Buang Pesimis, Kemenangan Pasti Datang - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Thursday, July 23, 2020

Buang Pesimis, Kemenangan Pasti Datang


Kurniawan (Jurnalis di AJMI)

Umat makin menyadari urgensi khilafah. Kembalinya Khilafah—sebagai wujud kekuasaan riil umat Islam—sekaligus merupakan janji dari Allah SWT, sebagaimana firman-Nya:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا

Allah telah menjanjikan kepada orang-orang beriman dan beramal salih di antara kalian, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa; akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai (Islam); dan akan mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan, menjadi aman sentosa (TQS an-Nur [24]: 55).

Sungguh, janji Allah SWT bahwa kaum Muslim akan kembali berkuasa pasti benar. Demikian pula berita gembira dari Rasulullah saw. tentang akan kembalinya Khilafah 'ala minhaj an-nubuwwwah ke tengah-tengah umat.

Sungguh, jika Allah SWT berjanji, pasti Dia akan memenuhi janji-Nya. Namun demikian, janji Allah SWT tidak cukup sekadar diyakini, tetapi benar-benar harus kita wujudkan. Karena itu tidak boleh siapa pun berdiam diri menegakkan kembali syariah dan Khilafah dengan dalih bahwa itu sudah merupakan janji Allah SWT sehingga tidak perlu diperjuangkan.

Putus asa bukanlah pilihan yang tepat.  Sikap putus asa ini tercermin pada keyakinan, sikap dan perkataan mereka yang menyatakan bahwa perjuangan menegakkan kembali Khilafah Islamiyah adalah utopis. Akibatnya, mereka acuh tak acuh dan cenderung mencemooh perjuangan menegakkan Khilafah Islamiyah. Padahal, sikap putus asa dan mencemooh kewajiban yang dibebankan Allah SWT termasuk perbuatan dosa dan cermin kelemahan iman. Nabi saw. bersabda:

وَثَلاَثَةٌ لاَ تُسْأَلُ عَنْهُمْ: رَجُلٌ نَازَعَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ رِدَاءَهُ فَإِنَّ رِدَاءَهُ الْكِبْرِيَاءُ وَإِزَارَهُ الْعِزَّةُ، وَرَجُلٌ شَكَّ فِي أَمْرِ اللهِ، وَالْقُنُوْطُ مِنْ رَحْمَةِ اللهِ

Ada tiga golongan manusia yang tidak akan ditanya pada Hari Kiamat yaitu: manusia yang mencabut selendang Allah dan sesungguhnya selendang Allah adalah kesombongan dan kainnya adalah al-'izzah (keperkasaan); manusia yang meragukan perintah Allah; dan manusia yang putus harapan dari rahmat Allah (HR Ahmad, Thabrani dan Al-Bazzar; Al-Haitsami berkata, perawinya terpercaya. Diriwayatkan pula oleh Al-Bukhari dalam Al-Adab dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya).

Menegakkan Khilafah Islamiyah adalah kewajiban syariah. Sikap seorang Mukmin sejati, ketika diperintahkan Allah SWT dan Rasul-Nya untuk menjalankan sebuah kewajiban, adalah "kami dengar dan taat"; bukan meragukan, mencemooh atau menganggapnya utopis. Sikap mencemooh dan menganggap utopis perintah menegakkan Khilafah merupakan bentuk peraguan terhadap perintah Allah SWT.

Memang benar, menegakkan Khilafah Islamiyah adalah aktivitas yang sangat sulit dan sukar. Namun, keliru jika seorang Muslim pesimis dan putus asa terhadap tegaknya Khilafah Islamiyah, atau menyatakan bahwa perjuangan menegakkan Khilafah Islamiyah utopis dan khayali. Pasalnya, menegakkan Khilafah Islamiyah adalah kewajiban syariah sekaligus janji Allah SWT atas kaum Mukmin

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here