Buah Simalakama APBN Konvensional - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Tuesday, August 4, 2020

Buah Simalakama APBN Konvensional



Aminudin Syuhadak (Direktur LANSKAP)

APBN dari suatu negara yang menganut paham ekonomi kapitalisme (konvensional) akan memiliki konsep penyusunan yang khas, yaitu dengan menggunakan kaidah-kaidah tertentu yang telah digariskan. Konsep itu dapat diketahui dengan melihat dua unsur utama penyusunnya, yaitu dari mana sumber utama penerimaannya dan untuk apa pengeluarannya (belanjanya). Selain itu, pemerintah dalam menyusun APBN-nya juga harus mendapat persetujuan dari DPR, untuk selanjutnya akan ditetapkan sebagai anggaran belanja selama satu tahun, yang biasa dikenal sebagai tahun fiskal.

Menurut paham ekonomi kapitalisme, sumber utama pendapatan negara yang utama hanyalah berasal dari pajak yang dipungut dari rakyatnya. Pengeluaran (belanja) utamanya hanyalah untuk membiayai kebutuhannya sendiri seperti: administrasi negara, operasi departemen pemerintah, pertahanan keamanan dsb. Di samping itu, belanjanya juga akan digunakan untuk membiayai berbagai kepentingan pembangunan fasilitas umum seperti: membangun jalan, jembatan, waduk, sekolah, rumah sakit, dsb.

Dalam menyusun APBN-nya, pemerintah harus selalu merujuk pada prinsip anggaran berimbang. Artinya, belanja yang harus dikeluarkan oleh pemerintah harus seimbang (sebesar) dengan penerimaan dari pajak yang berasal dari rakyatnya. Jika pemerintah harus mengeluarkan belanja yang besarnya melebihi sumber penerimaannya, maka inilah yang akan disebut sebagai anggaran defisit atau biasa dikenal dengan sebutan defisit fiskal. Jika anggaran pemerintah mengalami defisit, maka biasanya akan ditutup dengan salah satu dari empat cara:

1. Penjualan obligasi (surat utang negara).

2. Pinjaman dari bank sentral dengan cara mencetak uang baru.

3. Pinjaman di pasar uang atau modal di dalam negeri atau luar negeri.

4. Pinjaman atau bantuan resmi dari pemerintah negara-negara donor.

Dari penjelasan singkat di atas kita dapat memahami, jika pemerintah harus menetapkan anggaran defisit, maka dari keempat sumber dana untuk menutupi kekurangan anggarannya, sesungguhnya hanya bermuara pada satu kata, yaitu: hutang!

Jika APBN memiliki beban hutang, siapa yang berkewajiban untuk membayar angsuran hutang pokoknya ditambah dengan bunganya (ribanya)? Jawabnya tidak lain: rakyat! Melalui apa? Melalui beban pajak yang akan senantiasa dinaikkan besarannya; atau dengan memperbanyak jenis-jenis pajaknya.

Inilah buah simalakama dari sistem APBN konvensional. Jika negara menetapkan anggaran defisit untuk menyelamatkan ekonomi rakyatnya, dalam jangka panjang justru akan membebani rakyatnya. Namun, jika pemerintah tidak mau memberi bantuan kepada rakyatnya, tentu ekonomi rakyat akan semakin terpuruk. Mana kebijakan yang harus dipilih? Inilah lingkaran setan dari ekonomi kapitalisme, yang tidak pernah akan berujung pangkal.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here