Perang Khondaq: Harapan Itu Sangat Besar (part-2) - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, July 17, 2020

Perang Khondaq: Harapan Itu Sangat Besar (part-2)

Muhammad Amin

Saat itu pasukan gabungan yang dipimpin Abu Sufyan itu tak melihat cela sedikitpun. Parit yang digali selebar 5 meter dan sedalam 7 meter ini benar-benar membingungkan mereka. Kuda-kuda yang dipaksa oleh pasukan tak mampu melompatinya. Di seberang parit tentara tauhid menghujani dengan panah setiap kali mereka mencoba mendekati parit.

Pimpinan Yahudi, Huyai berpikir keras hingga akhirnya mendapat gagasan yang dianggap penting. Di ujung parit yang memanjang itu ada benteng dan pemukiman Yahudi Quraidoh. Komunitas Yahudi ini masih terikat perjanjian damai dengan Rasulullah. Huyai mendekat dan berteriak dari bawa benteng, agar pintu benteng dibuka buat pasukan. Pada awalnya Kaab pemimpin yahudi Quraidoh enggan melayaninya. Akan tetapi Huyai terus-menerus merayunya, hingga akhirnya Kaab-pun tergoda. Dia khianati perjanjian dengan Rasulullah. Pintu benteng dibukanya hingga beberapa pasukan dapat memasukinya.

Situasi benar-benar mencekam. Tetapi apakah ummat tauhid ini gentar? Kita lihat saja. Yahudi pengkhianat ini tahu bahwa para wanita, anak-anak, dan orang tua dikumpulkan dalam satu benteng di dalam kota Madinah. Beberapa prajurit pilihan yahudi yang diperkuat dengan 500 pasukan mendekati benteng itu. Salah satu dari mereka mulai memanjat dinding benteng. Kejadian ini diketahui oleh Sofiyah putri Abdul Mutholib. Beliau radliyallu ‘anha adalah bibi Rasulullah. Maka dengan penuh keberanian dia segera kenakan baju perang. Pedang digenggamnya di tangan kanan dan tongkat besi di tangan kiri. Begitu Yahudi tiba di dalam jangkauan tangannya maka serta-merta dipukulnya dengan tongkat. Yahudi sama sekali tak mengira. Maka di saat berikutnya wanita mulia nan pemberani ini memukulkan pedang sekeras mungkin hingga terpisahlah kepala Yahudi dari badannya. Lantas kepala itu dipungut dan ditunjuk-tunjukkan kepada Yahudi yang berada di bawah sambil diterangi obor yang menyala-nyala. Kejadian ini merontokkan nyali pasukan Yahudi. Mereka menyangka bahwa benteng itu sangat kuat. Maka tanpa banyak berpikir panjang mereka berhamburan, pulang ke benteng mereka dengan satu kesimpulan penting bahwa benteng ummat islam dijaga dengan sangat kuat dan tak mungkin dikalahkan. Allahu akbar.

Di seberang parit yang penuh berkah ini, dalam kebingunannya lantaran belum dapat melewatinya, mereka tetap berusaha. Akhirnya 5 orang pendekar Quraisy berhasil melompati parit. Diantara mereka ada seorang pendekar kawakan yang sangat kokoh. Pukulan pedangnya terkenal mematikan. Amr putra  Abd Wud namanya. Usianya sudah lebih 80 tahun. Pengalaman tempurnya sudah sangat matang. Dia menantang-nantang perang tanding. Sayyidina Ali meminta izin kepada Rasulullah untuk melayani tantangannya. Namun Rasulullah mencegahnya. Semakin hebat tantangan dan intimidasi Amr. Kembali Sayyidina Ali yang saat itu masih 25 tahun meminta izin. Disitulah Rasulullah mengizinkannya. Sayyidina Ali hanya membawa pedang dan perisai besi yang sangat kokoh. Setelah adu mulut merekapun berduel. Melihat Ali tidak menaiki kuda, maka Amr segera membunuh kudanya sendiri. Rupanya dia segan melawan seorang penuda yang usianya pantas menjadi anaknya ini dengan naik kuda. Para sahabat belum pernah menyaksikan duel sedahsyat ini. Dengan pukulan dahsyatnya Amr berhasil membelah perisai sayyidina Ali. Tapi dengan itu justru Allah SWT memberi kemenangan kepada Sayyidina Ali. Pedang lawan tertancap di perisainya yang terbelah sehingga tak dapat ditarik. Sayyidina Ali berhasil membelah tubuh lawannya. Debu masih beterbangan hingga menutupi keduanya. Tiba-tiba para sahabat mendengar takbir Ali karramallahu wajhah. Tahulah mereka bahwa kemenangan berada di pihak tauhid. Amr putra abdu wud mati dengan tubuh terbelah.

Kontan keempat pendekar Quraisy lainnya rontok nyalinya dan mereka segera berusaha melompati parit dan kembali ke pasukannya. Allahu akbar.
Mengapa awalnya Rasulullah tak mengizinkan Sayyidina Ali? Ada sebuah rahasia besar disini. Semakin nyata intimidasi dan kedurhakaan musuh kepada Islam dan ummatnya, maka semakin dekat pertolongan Allah yang Agung untuk menunaikan janjiNya berupa kemenangan. Kita tahu akhir pertempuran ini. Allah SWT mengirim hujan angin dan udara yang dingin hingga memporak-porandakan kemah-kemah pasukan musuh. Allahu akbar

Refleksi

Tak diragukan lagi bahwa khilafah adalah ajaran islam. Allah SWT memfirmankannya di dalam Alquran surat Al Baqarah 30 dan beberapa ayat lainnya. Rasulullah menyuruh ummatnya berpegangan kepada sunnahnya dan sunnah khulafaur rasyidin. Siapa khulafaur rasyidin? Mereka adalah para khalifah. Khalifah menjalankan ajaran islam untuk mengatur negara khilafah. Dalam sejarah panjangnya (1300 tahun) Khalifah sukses memakmurkan dunia. Tiga agama samawi hidup berdampingan secara damai. Kesejahteraan dan kemakmuran bisa dirasakan oleh semua. Khilafah adalah ajaran Allah SWT dan Rasulullah yang akan mewujudkan rahmatan lil alamin.

Hari ini para penghujat khilafah mensejajarkannya dengan liberalisme, kapitalisme, komunisme dan ateisme. Mereka akan melegalkan pelarangannya dalam undang-undang dan mungkin Tap MPR sebagaimana pelarangan ajaran komunisme.
Apakah sejarah perang Khondaq akan berulang?

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here