Pentingnya Keteladanan - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Tuesday, July 28, 2020

Pentingnya Keteladanan



M. Arifin (Tabayyun Center)

Dalam kitabnya, Haml ad-Da'wah Wajibat wa Shifat, Mahmud A. Lathif Uwaidhah menegaskan pentingnya keteladanan dan contoh (qudwah wa al-mitsâl) dari para pengemban dakwah. Mereka harus menjadi 'Islam yang berjalan'. Mereka haruslah menjadi pionir yang senantiasa berbicara dengan bahasa Islam, berperilaku dengan perilaku Islam, dan berakhlak dengan akhlak Islam. Meski semua itu sebetulnya harus direpresentasikan oleh kaum Muslim secara umum, pada diri para pengemban dakwah semua itu harusnya lebih dominan dan menonjol; bukan sama, apalagi lebih buruk keadaannya daripada kaum Muslim secara umum. Sebab, jika demikian tentu mereka tak pantas disebut pendakwah. Mereka malah lebih layak untuk didakwahi.

Seorang guru idealnya lebih pintar daripada muridnya. Seorang pimpinan harusnya lebih memiliki keunggulan atas yang dipimpinnya. Seorang komandan sejatinya memiliki kelebihan ilmu dan pengalaman daripada bawahannya. Seorang ulama, ustad, da'i atau mubaligh idealnya tentu lebih beriman dan bertakwa kepada Allah Swt.; lebih berilmu dan lebih banyak amal salihnya; lebih ikhlas dan sabar; lebih banyak bersedekah dan berkorban; lebih amanah, jujur dan menepati janji; lebih banyak membaca al-Quran dan menunaikan ibadah-ibadah sunnah, dll; dibandingkan dengan obyek dakwahnya. Itulah yang selalu tercermin dalam diri Baginda Rasulullah saw., para Sahabat ra., dan generasi shalafush-shalih terdahulu. Perilaku mereka selalu merupakan perwujudan dari seruan dakwah mereka. Tindakan mereka tak pernah mendustakan ucapan mereka; selalu seiring dan sejalan. Sebab, mereka tentu sangat memahami, bahwa berdusta adalah dosa dan merupakan salah satu sifat orang munafik. Mereka sangat malu dan takut dengan sindiran sekaligus ancaman Allah Swt. (yang artinya): Mengapa kalian menyuruh manusia berbuat kebaikan, tetapi kalian melupakan diri kalian sendiri, padahal kalian membaca al-Kitab? Tidakkah kalian berakal? (QS al-Baqarah [2]: 44).

Mengutip Ibn Abbas dan Ibn Juraih, dalam kitab tafsirnya, Imam al-Qurthubi menyatakan, ayat ini terkait dengan perilaku para ulama Yahudi di Madinah. Mereka menyuruh umatnya untuk mengikuti mereka dalam mengamalkan Taurat, tetapi mereka sendiri mengingkarinya, terutama ketika mereka mengingkari sifat-sifat Muhammad saw. yang digambarkan dalam Taurat itu. Mereka selalu mendorong umatnya untuk senantiasa menaati Allah Swt., namun mereka sendiri sering terjatuh ke dalam kemaksiatan kepada-Nya. Mereka pun sering memerintahkan umatnya bersedekah, tetapi mereka sendiri sangat bakhil terhadap harta. Terkait dengan perilaku demikian, Abu Umamah menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, "Sesungguhnya orang-orang yang biasa menyuruh manusia berbuat baik, tetapi mereka melupakan diri mereka sendiri (tidak melakukannya), akan dilemparkan ke dalam Neraka Jahanam. Mereka lalu ditanya, 'Siapa kalian?' Mereka menjawab, 'Kami adalah orang-orang yang saat di dunia banyak menyuruh manusia berbuat baik, tetapi kami sendiri tidak melakukannya.” (Al-Qurthubi, Tafsîr al-Qurthubi, I/365).

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here