China Siaga Tempur, AS Memainkan Kembali Program Star Wars, Lalu Indonesia? - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Saturday, August 15, 2020

China Siaga Tempur, AS Memainkan Kembali Program Star Wars, Lalu Indonesia?


Agung Wisnuwardana [Strategic And Military Power Watch] 

China berada dalam situasi yang sangat waspada untuk pertempuran. Mengutip laporan Sputnik News, pada Senin 3 Agustus 2020, Pasukan Roket Tentara Pembebasan Rakyat China mengonfirmasi peluncuran dua rudal balistiknya, sebagai respons uji coba rudal balistik antarbenua Minuteman III Amerika Serikat.

China melakukan dua kali uji coba rudal balistik. Yang pertama, PLARF melepas rudal balistik jarak pendek Dongfeng DF-16. Berikutnya, rudal balistik jarak menengah Dongfeng DF-26 diluncurkan untuk menghancurkan sasaran ribuan mil jauhnya. Rudal balistik Dongfeng DF-26 memiliki hulu ledak dengan kekuatan 1.200 hingga 1.800 kilogram termonuklir. Tak hanya itu, DF-26 memang dirancang untuk menjangkau jarak menengah 2.500 mil, atau setara dengan 4.000 kilometer. Rudal balistik DF-26 diyakini mampu membuat Pangkalan Militer Andersen di Guam luluh lantak.

Saat ini Amerika memainkan tensi kembalinya program Star Wars untuk merespon berlanjutnya pengembangan senjata nuklir oleh Russia dan China. Dalam kerangka ini telah dilakukan amandemen UU AS pada 2017 yang mengijinkan militerisasi ruang angkasa. "Harus diisyaratkan bahwa Kongres AS memasukkan dua amandemen penting terhadap Rancangan Undang-undang dalam tahap ratifikasi. Salah satu amandemen itu mengeliminasi ketentuan penyebaran terbatas perisai rudal oleh Washington. Sementara amandemen kedua memutuskan dimulainya aktifitas perencanaan pada desain komponen baru dalam sistem perisai rudal ini sebagai pendahuluan untuk penyebarannya di masa depan di ruang angkasa. Surat kabar Los Angeles Times mengutip dari Trent Franks, Anggota DPR dari partai Republik dan pengusul amandemen yang paling senior, dia mengakui bahwa mereka bergantung pada program "inisiatif pertahanan strategis", yang diresmikan oleh Presiden Ronald Reagan pada tahun 1983, yang juga dikenal sebagai "Perang bintang"... (adn.news, website Dar news, 24/12/2016). Maksudnya adalah peningkatan tensi atmosfer dengan Russia.

Menyikapi perkembangan China, Amerika melakukan politik akan mengisolasi China, dengan tujuan: Pertama, menjauhkan tampilnya China sebagai kekuatan regional. Kedua, menghalangi China mengubah aspek apapun dari sistem internasional yang tegak di atas barat. Untuk meraih tujuan-tujuan ini, Amerika Serikat bersandar kepada sejumlah rencana: Di antaranya, "mengungkit pelanggaran HAM oleh Chna di Tibet, Turkistan Timur dan Hongkong. Amerika juga menyibukkan China dengan krisis nuklir Korea Utara dan pertikaian regional di laut China Selatan. AS juga Menggunakan India, Jepang dan Australia untuk membatasi ambisi dan pertumbuhan militeristik China di kawasan Asia dan Pasifik.

Amerika mengerahkan energinya secara maksimal menghalangi China bisa sampai pada teknik-teknik termodern, menarik diri dari inisiatif "Belt Road China" . Institusi politik Amerika telah berpegang dengan politik pengekangan meski ada perubahan-perubahan sedikit pada sebagian langkah untuk mengekang ambisi kekuatan China. 

Meski demikian, setelah krisis finansial global pada tahun 2008, dan perang dahsyat Amerika di Afganistan dan Irak, Amerika Serikat paham bahwa politik pengekangan China tidak cukup dan AS pun memutuskan memperkuatnya. Tujuan dari strategi AS dalam apa yang disebut Strategi Asia adalah memindahkan peralatan militer dan pasukan dari Eropa ke Asia dan Pasifik, dan menghadapi kemungkinan-kemungkinan militer China. Kemudian, Trump mulai menyasar perekonomian China secara langsung. Pemerintahan Trump menggambarkan bahwa China "manipulator mata uang" dan pemerintahan Trump memulai perang datang dengan Peking. Ini melampaui upaya-upaya mengekang China di dalam sistem yang eksis berdasarkan kaedah-kaedah internasional.

Cina bertambah kuat dalam menghadapi Amerika. Atas dasar itu, Obama pernah menyatakan, "Amerika menghadapi ambisi-ambisi Cina bukan hanya secara regional." Selanjutnya ada pertanyaan: Lalu di mana posisi Indonesia di dalam permasalahan ini? Apakah Indonesia bersama Amerika atau Cina? Ataukah Indonesia mengambil sikap netral, terutama setelah Amerika Serikat mengikat perjanjian dengan Pemerintah Indonesia dalam apa yang disebut dengan "Kemitraan Komprehensif"?

Yang pasti berada di sisi Cina ataupun Amerika tidak akan memberikan manfaat bagi Indonesia, baik sekarang ataupun pada masa depan. Indonesia yang merupakan negeri kaum Muslim terbesar di dunia harus menjadi kekuatan yang mandiri, memiliki kehendak yang independen, dan Indonesia memiliki potensi untuk itu.

 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here