Their Skin Is Not Weapon! - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Sunday, June 14, 2020

Their Skin Is Not Weapon!


Anwar Rosadi (Biro Hukum Dan Jaringan Indonesia Change)

Protes massal anti rasisme, dipicu kematian warga kulit hitam Amerika George Floyd, menjalar di berbagai negara. Hari - hari ini masalah diskriminasi mengguncang komunitas kulit hitam khususnya di Amerika Serikat.

Isu rasisme menjadi problem yang rumit di AS jauh sebelum kematian George Floyd. Seabad sebelumnya, hukuman mati tanpa pengadilan muncul sebagai taktik baru untuk mengendalikan kehidupan orang kulit hitam di sana. Selama musim panas 1919, kekerasan ras besar-besaran meletus di Amerika. Di Chicago, Eugene Williams, seorang remaja kulit hitam dibunuh pada 27 Juli 1919 karena berenang di bagian khusus 'kulit putih' Danau Michigan.

Keresahan warga kulit hitam dan kaum muslim menguat di Amerika, ambil contoh saat kampanye Trump 4 tahun lalu, kampanye Trump didasarkan pada sensasi mentah yang dirasakan oleh banyak orang Amerika. Dalam dirinya, banyak orang kulit putih Amerika  melihat Trump sebagai sinar harapan. Trump dianggap sebuah harapan baru yang akan memulihkan pekerjaan yang dibayar dengan baik untuk orang Amerika, membatasi imigrasi dan menangani ancaman asing, termasuk membangkitkan Islamophobia. Sementara Demokrat dengan calonnya, Hillary melanjutkan retorika lama yang sama yang digunakan oleh Obama.

Kenyataannya tidak obat untuk rasisme dalam ideologi sekuler Barat. Rasisme selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari Peradaban Barat, seperti perlakuan kulit putih terhadap budak kulit hitam, yang mana elit kulit putih menanamkan paradigma keunggulan dan superioritas kulit putih dalam pola pikir orang kulit putih Amerika. Ambil contoh rasisme Jerman di bawah Nazisme yang menyebut ras lain sebagai Untermensch (inferior secara sosial atau subhumans). Atau, ambillah contoh sentimen rasisme yang terkenal di era Winston Churchill. Pada tahun 1943 Churchill mencegah pengiriman makanan ke India, meskipun Amerika punya persediaan. Perlakuan AS menyebabkan kematian hingga 3 juta orang di India karena kelaparan - Churchill menyitir kesalahan mereka sendiri karena "berkembang biak seperti kelinci".

Rasisme di banyak bagian dunia Barat dilembagakan. Pembunuhan orang kulit hitam yang tidak proporsional di AS oleh polisi kulit putih, jelas menguatkan dugaan bahwa rasisme diwujudkan dalam banyak lembaga negara.

Apa yang telah terjadi dalam prosesi politik di negara kampiun demokrasi -AS-, contoh kasus alasan pendukung memilih Trump diantaranya adalah untuk memberikan suara kepada rasisme dan kebencian yang mendasarinya yang ada di masyarakat Barat. Organisasi supremasi kulit putih bersukacita karena Trump mengambil alih kekuasaan. Sedangkan organisasi radis seperti Ku Klux Klan (KKK) merayakan kemenangannya di tempat-tempat seperti North Carolina. Politik rasisme terselubung seakan dimainkan Trump - di mana Trump adalah sosok politisi rasis yang mencoba menggunakan kata-kata yang menyembunyikan sentimen rasisnya yang sebenarnya - setelah Trump memimpin AS, sekarang rasisme menjadi terbuka. Kematian Floyd, contoh efek negatif dari kefanatikan rasis yang dirasakan warga kulit hitam. Ini menunjukkan bahwa demokrasi gagal menyelesaikan masalah rasisme.

Barat tidak memiliki cara nyata untuk mengatasi masalah-masalah seperti rasisme dan selalu menawarkan solusi tambal sulam yang tidak kekal dan dapat berubah dengan angin politik. Kaum muslim dan warga kulit hitam, mereka mungkin memang menemukan diri mereka sebagai korban dari tren rasis yang semakin buruk dari sistem sekuler ini.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here