Trump Tidak Memiliki Niat Menyelesaikan Masalah Korea Utara - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Wednesday, July 8, 2020

Trump Tidak Memiliki Niat Menyelesaikan Masalah Korea Utara


Agung Wisnuwardana [Strategic And Military Power Watch]

Sebagaimana dikutip dari laman republika.co.id (8/7/2020), dikabarkan bahwa Wakil Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Stephen Biegun mengatakan Washington siap melanjutkan perundingan dengan Korea Utara (Korut). Walaupun, Pyongyang sudah berulang kali mengklaim tidak ada niatan untuk melanjutkan dialog dengan AS.

Beigun adalah perwakilan khusus AS untuk perundingan denuklirisasi Semenanjung Korea. Kesiapan AS kembali ke meja perundingan disampaikan setelah Beigun bertemu dengan pemerintah Korea Selatan (Korsel) di Seoul.

Dalam pertemuan tersebut itu kedua negara menegaskan kembali komitmen mereka untuk menggunakan pendekatan diplomatik dalam mencairkan kebekuan perundingan dengan Korut. Tapi kedua belah pihak tidak mengungkapkan detail pembicaraan mereka.

Melihat kengototan Amerika Serikat (AS) dalam proses denuklirisasi Korut menunjukkan kualitas Trump daripada pendahulunya dalam bentuk pengalaman amatirnya dalam politik; Trump tidak cukup setia mengikuti pedoman politik luar neferi Amerika, paling tidak versi unilateralisnya, baik dalam masalah Iran, atau tarif, atau Cina, atau Korea Utara.

Tindakan Amerika itu sesuai dengan tujuan grand strateginya. Amerika adalah salah satu yang menciptakan masalah Korea dengan melakukan invasi ke semenanjung Korea setelah Perang Dunia II. Dan Amerika adalah salah satu yang telah memperpanjang masalah Korea selama lebih dari enam dekade.

Mempertahankan keadaan perang dengan Korea Utara telah memberikan Amerika pembenaran bagi kehadiran militernya yang signifikan di Korea Selatan selama periode waktu itu. Ini juga membantu membenarkan pangkalan militer Amerika yang penting di Jepang. Militerisasi Amerika di Pasifik Barat memiliki dua tujuan: pertama, untuk mengamankan Samudera Pasifik, yang Amerika anggap sebagai perairan pribadinya; dan kedua, untuk mendekati batas-batas Cina dan Rusia agar dapat melawan ekspansi keduanya ke arah timur. Dengan demikian, Trump tidak memiliki niat menyelesaikan masalah Korea; paling-paling dia akan mencari pembongkaran rudal balistik antar benua (ICBM) Korea yang dapat menargetkan Amerika, sebagai imbalan atas pelonggaran sanksi ekonomi yang juga dapat menguntungkan Amerika dengan dirancang untuk mengurangi ketergantungan ekonomi Korea Utara terhadap China.

Mentalitas politik Amerika sepenuhnya dibentuk oleh ideologi Kapitalismenya, yang berkembang dari kompromi sekuler jahat Barat Kristen dengan nilai-nilai dan idealisme ateisme materialistis. Ini diterjemahkan pada tingkat nasional kepada kebijakan luar negeri imperialistik yang mencari eksploitasi, dan hegemoni atas, seluruh planet. Dalam hampir dua abad, ideologi setan Barat ini telah membawa dunia ke jurang kehancuran dari berbagai ancaman eksistensial: nuklir, biologis, kimia, ekologi, ekonomi, keuangan, dan seterusnya. Tapi mungkin, kejahatan terbesar dari semuanya itu adalah bahwa Barat telah menulis ulang sejarah untuk menghapus milenium perdamaian dan keadilan yang berlaku di zaman Islam, di mana Negara Khilafah (Khilafah) adalah super power global, menyebarkan ilmu pengetahuan, kemakmuran, dan nilai peradaban yang tinggi untuk semua orang di dunia.

Pada zaman Islamlah yang menyediakan kondisi bagi peradaban Barat untuk maju dan peradaban Cina menjadi makmur. Tetapi Barat meninggalkan Kekristenannya, bernafsu mengejar rampasan dunia ini, pada akhirnya bahkan memprovokasi Cina dari keberadaannya yang damai, dan dengan licik menempatkannya di jalur militeristik hanya agar Amerika dapat mengambil manfaat dari penyeimbangan Cina terhadap Uni Soviet. Sekarang penyeimbang Cina yang sama telah menjadi perhatian global terkemuka Amerika. Dunia tidak akan pernah damai selama dunia didominasi oleh kapitalis Barat sekuler yang materialistis.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here