Asisten Rumah Tangga Adalah Manusia, Gajilah Dengan Upah Layak - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Tuesday, July 28, 2020

Asisten Rumah Tangga Adalah Manusia, Gajilah Dengan Upah Layak



Suro Kunto (SPBRS Jatim)

Pembantu rumah tangga harus sama diperlakukan layaknya buruh di perusahaan ataupun pekerja bagi individu lainnya. Definisi pekerja adalah setiap orang yang dipekerjakan dengan kompensasi upah atau gaji, apakah mereka menjadi pekerja pada individu, kelompok ataupun pekerja bagi negara. Pembantu rumah tangga termasuk kategori pekerja tersebut. Oleh sebab itu berlaku bagi dia hukum yang terkait dengan pekerja. Yaitu hukum akad kerja mulai dari bentuk dan jenis pekerjaan, masa kerja, upah dan tenaga yang dicurahkan.

Disyaratkan agar upah dalam transaksi ijarah disebutkan secara jelas. Agar terjadi keridloan dari kedua belah pihak. Karena syarat dari suatu akad adalah keridloan. Diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud berkata: Nabi SAW. bersabda:

إذَا إِسْتأْجَرَ اَحَدُكُمْ أجِيْرًَا فَلْيَعْلَمْهُ أجْرَهُ

"Apabila salah seorang di antara kalian, mengontrak (tenaga) seorang ajiir, maka hendaknya dia memberitahukan tentang upahnya." (HR. Ad-Daruquthni)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abi Sa'id bahwa nabib SAW:

نَهَى عَنْ اِسْتئجَارِ الأَجِيْر حَتّى يَتَبَيّنَ لَهُ اَجْرهُ

"Bahwa Nabi saw melarang mengontrak seorang ajiir hingga upahnya jelas bagi ajiir tersebut."

Namun bila terjadi ketidakjelasan upah di awal tetapi akad kerja sudah terjadi, maka akad tersebut tetap sah. Bila nanti terjadi perselisihan tentang besarnya upah maka jumlah upah dikembalikan kepada jumlah upah standar atau sepadan. Hanya saja yang menentukan upah standar ini bukanlan negara sebagaimana ketentuan UMR sekarang yang amat jauh dari kelayakan. Upah sepadan ini disesuaikan dengan kualitas kerja maupun jenis pekerjaannya. Dan yang menentukannya adalah pihak ahli yang mengetahui tentang upah kerja ataupun pekerja yang hendak ditentukan upahnya.

Lalu peetanyaan pentingnya adalah bagaimana mencegah dan mengatasi pelecehan seksual dan tindak kekerasan kepada khadimat? Jawabannya adalah faktor utama adalah pemahaman dari majikan. Siapapun yang mempekerjakan orang lain dia harus memahami tatacaranya. Apa saja hak yang dimiliki pekerja yang notabene menjadi kewajiban bagi orang yang mempekerjakan. Pengetahuan dan pemahaman ini merupakan syarat mutlak. Sehingga akad transaksi kerja sesuai dengan ketentuan syari'ah Islam, terjadi saling ridlo dan menerima, sehingga pekerjaan berjalan baik dan berkah. Majikan yang faham tidak akan memperlakukan pekerjanya dengan semena-mena karena dia faham bagaimana sikap menghargai manusia lain sebagai konsekuensi dari akhlak muslim. Dia akan memberi upah sesuai ketentuannya, yaitu melihat dari manfaat jasa yang diberikan pekerja, melakukan kesepakatan besarnya upah. Menjelaskan jenis pekerjaan apa saja yang akan dikerjakan pekerjanya. Majikan yang faham akan memenuhi hak pekerjanya dengan baik.

Pemahaman ini lahir dari keimanan yang kuat. Tanpa hal ini rasanya mustahil akan ada majikan yang baik. Andai saja terjadi suatu kekhilafan dan kelalaian karena majikan tidak terikat dengan hukum syara’ dalam memperlakukan pekerjanya, maka tindakan dia patut diberi sanksi. Agar majikan jera bahwa tindakannya tersebut akan ada konsekuensinya sehingga dia tercegah dari perbuatan aniaya berikutnya.

Jadi, adanya pemahaman dan pemberlakuan sanksi inilah yang akan mencegah tindak kekerasan dan penganiyaan pembantu rumah tangga.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here