an-Nabhani, Asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah).

Kebolehan orang munafik, fasik dan orang yang berperang karena dendam, terlibat dalam perang dan menjadi bagian tentara Islam didasarkan pada keumuman ayat (Lihat: QS at-Taubah [9]: 29).

Di dalam riwayat  dituturkan bahwa Rasulullah saw. pernah melibatkan 'Abdullah bin Ubaybin Salul—gembong  munafik—dalam peperangan dan ia juga hadir dalam musyawarah perang sebelum meletus Perang Uhud.  Allah SWT menegur beliau ketika beliau memberi ijin kepada orang-orang munafik tidak ikut serta dalam Perang Tabuk (Lihat: QS Al-Taubah [9]: 43).

Kebolehan orang fasik juga didasarkan pada keumuman ayat, selain didasarkan  riwayat yang dituturkan Sa'id bin Musayyab bahwas Abu Hurairah ra. berkata, "Rasulullah saw. pernah memerintahkan Bilal ra. untuk menyeru manusia, sesungguhnya tidak akan masuk surga kecuali jiwa yang berserah diri. Sesungguhnya Allah benar-benar akan menguatkan agama ini dengan laki-laki fajir." (HR al-Bukhari).

Adapun orang-orang kafir tidak terkena taklif jihad. Sebab, perintah jihad hanya berlakuatas kaum Muslim, tidak atas orang kafir. Mereka juga tidak dipaksa menjadi tentara atau dipaksa ikut berperang bersama kaum Muslim. Namun, jika mereka ikut serta berperang bersama kaum Muslim atas inisiatif sendiri dalam kapasitasnya sebagai individu yang tunduk patuh di bawah bendera Islam, maka boleh diterima. Yang diharamkan secara mutlak adalah keterlibatan orang kafir dalam bentuk kelompok, organisasi, atau institusi yang independen yang terpisah dari negara Khilafah (Lihat: 'Alim al-'Allamah Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani, Asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, 2/176).

Orang kafir boleh diterima menjadi tentara Khilafah dengan mendapatkan gaji. Ibnu Hisyam dari az-Zuhri menuturkan bahwa Rasulullah saw. bersaham dengan suatu kaum dari Yahudi yang berperang bersama beliau. Ibnu Hisyam juga meriwayatkan bahwa Shafwan bin Umayyah ikut serta berperang dengan Rasulullah saw ke Hunain, sedangkan dia masih musyrik. Nabi saw memberi dia sebagian ghanîmah Perang Hunain untuk mengikat hatinya.  Masih banyak riwayat lain yang serupa.

Namun, kebolehan orang kafir ikut serta dalam peperangan kaum Muslim, atau kebolehan mereka diterima sebagai pasukan Khilafah harus tetap mempertimbangan kemaslahatan kaum Muslim serta tidak membahayakan eksistensi Islam dan kaum Muslim. Tentara Khilafah bertumpu sepenuhnya kepada kaum Muslim, bukan pada keikutsertaan orang kafir, khususnya untuk merealisasikan hukum jihad fi sabilillah serta menyebarkan risalah Islam ke seluruh penjuru dunia.

Siapa saja yang bergabung dalam pasukan Khilafah niscaya mendapatkan kemuliaan dan kedudukan tinggi di sisi Allah SWT. Ini bisa dimengerti karena tentara menjalankan tugas tinggi dan mulia, yakni: (1) jihad fi sabilillah, baik dalam konteks mempertahankan wilayah Khilafah dari seranganmusuh, maupun menyerang negeri-negeri kufur (futuhat) untuk melenyapkan penghalang dakwah; (2) menyebarkan Islam dengan dakwah fikriyyah di tengah penduduk negeri-negeri yang telah dibebaskan; (3) mempertahankan eksistensi Khilafah dari ahlul bughât.

Tiga tugas di atas merupakan tugas yang utama dalam Islam.  Dalam konteks jihad, Nabi  saw. menetapkan jihad sebagai amal yang paling utama setelah iman. Abu Dzarr ra. menuturkan bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah saw., "Amal apa yang paling utama?  Nabi saw menjawab, "Iman kepada Allah dan jihad di jalan-Nya." (HR al-Bukhari).

Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan, "Hadis ini menunjukkan bahwa jihad merupakan amal yang paling utama setelah iman kepada Allah."

Seseorang yang terbunuh di medan jihad berhak mendapatkan keutamaan mati syahid. Ini sebagaimana disebut dalam hadis riwayat dari Anas bin Malik bahwa Nabi saw. bersabda:

مَا أَحَدٌ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ يُحِبُّ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا وَلَهُ مَا عَلَى الْأَرْضِ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا الشَّهِيدُ يَتَمَنَّى أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا فَيُقْتَلَ عَشْرَ مَرَّاتٍ لِمَا يَرَى مِنْ الْكَرَامَةِ

Tak seorang pun yang masuk ke dalam surga yang berhasrat kembali ke dunia, dan ia tidak menginginkan apapun di dunia ini, selain mati syahid.  Ia begitu berharap bisa kembali ke dunia, kemudian terbunuh sebanyak 10 kali, ketika memahami keutamaan (syahid)." (HR al-Bukhari dan Muslim).

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here