Neoliberalisme, Wujud Baru Kapitalisme Yang Tamak - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Tuesday, July 28, 2020

Neoliberalisme, Wujud Baru Kapitalisme Yang Tamak



Mahfud Abdullah (Direktur Indonesia Change)

Saat ini perbincangan tentang neoliberalisme telah lepas dari akar ideologinya (Kapitalisme). Banyak yang memandang neoliberalisme hanya sebatas "isme" anti intervensi pemerintah dan anti subsidi. 

Neoliberalisme juga lebih banyak dipandang sebagai konsep ekonomi pasar berdasarkan Konsensus Washington yang dirumuskan oleh John Williamson (1989). Konsensus Washington yang berisi 10 item liberalisasi ekonomi seperti disiplin fiskal, deregulasi, privatisasi, liberalisasi perdagangan, liberalisasi investasi dan liberalisasi sektor finansial menjadi standar paket reformasi ekonomi yang ditawarkan (baca: dipaksakan) IMF, Bank Dunia dan Amerika Serikat kepada Dunia Ketiga.

Neoliberalisme merupakan "isme" yang dinisbatkan pada "watak" pemerintahan Augustu Pinochet (1873-1990) di Chile, sebagai hasil perselingkuhan keditaktoran dengan ekonomi pasar bebas (B. Hery Priyono: 2009). Perselingkuhan ini terjadi ketika Pinochet yang meraih kekuasaan melalui kudeta berdarah mengangkat Chicago boys untuk mengelola kebijakan ekonomi.

Chicago boys adalah para pemuda Chile yang mendapatkan beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat untuk belajar di Universitas Chicago. Selama 1955-1963, 30 pemuda Chile telah mendapat gelar PhD di bidang ekonomi. Di universitas inilah para pemuda tersebut dicuci otaknya dengan pemikiran ekonomi ala mazhab Chicago, yakni mazhab ekonomi yang dikembangkan oleh seorang imigran Yahudi Milton Friedman yang mendapat gelar "nabi" Neoliberalisme (Wibowo: 2004).

Milton Friedman bersama Friedrich August Hayek (ekonom dari Austria) menjadi peletak dasar bangunan neoliberalisme. Hayek mengunggulkan Kapitalisme pasar bebas dengan menempatkan harga sebagai metode untuk mengoptimalkan alokasi modal, kreativitas manusia dan tenaga kerja. Adapun Friedman berpandangan, insentif individual merupakan cara terbaik untuk menggerakkan ekonomi. Menurut Friedman, "Ada satu dan hanya satu tanggungjawab sosial bisnis, yaitu menggunakan seluruh sumberdayanya untuk aktivitas yang mengabdi pada akumulasi laba..." (B Herry Priyono: 2003).

"Isme" liberal baru yang dikembangkan Friedman dan Hayek tidak dapat dipisahkan dari nilai dan spirit ideologi Kapitalisme yang dibangun dari filsafat liberalisme klasik. Menurut Betrand Russel (2002), filsafat liberalisme klasik merupakan inti pemikiran asas ideologi Kapitalisme, yakni sekularisme.

Liberalisme yang diwujudkan dalam kebebasan individu diperlukan untuk mempertahankan dan menyebarkan nilai-nilai sekular ke seluruh dunia. Kebebasan individu tersebut dibagi ke dalam empat jenis, yaitu: kebebasan beragama (freedom of religion), kebebasan berpendapat (freedom of speech), kebebasan kepemilikan (freedom of ownership) dan kebebasan berperilaku (freedom of behavior) (Zallum: 2001). Kebebasan kepemilikan merupakan prinsip dasar sistem ekonomi Kapitalisme yang menonjolkan kepemilikan individu dalam perekonomian.

Dalam liberalisme klasik Adam Smith, perekonomian harus berjalan tanpa campur tangan pemerintah (laissez faire). Smith percaya pada doktrin invisible hands (tangan gaib) yang akan menciptakan keseimbangan secara otomatis. Setiap upaya individu mengejar kepentingannya, maka secara sadar atau pun tidak, indvidu tersebut juga mempromosikan kepentingan publik. Dengan kata lain, Smith mengklaim, dalam sebuah perekonomian tanpa campur tangan pemerintah yang mengedepankan nilai-nilai kebebasan, maka perekonomian secara otomatis mengatur dirinya untuk mencapai kemakmuran dan keseimbangan. Pandangan ekonomi Smith ini kemudian dikenal sebagai ekonomi pasar murni.

Berbeda dengan liberalisme klasik yang masih berbicara tentang kepentingan publik, liberalisme Friedman menempatkan transaksi ekonomi (motif materi) sebagai satu-satunya landasan interaksi antarmanusia dalam aspek politik, ekonomi, sosial, budaya dan hubungan antarbangsa.

Meskipun neoliberalisme mengusung ide pasar bebas, bukan berarti persaingan yang tercipta di pasar berlangsung secara bebas. Dalam bahasa Prof. Claudia von Werlhof (2007), kebebasan ekonomi yang terjadi adalah kebebasan bagi korporasi, bukan bagi masyarakat. Tidak benar pula jika dalam kerangka neoliberalisme, negara tidak melakukan campur tangan. Bahkan sering dalam merealisasikan kebijakan neolib pemerintah menerapkan kebijakan "tangan besi".

Tingkat resistensi masyarakat terhadap kebijakan neoliberal sangat besar. Untuk itu, kebijakan neoliberal selalu dibungkus secara apik sebagai bentuk kebohongan publik. Misalnya, globalisasi dan pasar bebas digembar-gemborkan sebagai jalan menuju kemakmuran; privatisasi dianggap sebagai upaya untuk memperluas kepemilikan masyarakat.

Terlepas dari adanya perbedaan neoliberalisme dengan liberalismenya Adam Smith, serta pandangan yang bertolak belakang dengan mazhab Keynesian yang mengedepankan campur tangan pemerintah, neoliberalisme merupakan wujud baru Kapitalisme yang lebih serakah dan jahat.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here