Guru Bukan Sekedar Gudang Ilmu - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Wednesday, July 29, 2020

Guru Bukan Sekedar Gudang Ilmu



Hadi Sasongko (Direktur POROS)

Dampak penerapan sistem kapitalisme, dirasakan banyak para pendidik berpotensi menghilangkan sifat taqwa dan ikhlas kaum guru. Akibatnya, ini akan memunculkan kemunafikan, kemalasan dan kelalaian. Tak heran jika kemudian mereka menghasilkan anak didik dengan tsaqofah yang dangkal, aqidah yang lemah, tidak peka dan tidak paham masalah umat. Alih-alih menjadi pelopor dalam kebangkitan umat, yang ada justru menjadi beban.

Sistem kapitalisme tegak dengan segala pemahamannya yang bertentangan dengan hukum-hukum Islam, bahkan menghancurkan aqidah Islam. Kapitalisme juga menebar kerusakan, sekularisme, liberalisme, dan pemahaman kapitalistik lainnya yang busuk. Menjadi kewajiban para guru untuk menampakkan kerusakan ini dan memerangi ide-ide dan menjelaskan kepalsuan dan bahayanya.  Berkata Abdullah bin Mas'ud ra: "Ilmu tidak diukur oleh banyaknya perkataan, tetapi oleh rasa takut (kepada Allah)."

Sungguh, kaum guru wajib mengajarkan metode berfikir yang benar, tidak ridho terhadap hal-hal yang bertentangan dengan syari'at, meninggikan kebenaran, tidak lembek dan munafik.  Dan hendaknya ia menanamkan dalam hati bahwa umur dan rezeki di tangan Allah, mereka tidak takut dengan celaan orang-orang yang mencela, dan tidak mengajarkan rasa takut dan sikap pengecut.

Jadi, guru bukanlah sebatas gudang ilmu, tempat murid-murid menimba ilmu pengetahuan. Namun, ia adalah suri tauladan. Teladan adalah unsur penting dalam penilaian baik dan buruknya guru. Jika ia jujur, amanah, mulia, berani, menjaga diri, berhias dengan akhlak-akhlak yang baik, maka murid-muridnya akan tumbuh menjadi orang yang jujur, amanah, berakhlak mulia, berani dan menjaga diri. Sebaliknya, jika guru berbohong,khianat, munafik, pengecut, maka murid pun akan tumbuh dengan sifat dan akhlak tersebut.

Posisi dan peran guru sangat kritis. Lihatlah berapa orang yang sudah dibuat baik olehnya dan berapa yang telah dibuat rusak. Berapa yang diberi pengaruh positif dan berapa yang negatif. Pendidikan dengan teladan lebih efektif dan kuat pengaruhnya dibanding perkatan teoritis semata. Firman Allah SWT dalam QS Al-Baqarah [1] ayat 44:

﴿أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ﴾

"Mengapa kalian menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kalian melupakan diri (kewajiban) sendiri, padahal kalian membaca Al kitab (Taurat)? Maka tidakkah kalian berpikir?"

Peran guru tidak boleh terpisah dari umat dan masyarakat. Guru adalah agen perubahan, kaum cerdas dan aktif, ulama dan pejuang, penyeru pada kebaikan dan pencegah kemungkaran, serta penegak kebenaran. Guru juga memiliki pengaruh besar, peran, dan kedudukan yang kini telah hilang akibat hilangnya wibawa Islam setelah runtuhnya Khilafah Islamiyyah. Dan semua itu tidak akan kembali kecuali dengan kembalinya Islam yang kuat dan disegani seperti dulu, dan hal ini mudah bagi Allah untuk mewujudkannya.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here