Perang Khondaq: Harapan Itu Sangat Besar (part-1) - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, July 17, 2020

Perang Khondaq: Harapan Itu Sangat Besar (part-1)

Muhammad Amin

Dalam sirah nabawiyah dikisahkan bahwa sebelum Pertempuran Khndaq atau Perang Ahzab meletus (tahun 5 Hijriah di bulan Syawal), Nabi dan para sahabat menyiapkannya dengan sangat baik pada bulan Ramadhan. Sayyid bin Husain al-'Affani dalam buku Nida'u al-Rayyan fi Fiqhi al-Shaum wa Fadhli Ramadhân (1417: 314) menukil pendapat Ibnu Qayyim mengenai persiapan monumental sebelum terjadinya perang dahsyat ini.

Penggalian parit (persiapan pra Ahzab) –yang diinisiasi oleh Salman Al-Farisi- di depan gunung Sala', menurut Ibnu Qayyim, menghabiskan waktu sebulan penuh. Sedangkan menurut Dr. Ragib As-Sirjani malah hanya dua minggu. Panjang parit mencapai lima ribu hasta. Sedangkan kedalamannya mencapai tujuh hasta dan lebarnya sekitar tujuh hasta juga. Dengan pertolongan Allah, perjuangan gigih dan mental yang tak pernah putus asa mereka sanggup melampau tantangan ini dan ini terjadi di bulan Ramadhan.

Dr. Syauqi Abu Khalil dalam buku Athlas al-Tarikh al-‘Arabi al-Islami (2005: 33) memberikan gambaran secara rinci mengenai kondisi parit. Menurut hitungan beliau, panjanga parit: 5544 Meter. Lebar standarnya: 4, 62 Meter. Sedangkan kedalamannya: 3,234 Meter.

Di samping itu, medan parit yang digali tidak semuanya mudah. Ada juga yang berisi batu-batu yang sulit untuk digali. Umat Islam berjumlah 3000 banding 10.000 orang. Dalam kondisi tidak berpuasa saja, tiga ribu orang mengerjakan proyek besar ini begitu berat, apalagi jika pada momentum puasa.

Pada akhirnya, Perang Khandaq yang meletus pada 5 Hijriah di bulan Syawal antara tiga ribu pasukan muslim melawan sepuluh ribu pasukan koalisi Yahudi-Kafir Qurays dimenangkan oleh umat Islam.

Pada saat pasukan besar itu menyaksikan parit yang mengelilingi Kota Madinah, mereka berfikir keras bagaimana mungkin akan menembusnya. Jumlah mereka sekitar 10.000 orang, yang merupakan gabungan 4.000 tentara Quraisy, 4.000 tentara Ghattafan, sisa-sisa Yahudi Bani Qoinuqo, dan Bani Nadir. Pada saat itu jumlah pasukan muslim Madinah hanya kisaran 1.000 orang, di mana Rasulullah Muhammad SAW berada di dalamnya. Jumlah itupun terus menurun lantaran munafikin memprovokasi melakukan desersi.

Sedari awal mental pasukan Madinah ini sudah tinggi. Pada saat penggalian parit yang merupakan usulan dari Salman Radliyallhu 'anhu ini sudah terlihat semangat dan optimisme mereka. Hal ini ditambah dengan berita langit yang disampaikan Rasulullah kepada mereka bahwa Persia dan Romawi akan takluk kepada mereka. Termasuk kejadian mengagumkan yang terjadi pada keluarga Jabir radliyallahu ‘anhu, salah seorang sahabat nabi.

Jabir Radhiyallahu anhu bercerita, “Ketika kami menggali parit pada peristiwa khandaq, sebongkah batu yang sangat keras menghalangi kami, lalu para sahabat menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya mengatakan, “Batu yang sangat keras ini menghalangi kami menggali parit.” Lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku sendiri yang akan turun.” Kemudian beliau berdiri (dalam parit), sementara perut beliau diganjal dengan batu (karena lapar). Tiga hari (terakhir) kami (para shahabat) belum merasakan makanan, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil kampak dan memukul batu tersebut hingga pecah berkeping-keping. Lalu aku berkata, “Wahai Rasûlullâh, izinkanlah aku pulang ke rumah.” Sesampaiku di rumah, aku bercerita kepada isteriku, “Aku tidak tega melihat kondisi Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , apakah kamu memiliki sesuatu (makanan) ?” Isteriku menjawab, “Aku memiliki gandum dan anak kambing.” Kemudian ia meyembelih anak kambing tersebut dan membuat adonan gandum hingga menjadi makanan dalam tungku. Ketika adonan makanan tersebut hampir matang dalam bejana yang masih di atas tungku, aku menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan aku berkata, “Wahai Rasûlullâh, aku memiliki sedikit makanan. Datanglah ke rumahku dan ajaklah satu atau dua orang saja.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Untuk berapa orang ?” Lalu aku beritahukan kepada beliau. Beliau bersabda, “lebih banyak yang datang lebih baik.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lagi, “Katakan kepada isterimu, jangan ia angkat bejananya dan adonan roti dari tungku api sampai aku datang.” Setelah itu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bangunlah kalian semua.” Kaum Muhâjirin dan Anshâr yang mendengar perintah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu langsung berdiri dan berangkat. Jabir Radhiyallahu anhu menemui isterinya (dengan cemas), dia mengatakan, “Celaka, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang bersama kaum Muhâjirîn dan Anshâr serta orang-orang yang bersama mereka.” Isteri Jabir bertanya, “Apa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bertanya (tentang jumlah makanan kita) ?” Jâbir menjawab, “Ya. ” Lalu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Masuklah dan jangan berdesak-desakan.” Kemudian Rasûlullâh mencuil-cuil roti dan ia tambahkan dengan daging, dan ia tutup bejana dan tungku api. Selanjutnya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambilnya dan mendekatkannya kepada para sahabatnya. Lantas beliau mengambil kembali bejana itu dan terus-menerus beliau lakukan itu hingga semua sahabat merasa kenyang dan makanan masih tersisa. Setelah itu beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (kepada istri Jabir Radhiyallahu anhu), "Sekarang kamu makanlah! Dan hadiahkanlah kepada orang lain, karena masih banyak orang yang kelaparan.”

Allahumma shalli 'alaa sayyidinaa Muhammad.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here