Peradaban Islam Dan Sejarah kincir angin - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, July 24, 2020

Peradaban Islam Dan Sejarah kincir angin


Mahfud Abdullah (Dir. Indonesia Change)

Industri merupakan kunci untuk mewujudkan masyarakat sejahtera agar dapat bertahan sekalipun ada fluktuasi hasil pertanian. Industri juga memungkinkan manusia menghasilkan banyak hal yang tidak disediakan langsung oleh alam.

Kalau kita membuka lembaran-lembaran sejarah, industri pada masa Khilafah Islam ternyata memiliki spektrum yang sangat luas. Donald R. Hill dalam bukunya, Islamic Technology: an Illustrated History (Unesco & The Press Syndicate of the University of Cambridge, 1986), membuat sebuah daftar yang lumayan panjang dari industri yang pernah ada dalam sejarah Islam; mulai dari industri mesin, bahan bangunan, pesenjataan, perkapalan, kimia, tekstil, kertas, kulit, pangan hingga pertambangan dan metalurgi.

Alih teknologi dalam Islam berlangsung sejak Abad Pertama hingga Abad Kesepuluh Hijrah. Selama periode tertentu, sebagian besar alih teknologi itu berlangsung dari Islam ke Eropa dan bukan sebaliknya. Dalam banyak hal, penemuan-penemuan Barat hanya dapat dipakai di Eropa Utara saja. Bajak beroda berat, misalnya, hanya cocok untuk jenis tanah liat yang basah di daerah Eropa. Bandingkan, misalnya, dengan penemuan yang lebih universal dari al-Muradi pada abad ke-5 H tentang rangkaian roda gigi penggerak yang rumit dengan gir-gir bersegmen dan episiklus pada beberapa mesin.

Industri kertas yang menggabungkan pengetahuan kimia, material dan mesin bermunculan di Dunia Islam setelah ada kontak dengan Cina. Umat Islam benar-benar tekun mengembangkan industri bertenaga alam yang terbarukan seperti air atau angin. Mereka bahkan mengukur aliran sungai berdasarkan jumlah penggilingan yang dapat ia putar. Sebuah sungai dinyatakan dalam sekian daya giling (mill-power). Penggilingan pasang-surut digunakan di Basrah pada abad ke-11 M. Dalam catatan, penggunaannya yang pertama di Eropa baru seratus tahun kemudian. Penggilingan biasanya didirikan di pinggir sungai dan kadang pada penyangga jembatan dengan memanfaatkan kecepatan aliran air di tempat itu. Setiap provinsi Khilafah sejak dari Spanyol dan Afrika Utara hingga Turkistan di batas Cina mempunyai sejumlah penggilingan. Untuk melayani kota-kota besar bahkan diperlukan penggilingan gandum berskala besar. Di kota Naishabur Khurasan, misalnya, didirikan tujuh puluh penggilingan. Demikian juga di Palermo Sizilia, ketika kota itu di bawah pemerintahan Islam. Di dekat Baghdad, setiap industri penggilingan ini mampu menghasilkan sepuluh ton perhari. Padahal sepanjang sungai Efrat dan Tigris sejak dari Kota Mosul dan ar-Raqqah hingga Baghdad berdiri ratusan penggilingan yang bekerja siang malam. Penggilingan bertenaga air juga dilaporkan al-Biruni dipakai untuk industri kertas, industri gula tebu dan pengolahan batuan yang mengandung emas.

Adapun di daerah yang kekurangan air tetapi memiliki angin yang stabil, kincir angin menyebar menjadi sumber energi untuk industri. Pengembangan teknologi kincir angin dimuat jelas dalam Kitab al-Hiyal karya Banu Musa Bersaudara pada abad-9 M. Tidak aneh jika seorang sejarahwan bernama Joseph Needham menulis, "Sejarah kincir angin benar-benar diawali oleh kebudayaan Islam."

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here