Anak, Orangtua, Negara - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Tuesday, July 7, 2020

Anak, Orangtua, Negara


Hadi Sasongko (Direktur Poros)

Keluarga Muslim saat ini beraneka ragam kondisinya. Ada yang masih menanamkan nilai islami, seperti sholat berjamaah, motivasi menutup aurat, penjagaan pergaulan anak, dsb. Ada juga yang menanamkan nilai demokratis, yang membolehkan anaknya berbuat apa saja dengan catatan bertanggung jawab, seperti tidak apa-apa pacaran asalkan tidak hamil, boleh pulang malam asal besok sekolah, dsb.

Kondisi keluarga Muslim pastinya dipengaruhi oleh cara pandang dari orangtua tersebut. Cara pandang tersebut juga pastinya diwarnai oleh proses berpikir ataupun maklumat (informasi-informasi sebebelumnya) yang telah mereka miliki. Ketika orangtua telah memiliki pandangan bahwa anak adalah amanah dari Allah Swt., maka orangtua akan berusaha mendidik anak dengan cara Rasulullaah saw. ajarkan. Orangtua tersebut akan mencari tahu bagaimana Islam mendidik anak.

Ketika ada orangtua Muslim yang sudah terbiasa dengan kebebasan, maka mereka tidak merasa terlalu memikirkan cara mendidik anak. Namun yang mereka pikirkan hanyalah memenuhi kebutuhan primer bahkan tidak sedikit dari mereka yang berusaha memenuhi segala kebutuhan sekunder dan tersier anak-anaknya sebagai bentuk tanggungjawab sebagai orangtua. Maka sebagai efeknya, dengan kebebasan yang didapatkan oleh anak. Maka tidak sedikit dari mereka yang akhirnya kebablasan dan seperti gasing yang sulit dikendalikan oleh pemainnya.

Lalu ada pertanyaan, remaja pelaku kegiatan negatif dilakukan oleh dari keluarga yang mana? Ya, dari dua tipe keluarga di atas ada. Tetapi porsi keluarga yang terbiasa dengan perilaku kebebasan lebih banyak mewarnai. Mengapa tetap ada anak yang berasal dari keluarga Muslim yang sudah menginternalisasi nilai Islam tetap melakukan? Karena lingkungan luar dan masyarakat bisa mewarnai seorang anak yang mungkin sedang mencari identitas dirinya. Untuk anak seperti ini, ketika melakukan kekhilafan tidak akan sulit untuk menariknya kembali kepada kebaikan.

Lalu anak yang sudah terbiasa dengan kebebasan memang memiliki porsi lebih banyak karena bisa jadi awalnya orangtuanya menganggap kesalahan yang dilakukan adalah hal biasa. Tetapi mereka tidak berpikir bahwa hal tersebut bisa saja merembet kepada kesalahan yang lain.

Sebagai contoh, negara saat ini tidaklah terlalu serius dalam mensensor konten negatif di media sosial sehingga menimbulkan atau mencetak perilaku dan pemikiran bagi anak. Ada anak yang akhirnya melihat, dan terpengaruh dan mengadaptasi perilaku bebas yang gampang dilihat. Bagi anak yang berasal dari keluarga Muslim, mungkin ada juga yang melihat, tetapi dengan bekal ilmu yang dia miliki ataupun dari nasihat juga pengawasan dari orangtua akan segera menghentikan melihatnya. Bagi anak yang berasal dari keluarga bebas, mungkin akan membiarkan saja dan tidak terlalu peduli dengan konten yang sedang dilihat atau dibaca anak sehingga anak mengadaptasi mulai dari penampilan, perkataan, dan perilaku. Ada anak yang akhirnya melakukan pacaran dan terkadang diamini oleh orangtua karena mereka punya pemikiran tidak mengapa pacaran asal dalam batas kewajaran meskipun pada akhirnya kebabalasan seolah nantinya tiada hari penghisaban.

Terlepas bagaimana kondisi keluarga Muslim saat ini, sudah seharusnya negara bertanggung jawab penuh dalam melindungi warga negaranya. Sekuat apapun keluarga Muslim yang baik, pasti akan ada peluang terwarnai jika sistem negara ini tidak melakukan pembenahan atau hal-hal preventif terhadap tindakan kejahatan. Sekolah pun saat ini sudah mulai berupaya untuk membenahi akhlak para siswa, tetapi negara belum secara serius secara sistemik dalam menjaga anak-anak kita.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here