Ada Pengaruh Khilafah Di Wilayah Nusantara - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, August 21, 2020

Ada Pengaruh Khilafah Di Wilayah Nusantara


Ainun D.N. (Muslimah Care)

Dalam buku sejarah seperti Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, yang ditulis oleh Azyumardi Azra; Sejarah Wali Songo: Misi Pengislaman di Tanah Jawa karangan Budiono Hadi Sutrisno; atau Menemukan Sejarah: Wacana Pergerakan Islam di Indonesia yang ditulis oleh Ahmad Mansur Suryanegara, diketahui bahwa Walisongo adalah para ulama yang diutus oleh Sultan Mahmud 1 dari Khilafah Utsmaniyah untuk menyebarkan Islam di Nusantara.

Para wali ini datang dimulai dari Maulana Malik Ibrahim, asli Turki, ahli politik dan irigasi. Dialah peletak dasar pendirian kesultanan di Jawa sekaligus mengembangkan pertanian di Nusantara. Ia wafat di Gresik sehingga dikenal dengan sebutan Sunan Gresik. Seangkatan dengannya, ada dua wali dari Palestina yang berdakwah di Banten, yaitu Maulana Hasanudin, kakek Sultan Ageng Tirtayasa, dan Sultan Aliyuddin. Jadi, masyarakat Banten sesungguhnya punya hubungan biologi dan ideologi dengan Palestina.

Sri Sultan Hamengku Buwono X saat memberikan sambutan dalam Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VI di Yogyakarta, Senin (9/2/2015) mengungkapkan hubungan Khilafah Utsmaniyah dengan tanah Jawa. "Sultan Turki Utsmani meresmikan Kesultanan Demak pada tahun 1479 sebagai perwakilan resmi Khalifah Utsmani di tanah Jawa," ujarnya.

Peresmian tersebut, lanjut Sri Sultan, ditandai dengan penyerahan bendera hijau bertuliskan kalimat tauhid. "Bendera hadiah Sultan Utsmani masih tersimpan baik di Keraton Yogya," ujarnya.

Menurutnya, Sultan Turki pula yang mengukuhkan Raden Fatah sebagai khalifatullah di Jawa. "Perwakilan Khilafah Turki di Tanah Jawa, ditandai dengan penyerahan bendera hitam dari kiswah Ka'bah bertuliskan kalimat tauhid, dan bendera hijau bertuliskan Muhammad Rasulullah," tegasnya.

Sebelum itu, hubungan Nusantara dan Khilafah telah terjalin sangat erat di Aceh. Koran Sumatera Post menulis, di kalangan orang/pejabat Belanda mengakui bahwa banyak sultan-sultan di Indonesia memberikan baiatnya (sumpah kesetiaan dan kepatuhan) kepada khalifah di Istanbul. Dengan itu secara efektif kaum Muslim di wilayah Sultan itu menjadi warga negara Khilafah [Negara Islam].

Kaum Muslim di Aceh adalah yang paling menyadari akan status mereka. Koran Sumatera Post menulis tentang ini pada tahun 1922: "Sesungguhnya kaum Muslim Aceh mengakui Khalifah di Istanbul." Bukan hanya itu, mereka juga mengakui fakta bahwa tanah mereka adalah bagian dari Negara Islam. Ini adalah salah satu alasan atas perlawanan sengit mereka melawan Belanda.

Ada kontak teratur antara kaum Muslim Aceh dan Khalifah di Istanbul. Sebagai contoh, kaum Muslim Aceh mengirim delegasi kepada Khalifah untuk memberitahu situasi mereka dan meminta bantuan dan dukungan Khalifah. Pada tahun 1915, Sumatera Post kembali menyebutkan satu delegasi tersebut, yang dikirim ke Istanbul pada tahun 1868.

Jauh sebelumnya, Aceh telah menjadi bagian dari Kekhilafahan Turki Utsmani. Sepucuk surat dari Sultan Turki dimuat di akun Lost Islamic History @LostIslamicHist. "A letter from the Ottoman sultan in #Istanbul to the sultan of #Aceh, in #Indonesia (1500s)."

Surat itu sebagai balasan atas surat dari kerajaan Aceh pada 1563 kepada Khalifah Abdul Aziz dari Kekhalifahan Turki Utsmani. Sultan Aceh Alauddin Mahmud Syah meminta bantuan kekhilafahan untuk menghadapi imperialisme Eropa. Ia menyatakan, Turki merupakan penguasa tunggal dan tertinggi bagi bangsa-bangsa yang beragama Islam.

Surat itu langsung dibalas oleh Khalifah Abdul Aziz disertai alat-alat perlengkapan perang, termasuk meriam yang kemudian dinamakan dengan meriam 'Lada Sicupak'. Selain itu, Sultan Turki juga mengirimkan bantuan berupa dua kapal perang dan 500 orang tenaga berkebangsaan Turki untuk mengelola kapal-kapal tersebut.

Selain tahun 1563 Masehi, hubungan antara Turki dengan Aceh kembali dilakukan dan diperkuat tiga abad setelahnya yaitu tahun 1850. Kerajaan Aceh yang diperintah oleh Sultan Ibrahim Mansyur Syah mengirim Sidi Muhammad sebagai utusannya ke Turki. Melalui sepucuk surat, Sultan meminta agar Turki bersedia melindungi Aceh dari rongrongan Inggris dan Belanda.

 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here