Ibarat Tanaman Yang Baik Dan Rusak... - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Tuesday, August 18, 2020

Ibarat Tanaman Yang Baik Dan Rusak...


Dede Wahyudin (Tabayyun Center)

Dalam firman-Nya: "Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas." (TQS. An-Nur [24]: 37-38).

Dengan demikian, jika tanaman yang bersih dan baik ini, benihnya telah ditanam dalam hati seorang yang mukmin dan telah berakar, maka ia akan berbuah dan memberikan banyak kebaikan. Berbeda dengan hati yang sakit, yang tidak layak untuk benih yang bersih ini, sebab tanahnya tandus, sehingga tidak layak kecuali yang keji dan kotor. Oleh karena itu, hati ada dua jenis: Pertama, hati yang baik dan bagus, yang takut kepada Allah baik ketika sendirian maupun ketika besama banyak orang; takut akan rusaknya hubungan antara dirinya dengan Allah SWT, sehingga ia berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan ridha-Nya, sekalipun hal itu harus dibeli dengan murka orang lain.

Kedua, hati yang sakit dan rusak, tidak takut kepada Allah, terang-terangan melakukan kemaksiatan, tidak peduli dengan hubungan yang menghubungkan dirinya dengan Allah, dan tidak memperhitungkan hisab (perhitungan) apapun, sehingga ia terlihat membeli kesenangan orang lain dengan murka Allah atas dirinya.

Dan berdasarkan jenis hati ini, orang-orang diklasifikasikan, dan berbagai aktivitas dilakukan. Seseorang yang mendatangi penguasa zalim dan menasihatinya, lalu ia ditangkap dan dibunuh oleh penguasa. Tentu, ini berbeda dengan seseorang yang diberi oleh Allah pengetahuan tentang hukum-hukum agama, lalu ia duduk di lantai penguasa zalim, dam membuatkannya fatwa yang membenarkan berbagai aktivitas dan kebijakan yang dilakukannya, dan seperti inilah kebanyakan mereka sekarang.

Maka yang pertama, adalah orang yang menyampaikan Islam. Apabila ia dizalimi oleh seorang penguasa zalim pada saat ia menyampaikan nasihat kepadanya, maka ia adalah syahid. Sedang yang kedua, adalah orang yang menjadikan sorban putihnya sebagai otoritas untuk mengubah kata-kata dari maksud sesungguhnya, membuat kebohongan atas nama Allah, dan memelintir nash-nash untuk memalingkan isinya, lalu disesuaikan dengan keinginannya, dalam rangka untuk menyenangkan hawa nafsu penguasa. Inilah yang difirmankan Allah SWT: "Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak akan mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih." (TQS. Al-Baqarah [2] : 174).

Dan dalam firman-Nya yang lain: "Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Qur'an, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Qur'an, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: "Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah", padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui." (TQS. Ali Imran [3] : 78).

Dan begitulah hati yang buta, yang tidak ada ketakwaan dan rasa takut kepada Allah sama sekali, sebaliknya ia dipenuhi dengan rasa takut kepada para si zalim dan para wali setan. Oleh karena itu, apabila hati telah buta, maka yang diperhitungkan pertama adalah kemarahan penguasa zalim hingga melupakan murka Allah. Sehingga pahala dan siksa akhirat terlihat remeh baginya, dan menukarnya dengan kesenangan dunia yang fana dan murah.

 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here