AS Memainkan Kartu As-nya di Asia - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Saturday, August 29, 2020

AS Memainkan Kartu As-nya di Asia


Agung Wisnuwardana [Strategic And Military Power Watch]

Ambisi pemerintah Amerika Serikat untuk mengamankan kepentingannya di kawasan Asia makin terkuak. Dalam sebuah unggahan di akun Facebook pribadinya, Carter pernah menyebut Asia sebagai wilayah paling konsekuensial untuk masa depan Amerika. Ia mengatakan, kehadiran militer AS di wilayah itu memiliki kepentingan fundamental yang strategis untuk negaranya.

Mantan Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS), Ash Carter, mengatakan AS akan memperluas mobilisasi militernya di Asia. Hal itu dilakukan dalam menghadapi ekspansi teritorial yang dilakukan Cina dan ancaman regional lainnya. "Perluasan militer ke kawasan Asia Pasifik menegaskan bahwa AS tetap menjadi negara dengan militer terkuat dan mitra pilihan dalam menjaga keamanan," ujar Carter, dalam pidatonya di hadapan anggota Angkatan Laut AS, di atas kapal induk USS Carl Vinson, San Diego, Kamis (29/9/2016).

Amerika paham bahwa China bukan negara besar secara global dan China tidak berusaha mendongkel Amerika dari posisinya sebagai negara adidaya di dunia.  Meski demikian, akan tetapi China merupakan negara besar secara regional, yaitu di kawasan Asia/Pasifik yang dianggap oleh China sebagai kawasannya dan menjadi kawasan yang penting bagi China secara ekonomi dan strategis. China berusaha menjadi pemilik kedaulatan di laut China Timur.

Amerika memiliki eksistensi secara militer dan tetap di pangkalan militer di Jepang dan Korea Selatan yang berada di pantai laut China Timur.  Demikian pula Amerika juga memiliki hal serupa di Philipina yang berada di pantai laut China Selatan. Amerika di kawasan tersebut memiliki sekitar setengah juta tentara. Amerika memiliki eksistensi militer tetap di kawasan ini sejak tahun 50-an abad lalu.

Jika China mengontrol kawasan ini atau menancapkan pengaruhnya atau menjadikan kawasan ini berada di bawah kontrolnya maka China bisa mempengaruhi kawasan samudera Hindia dan mengancam pengaruh Amerika di kawasan tersebut secara serius. Ini merupakan masalah vital bagi Amerika. Amerika tidak akan mentolerir hal itu terjadi selamanya berapapun biaya yang harus dibayarkan.

AS memastikan politik luar negerinya pada capaian hegemoni total di kawasan Asia, serta membonsai pengaruh RRC di Asia Tenggara khususnya dalam persoalan Laut Cina Selatan. Wilayah ini amat strategis bagi AS maupun RRC, baik sebagai jalur perdagangan maupun sumberdaya alamnya yang berlimpah. Oleh karena itu AS terus menjalin hubungan dengan sekutu-sekutunya, termasuk Indonesia, untuk mengeliminir pengaruh Cina.

Walaupun melalui berbagai pihaknya AS menyatakan bahwa penggelaran kekuatan militernya di perairan Asia-Pasifik ini untuk pengamanan jalur perairan, menyusul memanasnya kawasan ini, bagaimanapun hal ini telah memancing kecurigaan berbagai pihak terkait posisi Indonesia di kawasan ini.

AS melalui dua negara 'mitranya' (Singapura dan Australia) hendak membangun interkonektivitas sistem militer untuk mengimbangi kekuatan Cina di Asia Fasifik. Sekaligus AS ingin memperoleh keuntungan ganda dengan memanfaatkan Singapura dan Australia untuk mengontrol hegemoni kekuatan Indonesia di kawasan ASEAN.

Strategi Amerika mengontrol ASEAN dalam menentukan arah kebijakan dan prioritas pertahanan nampaknya dilakukan secara bertahap. Dan tujuan terakhirnya adalah memiliki kendali penuh terhadap tentara-tentara Negara ASEAN, terutama Malaysia, Filipina dan Thailand. Dan sasaran utama Amerika dalam pengendalian tentara ASEAN adalah dengan mengontrol dan mempengaruhi  Angkatan Laut.

Apalagi ketika lokasi geografis yang dimaksud adalah Selat Malaka. Selat Malaka selama ini tidak saja dikenal sebagai Sea Lines of Trade (SLOT) dan Sea Lines of Communication (SLOC), juga dipandang sebagai jalur strategis proyeksi Armada Laut negara-negara maritime besar dalam rangka forward presence dan global engagement ke seluruh dunia. Kepadatan lalu-lintas alur pelayaran ini ditandai tingginya intensitas perdagangan global Selat Malaka, dan apabila terjadi interdiksi atas perairan ini, maka dampak negatif luar biasa yang akan dirasakan secara global adalah instabilitas perekonomian dunia.

Jalur transportasi laut dinilai lebih penting dari jalur darat sebab bisa mengangkut jumlah yang jauh lebih besar dengan menggunakan kapal dan biayanya lebih kecil. Juga lebih mudah kapal berlayar jauh dari pos-pos perbatasan negara-negara, kecuali jika melalui selat atau alur laut yang berada di bawah kontrol negara yang mengelolanya. Hingga sekarang 90% komoditi diangkut melalui laut menggunakan kapal meski ada perkembangan besar di transportasi darat dan pembuatan kendaraan-kendaraan besar.  Demikian juga perkembangan transportasi udara. Akan tetapi biayaya besar dan tidak mungkin mengangkut jumlah seperti yang bisa diangkut oleh kapal laut.  Juga bahwa 65% minyak diangkut melalui laut menggunakan kapal tanker meski jalur-jalur pipa telah berkembang.

Oleh karena itu, kawasan Pasifik sangat penting sebab membentang ke samudera Hindia yang menjadi jalur transportasi 70% pasokan minyak dan gas dari kawasan teluk ke negeri-negeri itu.  Kebutuhan kawasan ini khususnya China dan India terhadap minyak akan terus meningkat menjadi dua kali lipat pada dekade mendatang.  Di sana ada alur selat Malaka yang dinilai sebagai alur penting yang menghubungkan samudera Hindia dan Pasifik, sepanjang 800 km terletak diantara semenanjung Malaysia dan pulau Sumatera Indonesia.  Sekitar 40% komoditi perdagangan gobal dan setengah perdagangan minyak dan gas global melintasi selat Malaka.  Selat Malaka sangat penting bagi China dan India untuk transportasi komoditinya ke timur dan barat.

Jalur laut bagi AS sangat urgen untuk segera dijauhkan dari eksistensi Cina. Bisa dimengerti memang mengingat selama ini seluruh kegiatan eskpor dan impor internasional mengandalkan laut sebagai jalan raya/jalur perdagangan, sumber makanan, dan sumber mineral. Maka dari itu, bagi Amerika maupun dan Cina, Selat Malaka sebagai SLOT dan SLOC dewasa ini sudah dianggap sebagai ajang kepentingan setiap negara di dunia yang harus dikuasai mereka.

Betapa tidak. Selat yang melewati tiga negara itu (Indonesia-Malaysia-Singapura), sudah menjadi rahasia umum bahwa tanker-tanker Cina selalu melintasi Selat Malaka dalam perjalanan mereka membawa minyak dari Timur Tengah. Karena itu dalam perspektif kepentingan Cina, selat ini harus aman dari segala gangguan yang bisa menghalanginya untuk mensuplai energi dari Cina.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here