Harga Pas Untuk Keadilan dan Kesejahteraan Bagi Perempuan - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, July 24, 2020

Harga Pas Untuk Keadilan dan Kesejahteraan Bagi Perempuan


Muhammad Amin, dr, M. Ked. Klin,

Sistem Islam memiliki aturan komperehensif yang menjamin keadilan dan kesejahteraan bagi siapapun, termasuk perempuan. Hanya sistem Islam yang memberi solusi atas setiap persoalan kehidupan yang berangkat dari pandangan yang universal mengenai perempuan, yakni sebagai bagian dari masyarakat manusia, yang hidup berdampingan secara harmonis dan damai dengan laki-laki dalam kancah kehidupan ini.

Syariah Islam sebagai aturan kehidupan dipastikan akan menjamin kebahagiaan manusia secara keseluruhan selama aturan ini tegak dan diterapkan secara kaffah. Aturan Islam pun dipastikan akan bersifat tetap sekalipun bentuk kehidupan masyarakat berubah, karena Islam datang dari Zat Yang Mahatahu dan Mahasempurna.

Mahasuci Allah yang telah memberikan aturan Islam yang bersifat tetap dan sempurna, yakni aturan yang telah memuliakan kaum perempuan setelah sebelumnya mereka dihinakan dan direndahkan. Islam datang pada saat budaya masyarakat mensubordinasi perempuan. Pada saat itu perempuan tak lebih dari benda yang bisa dimiliki dan diwariskan, bahkan hanya dianggap sebagai pemuas nafsu laki-laki yang tak boleh berkeinginan. Yang lebih mengerikan, pada saat itu perempuan menjadi simbol kehinaan. Kehadiran anak perempuan dianggap sebagai aib luar biasa besar dan membunuhnya menjadi budaya yang diwajarkan.

Jelas, sebuah revolusi besar ketika Islam justru datang dengan mengungkapkan bahwa perempuan dan laki-laki adalah manusia dengan segala potensi hidup dan akalnya. Sebagai manusia, perempuan juga mengemban tugas hidup yang sama sebagaimana laki-laki, yakni beribadah melakukan penghambaan kepada Allah sang Pencipta, sekaligus mengemban misi kekhalifahan di muka bumi berdasarkan aturan hidup yang telah ditentukan. Islam juga menetapkan bahwa standar kemuliaan seseorang tidak ada kaitannya dengan jenis kelamin, kedudukan dan materi, melainkan terkait dengan kadar ketakwaan seseorang di hadapan Allah. Dalam kerangka pemuliaan ini, Islam menetapkan berbagai aturan yang adil dan harmonis yang akan menjamin kemuliaan hidup keduanya, baik di dunia maupun di akhirat.

Memang benar, adakalanya Allah SWT memberikan aturan yang sama kepada laki-laki dan perempuan. Sebagai hamba Allah SWT, keduanya dipandang dari sisi insaniahnya yang memiliki potensi dan akal yang sama. Keduanya wajib menuntut ilmu, berbakti kepada orangtua, menegakkan shalat, membayar zakat, bershaum, berhaji, mengemban dakwah, dan lain-lain. Namun, adakalanya pula Allah SWT memberikan aturan yang berbeda manakala dipandang dari sisi tabiat keduanya memang berbeda sebagai laki-laki dan perempuan; baik berkaitan dengan fungsi, kedudukan maupun posisi masing-masing dalam masyarakat. Allah SWT telah membebankan kewajiban mencari nafkah dan melindungi keluarga kepada laki-laki, misalnya. Sebaliknya, Allah SWT telah menjadikan tugas pokok perempuan sebagai ibu dan pengelola rumahtangga sesuai dengan tabiat keperempuanannya. Sungguh, aturan ini sangat adil.

