Bil Hikmah, Tanpa Kekerasan - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, July 24, 2020

Bil Hikmah, Tanpa Kekerasan

Hadi Sasongko

Sesungguhnya Islam telah menjelaskan metode syar'i untuk berdakwah menegakkan Syariah Islam secara rinci. Metode ini merupakan hukum syariah yang mengikat kaum Muslim hingga akhir jaman. Seorang Muslim dituntut untuk selalu bersabar dan konsisten di atas manhaj itu.

Sayang, di antara kaum muslim dalam syiar dakwah Islam justru tidak sabar menempuh manhaj yang mulia itu. Dengan alasan terlalu panjang dan lama, akhirnya mereka meninggalkan manhaj yang sahih dan beralih ke jalan kekerasan. Bahkan sebagian kaum Muslim menyakini bahwa mengangkat senjata dan jihad adalah thariqah syar'iyyah untuk menegakkan syariah. Mereka beralasan bahwa dominasi dan pengaruh sistem kufur atas kaum Muslim amatlah kuat dan telah merambah di seluruh sendi kehidupan. Sementara itu, perubahan dengan cara damai belum membuahkan hasil yang diinginkan. Organisasi dan gerakan Islam yang diharapkan mampu mengubah keadaan masyarakat dan negara justru memilih untuk bekerjasama dan memperkuat pemerintahan zalim. Dalam keadaan seperti ini, sangat sulit mengharapkan perubahan dengan cara damai. Menurut mereka, jihad dan mengangkat senjata adalah pilihan yang paling masuk akal. Apalagi Nabi saw. menetapkan jihad fi sabilillah sebagai amal yang paling utama setelah iman.

Memang benar, dakwah Islam belum membuahkan hasil yang memuaskan. Dominasi sistem kapitalisme dan antek-anteknya hari demi hari dirasakan masih kuat. Bahkan muncul sejumlah tudingan partai dan gerakan Islam berhasil dikooptasi oleh musuh-musuh Islam hingga melenceng jauh dari tujuan dan arah dakwah Islami. Namun, realitas seperti ini bukanlah dalil syariah dan sekali-kali tidak boleh dijadikan sebagai dalil untuk merumuskan hukum dakwah. Pasalnya, realitas adalah manath al-hukm (obyek hukum), bukan mashdar al-hukm (sumber hukum). Hukum dakwah tidak boleh digali dari realitas, tetapi harus di-istinbath (digali) dari dalil-dalil syariah, yakni al-Quran dan Sirah Nabi saw.

Nabi saw. tidak pernah menggunakan kekerasan untuk menegakkan Daulah Islamiyah. Beliau dan para Sahabat juga tidak beralih ke jalan kekerasan tatkala dominasi dan kooptasi kaum kafir Quraisy semakin menguat. Beliau memilih thalabun nushrah (menggalang dukungan) sebagai metode untuk meraih kekuasaan Islam, dengan bertumpu pada aktivitas pembinaan kader dan berinteraksi dengan masyarakat. Beliau tetap bersabar dan konsisten menempuh manhaj tersebut hingga datang pertolongan Allah SWT. Sikap inilah yang harus dijadikan pegangan dan dalil untuk menetapkan hukum dakwah, bukan realitas yang terus berubah.

Adapun berkenaan dengan kewajiban mengangkat senjata dan jihad fi sabilillah, sesungguhnya tak seorang pun menyangsikan bahwa mengangkat senjata di hadapan penguasa dan jihad di jalan Allah adalah dua aktivitas yang disyariatkan dalam Islam. Hanya saja, dua aktivitas tersebut bukanlah thariqah yang ditetapkan Nabi saw. untuk menegakkan syariah Islamiyah. Jihad ditetapkan sebagai metode untuk mengusir musuh dari negeri-negeri Islam dan menaklukkan negeri-negeri kafir, bukan thariqah untuk menegakkan al khilafah rasyidah. Demikian juga mengangkat senjata terhadap penguasa yang terjatuh dalam kekufuran yang nyata adalah hukum syariah untuk memecahkan persoalan penyimpangan penguasa, bukan thariqah untuk menegakkan Khilafah. Menjadikan dua aktivitas tersebut (jihad dan mengangkat senjata) sebagai thariqah untuk menegakkan al khilafah al Islamiyah jelas-jelas telah menempatkan hukum syariah tidak pada tempatnya.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here