Mengkritisi Moderasi Kurikulum Oleh Menag - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Tuesday, July 7, 2020

Mengkritisi Moderasi Kurikulum Oleh Menag

Indarto Imam (ForPeace)

Sebagian publik dikecewakan oleh kebijakan Menteri Agama Fachrul Razi yang sebelumnya menyatakan pihaknya telah menghapus konten-konten terkait ajaran radikal versi pemerintah dalam 155 buku pelajaran agama Islam. Penghapusan konten - konten ini bagian dari program moderasi beragama yang dilakukan Kemenag.

Menelaah apa yang menjadi kebijakan moderasi beragama ala Menag, perlu kita urai secara ilmiah. Bahwa istilah Islam Moderat tidak lain cara yang digunakan Barat untuk membendung tegaknya Islam, memecahbelah dunia Islam dan melanggengkan penjajahan Barat atas Dunia Islam. Siapa saja yang mau menerima dan mengakomodasi kepentingan penjajahan Barat akan disebut Muslim moderat. Mereka akan diberikan 'carrot', dipuji habis-habisan dan dipromosikan. Sementara siapa saja yang bertentangan dengan hal itu akan disebut Muslim radikal dan teroris. Mereka mendapatkan 'stick', artinya legal diperangi dengan cara apapun.

Barat sangat menyadari bahwa tegaknya kembali Khilafah di tengah-tengah kaum muslimin yang akan menerapkan syariah Islam secara kaffah, menyatukan umat Islam diseluruh dunia, melindungi dan membebaskan umat Islam yang tertindas dengan jihad fi sabilillah dan menyebarluaskan Islam ke seluruh penjuru dunia sehingga menjadi rahmatan lil 'alamin, akan mengancam dominasi mereka. Oleh karena itu, tegaknya kembali Khilafah harus dicegah dengan segala cara. Salah satunya dengan menggunakan politik belah bambu.

Penyebaran demokrasi dan Islam Moderat ke Dunia Islam adalah salah satu strategi penting yang ditempuh Barat, khususnya untuk mengontrol perubahan di Timur Tengah agar jauh dari kebangkitan Islam. Jauh sebelum terjadi Arab Spring, strategi ini telah dirumuskan oleh berbagai lembaga think-tank AS. Pada 2007 Institut Amerika untuk Perdamaian (United States Institute of Peace-USIP) mengeluarkan hasil penelitian seputar "Islam Moderat" yang berjudul, "Integrasi Para Aktivis Islam dan Promosi demokrasi: Sebuah Penilaian Awal." Penelitian memutuskan bahwa pertempuran Amerika Serikat dengan arus kekerasan dan ekstremisme harus dilakukan dengan mendukung dan memperkuat proses demokratisasi di dunia Arab.

Penelitian ini menegaskan pentingnya mendukung para aktivis Islam "moderat" ini. Sebab, mereka adalah dinding pertahanan pertama dalam menghadapi para ekstremis dan radikal. Oleh karena itu, hasil penelitian ini merekomendasikan pentingnya AS terus mendukung demokrasi di Timur Tengah, dan mempromosikan integrasi para aktivis Islam dalam kehidupan politik Barat.

Di tahun yang sama, Yayasan RAND menerbitkan sebuah hasil penelitian komprehensif tentang "Building Moslem Moderate Network-Membangun Jaringan kaum muslim Moderat" di Dunia Islam. Penelitian ini dimulai dari teori dasar bahwa konflik dengan Dunia Islam dasarnya adalah "pergolakan pemikiran". Tantangan utama yang dihadapi Barat adalah apakah Dunia Islam akan berdiri melawan gelombang jihad fundamentalis, atau akan jatuh menjadi korban akibat kekerasan dan intoleransi. Temuan penting penelitian ini adalah "Perlunya Amerika Serikat menyediakan dan memberikan dukungan bagi para aktivis Islam moderat dengan membangun jaringan yang luas, serta memberikan dukungan materi dan moral kepada mereka untuk memerangi Islam politik dan gerakan jihad yang mengajak untuk berhukum dengan sistem syari'ah."

Penelitian ini menunjukkan bahwa sekutu yang paling penting (potensial) dalam menghadapi apa yang disebut dengan "Islam radikal" adalah kaum muslim liberal dan sekular yang percaya pada nilai-nilai liberal Barat dan cara hidup masyarakat Barat modern. Bahkan "mereka bisa digunakan untuk melawan ideologi Islam militan dan radikalisme serta dapat memiliki peran yang berpengaruh dalam perang pemikiran".

Jadi, inilah beberapa karakteristik kaum muslim moderat menurut kacamata Barat, yaitu "kaum liberal dan sekular". Semua tahu bahwa dua karakteristik ini adalah bagian budaya Barat.

Menimbang persoalan ini, saatnya untuk bangkit dan menghentikan agenda sekulerisasi pendidikan ala Barat yang rusak dan memperdaya, membawa penderitaan pada generasi yang akan datang dan umat secara umum, dan mengembalikan waktu dimana kaum muslimin unggul dalam pendidikan dan memberi kontribusi yang sangat besar dalam sains dan teknologi tanpa kompromi terhadap keimanannya. Kita telah melihat bahwa protes dari banyak kalangan melawan tingginya kenaikan biaya sekolah swasta menyebabkan pemerintah dan institusi swasta bergerak mengambil langkah, maka pahamilah kekuatan yang kita miliki dan bahwa kekuatan ini dapat menggoncang arus sekulerisasi ini.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here