Dalam hal peran, Islam telah menetapkan bahwa di samping sebagai hamba Allah SWT yang mengemban kewajiban-kewajiban individual sebagaimana halnya laki-laki, perempuan secara khusus telah dibebani tanggung jawab kepemimpinan sebagai ibu dan pengatur rumahtangga (ummun wa rabbah al-bayt). Sebagai ibu, dia wajib merawat, mengasuh, mendidik dan memelihara anak-anaknya agar kelak menjadi orang yang mulia di hadapan Allah SWT. Sebagai pengatur rumahtangga dia berperan membina, mengatur dan menyelesaikan urusan rumah tangganya agar memberikan ketenteraman dan kenyamanan bagi anggota-anggota keluarga yang lain, sekaligus menjadi mitra utama laki-laki sebagai pemimpin rumahtangganya berdasarkan hubungan persahabatan dan kasih sayang. Dengan peran-peran khususnya ini, sesungguhnya perempuan dipandang telah memberikan sumbangan besar kepada umat dan masyarakatnya. Bahkan kegemilangan peradaban sebuah masyarakat—sebagaimana yang pernah dicapai belasan abad oleh umat Islam terdahulu—tidak bisa dipisahkan dari keberhasilan peran para ibu. Sebab dengan begitu, berarti mereka telah berhasil mendidik dan memelihara generasi umat sehingga tumbuh menjadi individu-individu yang mumpuni, yakni generasi mujtahid dan mujahid yang telah berhasil membangun masyarakat dan peradaban Islam hingga mengalami kegemilangan. Oleh karena itu, jelas menjadi ibu sesungguhnya merupakan peran yang sangat mulia dan memiliki nilai politis dan strategis, karena dari para ibu inilah akan lahir para pemimpin umat yang cerdas dan berkualitas.

Islam juga membuka ruang bagi perempuan untuk masuk dalam kehidupan umum, berkiprah dalam aktivitas yang dibolehkan seperti berjual beli, menjadi pedagang, bahkan qadhi. Sebagaimana yang terjadi pada masa Khalifah Umar ra. Pada waktu itu Umar ra. mengangkat Syifa' sebagai qadhi hisbah. Demikian pula terkait pelaksanaan aktivitas yang diwajibkan syariah, seperti menuntut ilmu dan berdakwah. Namun dalam kehidupan umum ini, Islam mewajibkan kaum perempuan menggunakan pakaian syar'i, yakni jilbab dan kerudung, melarang ber-tabarruj, memerintahkan laki-laki dan perempuan menjaga pandangan, melarang ber-khalwat, serta memerintahkan kaum perempuan yang hendak bepergian jauh untuk disertai mahram-nya. Dengan aturan-aturan ini, kehormatan keduanya akan selalu terjaga dan terhindar dari tindak kejahatan seksual sebagaimana yang kerap terjadi dalam masyarakat kapitalistik saat ini.

Islam pun telah menempatkan perempuan sebagai bagian dari masyarakat sebagaimana halnya laki-laki. Keberadaan keduanya di tengah-tengah masyarakat tidak dapat dipisahkan. Keduanya bertanggung jawab menghantarkan kaum Muslim menjadi umat terbaik di dunia. Karena itu, aktivitas politik dalam pengertian pengaturan urusan umat bukan kewajiban laki-laki saja, melainkan juga merupakan kewajiban kaum perempuan sebagai bagian dari umat. Hal ini pun secara tegas diungkap dalam beberapa nash yang bersifat umum (Lihat, misalnya, QS Ali Imran [3]: 104). Di dalam hadis penuturan Hudzaifah ra. juga disebutkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda: "Barangsiapa yang tidak memperhatikan kepentingan kaum Muslim, ia tidak termasuk di antara mereka. Barangsiapa bangun pada pagi hari dan tidak memperhatikan urusan kaum Muslim, ia bukanlah golongan mereka." (HR ath-Thabari).

Tidak sedikit kaum perempuan yang ikut berjihad bersama Rasulullah saw. dan para Sahabat. Walhasil, melalui penerapan syariah Islam secara utuh dan konsisten oleh penguasa dan penjagaan/pengawasan yang ketat dari umat inilah yang akan menghantarkan pada tercapainya kemaslahatan hidup yang rahmatan lil 'alamin sebagaimana yang Allah janjikan. Tidak hanya perempuan yang termuliakan, bahkan umat secara keseluruhan akan memperoleh kebahagiaan dan kebangkitan yang hakiki sebagaimana yang pernah dialami sejak masa Rasulullah saw. hingga Khilafah diruntuhkan.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here