Urgensi Meningkatkan Kekuatan Militer - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Sunday, June 14, 2020

Urgensi Meningkatkan Kekuatan Militer


Agung Wisnuwardana (Strategic And Military Power Watch)

Militer adalah tulang punggung dan otot sebuah negara. Memiliki peran kunci terhadap keselamatan warganya dari ancaman musuh. Dalam sudut pandang Islam, militer merupakan satu kesatuan yang terdiri dari beberapa resimen. Masing-masing resimen diberi nomor sehingga disebut resimen pertama, resimen ketiga, dan semisalnya; atau dinamakan sesuai dengan nama wilayah atau 'imalah (daerah kabupaten) sehingga disebut Resimen Syam, Resimen Mesir, Resimen Shan'a, dan sebagainya.

Militer Islam ditempatkan di kamp-kamp militer khusus. Di setiap kamp militer ditempatkan sejumlah pasukan, bisa satu batalion atau beberapa batalion; bisa juga satu atau beberapa kompi tentara. Namun, kamp-kamp militer itu wajib ditempatkan di berbagai wilayah; sebagian lagi ditempatkan di pangkalan militer, dan sebagian lainnya dijadikan sebagai pasukan mobilitas yang melakukan pergerakan secara kontinu sebagai kekuatan pemukul yang siap tempur. Masing-masing kamp militer diberi nama tertentu semisal Kamp "Habbaniyah, daerah di Irak", dan masing-masing kamp militer memiliki rayah.

Susunan demikian itu ada yang sifatnya mubah, seperti penamaan resimen dengan nama daerahnya atau dengan nomor tertentu. Hal ini diserahkan kepada pendapat dan ijtihad Khalifah. Ada juga yang masuk dalam pengertian kaidah fikih:

مَالاَ يَتِمُّ الوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ

"Suatu kewajiban yang tidak sempurna pelaksanaannya kecuali dengan sesuatu yang lain maka sesuatu itu menjadi wajib."

Artinya, harus ada sebagai sesuatu untuk melindungi negeri, seperti penempatan pasukan di daerah-daerah perbatasan dan penempatan resimen tentara di kamp-kamp militer di berbagai tempat strategis dengan tujuan melindungi negara dan sebagainya.

Khalifah Umar bin al-Khaththab pernah membagi kamp-kamp militer menurut wilayah. Beliau menempatkan pasukan di Palestina dan Maushul; menempatkan pasukan di ibukota negara; juga memiliki pasukan yang ada di benteng, yang disiagakan untuk bertempur saat ada serangan pertama (Hizbut Tahrir, Muqaddimah ad-Dustur, hlm. 219; Hizbut Tahrir, Ajhizah Dawlah al-Khilafah, hlm. 90; Zallum, Nizham al-Hukm fii al Islam, hlm. 157)

Setiap prajurit militer harus dilengkapi dengan persenjataan, logistik, sarana dan fasilitas yang dibutuhkan serta kebutuhan-kebutuhan lain, yang memungkinkan pasukan untuk melaksanakan tugasnya sebaik mungkin sebagai prajurit militer Islam. Dalilnya adalah firman Allah SWT:

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ

"Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambatkan untuk berperang (yang dengan persiapan itu) agar kalian menggentarkan musuh Allah dan musuh kalian serta orang orang selain mereka yang tidak kalian ketahui, sedangkan Allah tahu." (QS al-Anfal [8]: 60).

Menyiapkan kekuatan untuk menghadapi perang hukumnya fardhu. Kekuatan yang disiapkan tersebut juga harus terlihat jelas sehingga bisa menggentarkan musuh dan orang-orang munafik dari kalangan rakyat. Sebab, firman Allah SWT "turhibuna (agar kalian) menggentarkan)" adalah 'illat (penyebab) kewajiban membuat persiapan tersebut. Karena itu penyiapan kekuatan tersebut tidak bisa dinilai sempurna, kecuali kalau 'illat perintah tersebut telah dipenuhi, yaitu menggentarkan musuh dan orang-orang munafik. Dari sini kemudian lahir hukum kewajiban memiliki persenjataan, perlengkapan tempur, logistik, perbekalan, amunisi-amunisi, serta peralatan pasukan yang lain secara memadai sehingga betul-betul bisa menggentarkan musuh. Lebih utama lagi jika penyediaan dan penyiapan kekuatan tersebut dimiliki oleh militer Islam sehingga mampu mengemban tugas jihad dalam rangka menyebarkan dakwah Islam.

Ketika Allah SWT menyerukan kepada kita agar menyiapkan kekuatan, maka Allah SWT menetapkan 'illat yang harus diperhatikan dalam menyiapkan kekuatan, yaitu menyebabkan ketakutan kepada musuh, baik musuh yang terlihat maupun yang tidak (QS al-Anfal [8]: 60).

Dengan demikian harus diperhatikan secara seksama bahwa Allah SWT sebenarnya tidak memerintahkan penyiapan dalam rangka berperang, melainkan dalam rangka membuat musuh ketakutan dan gentar. Tentu penyataan ini lebih tajam maknanya. Sebab, ketika musuh mengetahui kekuatan kaum Muslim, maka mereka yang akan menyerang kaum Muslim dan yang akan diserang oleh kaum Muslim menjadi gentar dan ketakutan. Ini merupakan startegi yang paling baik untuk memperoleh kemenangan dan memenangkan peperangan sebelum berperang (Hizbut Tahrir, Muqaddimah ad-Dustur, hlm. 222; Zallum, Nizham al-Hukm fii al-Islam, hlm. 164).

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here