Zuhud - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, June 5, 2020

Zuhud

Abu Inas (Tabayyun Center)

Akhlaq al-karimah adalah salah satu tanda kesempurnaan keimanan dan ketakwaan seorang mukmin. Menjadi penyeru kebaikan dan perubahan tidak cukup mengubah diri sendiri menjadi baik tetapi juga harus berupaya merubah orang-orang di sekitar menjadi baik, artinya setiap muslim tidak hanya jadi orang baik, tetapi dituntut menjadi penyeru kebaikan. Bagi seorang pengemban dakwah, ketika sifat-sifat mulia telah terinternalisasi pada dirinya, maka mereka akan menjadi magnitude yang akan diikuti umat. Sehingga nasihat dan seruan kepada mad'u terasa membekas. Di antara akhlaq yang mulia adalah zuhud.

Sederhana dan bersahaja yang terwujud dalam perilaku zuhud, merupakan sifat mulia yang perlu diteguhkan baik muslim maupun muslimah, terlebih lagi para ulama dan setiap pengemban dakwah, agar mereka tidak tertipu oleh dunia dengan segala kelezatannya. Zuhud tidaklah bermakna menggelandangkan dunianya. Tapi, orang beriman beramal shalih untuk unggul di dunia, pada saat yang sama, akal dan perasaan mereka tidak tertipu pada dunia. Mereka meyakini betul bahwa dunia itu tidak kekal dan akhiratlah yang lebih baik dan lebih kekal. Sehingga, orang-orang beriman beramal di dunia dengan segala kesungguhan bukan hanya untuk mendapatkan kenikmatan sesaat di dunia, tetapi untuk meraih ridha Allah dan surga-Nya di akhirat.

Imam Sufyan ats-Tsauri ditanya: "Akankah orang yang berharta itu menjadi seorang zuhud?" Beliau menjawab: "Ya, dengan catatan jika hartanya bertambah, maka ia bersyukur, dan sebaliknya jika hartanya berkurang, maka ia juga bersyukur dan bersabar."

Yahya bin Mu'ad berkata: "Aku heran pada tiga hal: Pertama, seseorang yang beramal dengan riya' (dipamerkan) kepada makhluk sesamanya, sebaliknya ia enggan beramal karena Allah. Kedua, seseorang yang kikir dengan hartanya, sementara Tuhannya meminta pinjaman padanya, namun ia tidak meminjamkan sedikitpun harta pada-Nya. Ketiga, seseorang yang senang bersahabat dan berkawan dengan para makhluk, sementara Allah menyerunya agar bersahabat dan berkawan dengan-Nya." (Abdul Aziz bin Muhammad Salman, Mawarid al-Dzam'an li Durus al-Zaman Juz II).

Dari Jundab bin Abdullah al-Bajali, ia berkata: "Aku datang ke Madinah guna menimba ilmu, lalu aku masuk ke masjid Rasulullah saw. Maka di dalamnya orang-orang membentuk beberapa halqah guna membahas berbagai perkara. Aku kemudian mengikuti semua halqah itu, hingga tiba pada satu halqah yang di dalamnya ada seorang laki-laki yang kurus, ia memakai dua buah baju seakan-akan baru tiba dari satu perjalanan."

Aku mendengarnya berkata: "Celakalah mereka yang memiliki kekuasaan dan mempunyai kedudukan. Tiadalah obat yang bisa menolong mereka." Aku mengira bahwa ia mengatakan hal itu berkali-kali. Aku duduk mendekatinya, ia menerangkan fatwanya, kemudian berdiri. Aku menanyakannya pada yang hadir setelah dia berdiri: "Siapa gerangan orang ini?" Mereka menjawab: "Inilah sayyidul muslimin (pemimpin kaum Muslim) Ubay bin Kaab".

Lalu aku mengikutinya, hingga tiba di rumahnya. Ternyata rumahnya begitu usang, begitu pula dengan bentuknya. Ia seorang laki-laki zuhud yang tiada bandingannya, walaupun semua orang saling menggabungkan kezuhudannya untuk menandingi kezuhudannya.

Suatu hari, Abdullah bin Umar diberi hadiah oleh temannya sebuah bejana yang penuh berisi. Ibnu Umar bertanya: "Apakah ini?" Temannya menjawab: "Ini obat mujarab yang aku bawa untukmu dari Irak." Ibnu Umar berkata: "Apa khasiat obat ini?" Temannya menjawab: "(Membantu) mencernakan makanan". Ibnu Umar tersenyum dan berkata pada temannya: "Membantu mencernakan makanan? Sesungguhnya aku tidak pernah kenyang makan makanan selama empat puluh tahun". Ibnu Umar ra takut, jika pada hari kiamat kelak dikatakan padanya: "Engkau telah menghabiskan segala yang lezat milikmu sepanjang hidupmu di dunia, dan hidup bersenang-senang dengannya". Sebagaimana ia sering katakan pada dirinya: "Aku tidak membuat bangunan dengan dinding tembok, dan tidak menanam sebatang kurma pun sejak Rasulullah saw wafat". Maimun bin Mahran berkata: "Aku memasuki rumah Ibnu Umar, lalu aku menaksir segala sesuatu yang ada di rumahnya, mulai dari tempat tidur, selimut dan periuk besar, dan semua perabotannya, aku tidak mendapati nilainya mencapai seratus dirham."

Sikap zuhud menjadikan seorang hamba Allah berhati-hati dari sifat riya' dan kikir. Yahya bin Mu'ad berkata: "Aku heran pada tiga hal: Pertama, seseorang yang beramal dengan riya' (dipamerkan) kepada makhluk sesamanya, sebaliknya ia enggan beramal karena Allah. Kedua, seseorang yang kikir dengan hartanya, sementara Tuhannya meminta pinjaman padanya, namun ia tidak meminjamkan sedikitpun harta pada-Nya. Ketiga, seseorang yang senang bersahabat dan berkawan dengan para makhluk, sementara Allah menyerunya agar bersahabat dan berkawan dengan-Nya.” (Abdul Aziz bin Muhammad Salman, Mawarid al-Dzam'an li Durus al-Zaman Juz II).

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here